
Rein dan Darwin sudah berada di depan gerbang istana. Keduanya hendak masuk ke dalam istana itu untuk bertemu dengan orang yang paling Rein benci.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Darwin pada Rein.
Rein menganggukkan kepalanya. Dia sangat siap, meskipun harus mengorbankan nyawanya. Rein harus bisa membunuh pria itu. Paman yang membunuh ayahnya.
Dendam yang sudah mendarah daging di tubuh Rein. Gadis itu mengeluarkan dua pedang di kedua tangannya. Bersiap untuk menyerang para prajurit yang menghadang mereka.
Daga tengah duduk di kursi singgah sananya. Besok adalah hari dimana Rein berusia dua puluh satu tahun. Gadis itu seharusnya yang menjadi penguasa di istana itu. Namun Daga tidak peduli,dialah penguasa sesungguhnya.
"Tuan!" panggil kaki tangan Daga.
"Ada apa?" tanya Daga.
"Ada dua orang yang menyelinap masuk ke istana tuan. Keduanya tengah bertarung dengan para prajurit kita." Jelasnya.
"Siapa mereka?" tanya Daga.
"Entahlah Tuan,mereka memakai topeng di wajahnya."
"Ayo kita ke sana!" Daga ingin melihat siapa pembuat onar itu. Keduanya mungkin mengantarkan nyawa mereka pada Daga.
Pria itu memiliki kekuatan yang besar. Hingga bisa membunuh ayahnya Rein. Meski naik tahta dengan melakukan kecurangan.
Banyak penduduk yang tidak menginginkannya menjadi penguasa di istana itu.Namun mereka tidak berani melawannya.
Daga keluar dari istana, tepat ketika dia di ambang pintu. Sebuah belati kecil hampir mengenainya. Belati itu telah di lempar oleh Rein.
Daga terkejut, untungnya belati itu hanya menggores pipi kirinya. Tidak sampai melukai terlalu dalam.
Melihat para prajuritnya tumbang, Daga bisa mengira bahwa keduanya pasti memiliki kekuatan yang cukup hebat.
"Siapa kalian?" tanya Daga.
Rein mendekat ke arah Daga. Tanpa berlama-lama dia menyerang pria itu. Dia sangat marah ketika melihat wajahnya. Ingatan tentang ayahnya yang di bunuh oleh Daga membuat kebencian dalam diri Rein keluar.
Trang.
Trang.
Trang.
Bunyi pedang saling beradu terdengar. Darwin masih menghadapi kaki tangan Daga. Juga beberapa prajuritnya.
Rein menyerang dengan membabi buta. Tapi dia sedikit kurang waspada ketika tiba-tiba Daga menyerangnya dari belakang.
__ADS_1
Jreeb.
Pedang milik Daga menembus punggung Rein hingga ke depan. Gadis itu sampai memuntahkan darah dari mulutnya.
Darwin yang melihatnya tak bisa menahan diri. Dia mengeluarkan kekuatannya dan segera menghabisi orang-orang yang menyerangnya.
Lalu menuju ke Rein yang hampir tersungkur karena pedang milik Daga di cabut paksa oleh pria itu.
"Rein, bangun!" Darwin menahan tubuh Rein. Gadis itu tak sadarkan diri.
Daga tertawa puas melihat musuhnya terluka. Dia belum tahu bahwa itu adalah Rein,keponakannya.Ketika mendengar Darwin memanggilnya Rein. Barulah dia sadar siapa lawannya ini.
"Haha, ternyata kamu anak ingusan itu! Rein-Rein percuma mau membunuhku, kamu belum layak dengan kekuatanmu ini!" ucapnya menyombongkan diri.
Mata Darwin berubah merah, kuku-kuku panjangnya mulai muncul. Daga yang menyadari keanehan pada pria itu. Segera melangkah ke belakang.
"Kamu vampir?" ucap Daga. Di sana hanyalah tinggal dirinya yang masih hidup. Para prajurit juga panglimanya sudah meninggal semua.
Daga ingin kabur, karena dia tidak bisa jika melawan vampir. Namun ketika dia baru saja melangkah pergi. Darwin dengan cepat mengarahkan kuku-kuku panjangnya di leher pria itu.
"Mau kabur ya? Jangan harap!" Darwin menusuk leher Daga.
Pria itu sempat melawan dengan pedangnya. Namun kecepatan Darwin sudah di luar nalar manusia. Daga akhirnya kalah dalam pertempuran keduanya. Luka tusuk dan sayatan di sekujur tubuhnya mengalir darah segar.
