
Ranya menangis histeris sambil berteriak di dalam penjara bawah tanah kediamannya. Dia tidak terima dengan hukuman sang ayah kepada dirinya.
"Ayah lepaskan aku! Ayah!" teriaknya tak mau berhenti.
Sayangnya tak ada yang akan menghiraukan teriakan wanita itu. Karena Tras sudah tidak peduli dengannya.
"Siapa?Siapa yang menjebak ku?" gumamnya merasa bahwa ada orang yang sengaja menjebaknya.
Tak tak tak.
Suara sepatu dari langkah seseorang terdengar di ruang yang gelap itu. Ranya segera berdiri, dia berfikir sang ayah pasti berubah pikiran dan membebaskannya.
"Ayah, Ranya tahu ayah akan berbelas kasihan pada Ranya," ucapnya. Namun dia salah mengira siapa yang datang.
Seorang wanita dengan jubah hitam dan topeng di wajahnya. Ranya merasa tidak asing dengan perawakan wanita itu. Dia dengan mudah bisa menembus besi-besi penjara di depan Ranya.
"Si,siapa kamu?" tanyanya ketakutan. Karena wanita di depannya itu memiliki aura membunuh yang kuat.
"Bukannya kamu mencari orang yang menjebak mu? Akulah orangnya?" ucap Rein.
Ranya terkejut,dia sangat mengenali suara siapa itu.
"Rein?" tanyanya.
"Benar, aku Rein. Gadis yang sering kamu siksa dulu!" Rein membuka topeng di wajahnya.
"Kamu? Kenapa kamu kembali?" sentak Ranya.
"Tentu saja merebut kembali milikku!" Rein mengangkat dagu Ranya. Wanita itu hanya bisa terdiam karena takut. Rein sungguh sangat berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu tetap akan kalah Rein! Meskipun melakukan ini padaku, para tetua itu tetap akan membunuhmu!" ucap Ranya.
Plak
Satu tamparan mengenai pipi kiri Ranya.Wanita itu merasa kesakitan di wajahnya.
"Kamu! Berani menamparku!" ucapnya.
"Kenapa? Kamu pikir aku tidak berani?" Rein kembali menampar pipi yang sebelah lagi. Berulang kali sampai wanita itu tersudut ke tembok.
"Aku bahkan berani membunuhmu!" Rein menarik kerah baju Ranya. Lalu mencekik leher wanita itu.
Ranya meronta, hingga akhirnya Rein melepaskan tangannya dari leher wanita itu.
"Uhuk uhuk uhuk!" Ranya berusaha bernapas kembali.
"Terlalu cepat jika kamu mati hari ini, akan ku buat kamu hidup segan mati tak mau," Rein menyisipkan harum transparan ke arah tenggorokan Ranya.
"Kenapa? Kenapa suaraku menghilang?" Ranya hanya bisa membatin.
"Selamat menikmati masa-masa bahagia mu Ranya," Rein kembali menembus pembatas besi di dalam penjara itu. Dia meninggalkan Ranya menderita di dalam penjara.
Ranya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Semua ingatan tentang dirinya yang dahulu menyiksa Rein terlihat jelas. Kini gadis itu membalas perbuatannya.
Rein keluar dari penjara bawah tanah itu. Di luar sana Darwin telah menunggunya. Pria itu tersenyum dingin ke arah Rein.
"Siapa target selanjutnya?" tanya Darwin.
"Tentu saja dua keluarga ini harus kita lenyap kan terlebih dahulu," ucapnya mengincar semua keluarga Tras dan Hanso. Tanpa menyisakan sedikitpun dari mereka.
__ADS_1
"Baiklah, kita buat mereka mati tanpa sadar mereka di bunuh pelan-pelan saja." Darwin memiliki rencananya.
"Terserah kamu bagaimana membunuh mereka, aku tak peduli. Asal mereka mati saja sudah cukup bagiku," ucap Rein.
Keduanya lalu pergi ke arah sumur di keluarga Tras. Darwin menaruh racun ganas yang dia miliki. Dari celah-celah kuku pria itu muncul tetesan cairan berwarna hitam. Menetes ke sumur dan mereka sudah bisa mengira apa yang akan terjadi jika orang-orang di rumah itu memakai air di sumur itu.
"Racun apa itu?" tanya Rein.
"Mau coba?" tawar Darwin.
"Tidak, biarkan mereka saja!" tolak Rein.
Keduanya segera pergi meninggalkan kediaman milik keluarga Tras.
Ketika malam tiba, semua orang di kediaman itu menikmati makan malam mereka. Semua tak memperdulikan Ranya yang sudah makan atau belum.
"Ah sakit, perutku sakit sekali!" teriak anak kedua Tras. Di susuk istrinya dan anggota keluarga yang lain juga.
"Kalian kenapa?" tanya Tras. Pria itu juga mulai merasakan sakit di perutnya.
"Perutku!" Tras mulai mengaduh kesakitan. Di dalam perutnya terasa seperti dicabik-cabik.
Tidak berselang lama, semua orang yang berada di rumah itu jatuh terkapar dan di mulutnya mengeluarkan busa. Satu persatu mati perlahan di tempatnya.
Hanya beberapa pelayan yang belum makan ataupun minum air dari sumur yang masih hidup. Mereka ketakutan dan satu persatu kabur dari kediaman itu.
Yang terakhir jatuh terkapar adalah Tras. Dia tak sempat meminta tolong. Pria itu sudah tidak lagi bernapas.
Hanya dalam satu hari keluarga itu musnah. Tanpa meninggalkan satupun yang tersisa.
__ADS_1
Ranya pun sudah tak bernyawa di penjara bawah tanah.Karena luka di tenggorokannya semakin parah.
Rein tersenyum puas mendengar berita kematian satu keluarga itu.Tinggal keluarga yang lainnya yang akan menyusul mereka.