Daga tersungkur ke lantai. Darwin segera membawa Rein ke tempat yang aman di istana itu.
"Rein bangun!" Teriak Darwin.
Tak ada respon dari gadis itu. Darwin mulai panik. Dia mencoba semampunya untuk menyembuhkan Rein dengan sisa kekuatan yang dia miliki.
"Rein!" Darwin mengguncang tubuh Rein. Gadis itu masih belum juga bernapas.
Darwin tertunduk lesu, gadis yang akhir-akhir ini bersamanya tiba-tiba harus meninggal di depan mata pria itu. Darwin seolah melihat masa lalu nya. Ketika teman baik juga meninggal di depan matanya.
"Kenapa? Kenapa secepat ini? Kamu bilang ingin menjadi ratu di istanamu. Sekarang kamu bisa Rein!Bangun lah!" ucap Darwin sedih.
Ketika pria itu lama tertunduk di samping tubuh Rein. Sebuah keanehan terjadi. Tubuh gadis itu melayang perlahan. Lalu dari dalam mulutnya keluar batu permata yang bersinar biru.
Darwin terkejut karena batu permata itu adalah batu biru yang menyimpan kekuatan miliknya.
"Jadi selama ini ada di dalam tubuh Rein!" ucap Darwin.
Tubuh Rein terjatuh kembali. Sedangkan batu itu di ambil oleh Darwin.Dia tengah ragu untuk mengambil kekuatannya kembali atau mengembalikan ke dalam tubuh Rein.
Jika memungkinkan gadis itu akan hidup kembali karena kekuatan dari batu permata itu.Tapi Darwin juga membutuhkannya.
__ADS_1
Ketika pikirannya teringat oleh kebersamaan mereka. Darwin tanpa ragu memasukkan batu permata itu kembali ke mulut Rein.
"Hiduplah kembali Rein aku mohon!" pinta Darwin.
Batu itu tidak mau masuk ke mulut Rein kembali.
"Kenapa tidak mau masuk?" batin Darwin bingung.
"Baiklah akan aku coba dengan cara itu!" gumamnya lalu mendekatkan dirinya pada wajah Rein.
Geo menelan salivanya melihat bibir ranum milik Rein. Lalu memasukkan batu itu dengan bantuan bibirnya. Kedua bibir mereka menyatu,diiringi dengan batu itu perlahan masuk ke tubuh Rein kembali.
Kedua mata Rein terbelalak ketika melihat wajah Darwin tak lagi berjarak dengan wajahnya. Di bibir gadis itu merasakan bibir Darwin menciumnya.
Duk
Rein mendorong keras dahi Darwin dengan dahinya. Membuat pria itu kesakitan.
"Rein kamu sudah sadar?" tanya Darwin senang.
Rein bangun dan segera mengeluarkan pedangnya hendak menyerang Darwin.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa mencium ku?" tanya Rein dengan kesal.
"Aku terpaksa!" jawab Darwin tapi Rein malah semakin marah karena ucapan itu.
Dia menyerang Darwin, pria itu dengan cepat menghindar. Tapi Rein tak mau menyerah dia menyerangnya kembali. Darwin malah tersenyum, akhirnya Rein baik-baik saja.
Darwin menghilang, Rein kebingungan mencari dimana dia.
"Keluar kamu dasar brengsek!" umpat Rein pada Darwin.
"Kamu mengambil ciuman pertamaku! Dasar Darwin mesum!" teriaknya kesal.
Darwin muncul di belakang gadis itu lalu memeluknya dari punggung. Rein tak bisa mengelak lagi.
"Lepaskan aku Darwin!" teriaknya sambil meronta.
"Benarkah tadi ciuman pertamamu?" tanyanya.
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Seharusnya kamu berterima kasih karena akulah yang menyelamatkan hidupmu,lihat ke arah jantungmu itu!" jelas Darwin di telinga gadis itu.
Rein lalu memperhatikan bajunya yang penuh dengan darah. Dia ingat telah tertusuk pedang milik pamannya. Lalu tak lagi ingat kejadian setelah itu.
__ADS_1
"Apa aku tadi pingsan?" tanya Rein. Dia sudah mulai luluh. Pedangnya mulai turun kembali.
"Kamu tidak pingsan lagi, tapi sudah tidak bernapas!" jawab Darwin. Rein terkejut dengan jawaban pria itu.Artinya dia tadi meninggal dan sekarang bisa hidup kembali.