Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Penolakan


__ADS_3

Pangeran Kun tengah duduk di taman istana. Dia mengagumi tatanan istana milik Rein. Membandingkan dengan istana yang dia tinggali di negaranya. Jauh lebih indah di tempat ini.


"Yang mulia," sapa seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari pangeran Kun. Panggilan itu untuk memberi hormat pada Rein.


Pangeran Kun lalu membalikkan badan untuk menyapa calon istrinya. Hari ini mereka akan menikah. Pangeran Kun akan membawa Rein ke negaranya.


"Ratu ku, kamu sangat cantik hari ini," ucapnya ketika Rein sudah berada di depan pangeran Kun.


Rein yang mendengar pujian pria itu ingin sekali muntah. Dia sangat jijik padanya. Meskipun tampan, tapi pangeran Kun terkenal dengan sebutan pangeran pemain wanita.


Dia sering bergonta-ganti wanita untuk melayaninya. Mereka hanya di jadikan budak cinta olehnya.


"Simpan kata-kata menjijikkan mu itu!" pinta Rein sarkas.


"Jangan kasar-kasar dong calon istriku," Pangeran Kun mendekat ke arah Rein. Lalu menarik telapak tangan gadis itu. Dan mencium punggung tangan Rein.


Rein segera menarik lengannya, dia merasa risih atas perlakuan Kun.


"Jangan lakukan hal itu.Juga jangan memanggilku calon istrimu. Kamu, pangeran Kun, jangan lupa bahwa sekarang aku bukan seorang putri namun seorang ratu. Penguasa negeri ini, semua keputusan ada pada tanganku. Termasuk siapa yang berhak menikah denganku," jelasnya.


"Jadi siapa yang harus menikah denganmu, kalau bukan aku?" tanya pangeran itu.


"Tentu saja aku memiliki calon sendiri," jawab Rein.


Ketika mengatakan hal itu, Darwin keluar dari tempatnya bersembunyi. Dia berjalan menuju ke arah Rein dan pangeran Kun.


Darwin tampak gagah dan tampan. Sejenak Rein terpana oleh ketampanan pria itu.


"Dia lah pria itu," ucap Rein.


Pangeran Kun memperhatikan Darwin dari ujung kepala hingga kaki.


"Pangeran dari mana dia? Kenapa sepertinya aku tidak pernah melihatnya?" tanya pangeran Kun.


"Aku Darwin pangeran dari negara Fanlin." Darwin mencoba mengenalkan diringa.


"Negara Fanlin, dimana itu?" jelas saja pangeran Kun tidak tahu. Karena negara itu adalah negara beda dimensi dengan manusia.


"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas. Kembali lah ke negara mu dan tunjukkan ke mereka bahwa kita tidak ada perjanjian pernikahan lagi." Rein menyela pembicaraan dua pria di hadapannya ini.


"Jika aku menolak membatalkan perjanjian pernikahan ini. Bagaimana?" tanya pangeran Kun.


"Apa maksud kamu?" tanya Rein kesal. Pria di depannya ini ingin mengingkari kata-katanya.


"Siapa yang mengira. Kalau pria bernama Darwin ini hanyalah pengawal pribadimu. Yang kamu minta untuk berpura-pura menjadi kekasihmu," ucapnya.

__ADS_1


Sepertinya pangeran Kun bukan pria yang bodoh. Rein bisa melihat dari caranya menebak.


"Apa yang kamu mau untuk membuktikan bahwa aku adalah kekasihnya?" tanya Darwin. Kali ini pria itu tidak ingin hanya diam.


"Tentu saja sesuatu yang sering sepasang kekasih lakukan. Jika benar kamu kekasihnya, maka aku akan benar-benar mundur dari pernikahan ini. Tapi jika tidak aku akan membunuh calon suamimu ini!" ancam pangeran Kun pada Rein.


"Kamu! Beraninya kamu mengancam ku!" Rein mulai terbawa emosi.


"Baik aku setuju!" ucap Darwin. Rein langsung menatapnya tajam. Ingin memarahi pria itu.


"Darwin apa yang kamu lakukan? Jangan pedulikan dia!" ucap Rein.


"Tenanglah, ratu ku!" Darwin berjalan mendekati Rein.


"Ap,apa yang kamu lakukan?" Rein mulai gugup.


"Jangan gugup! Nikmati saja," bisik Darwin di telinga Rein.


Pangeran Kun penasaran, hal apa yang hendak Darwin lakukan pada Rein.


Tiba-tiba Darwin mencium bibir Rein lembut. Kali ini dengan hati-hati dan seolah keduanya menikmati. Rein seperti larut dalam permainan Darwin.


Pangeran Kun kesal melihat adegan itu. Ternyata memang keduanya sepasang kekasih. Terlihat mereka saling mencintai ketika berciuman.


Dia mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan pedang itu pada Darwin.


"Awas!" Rein menangkis pedang pangeran Kun dengan dua belati transparan miliknya.Lalu sekuat tenaga mendorong pangeran itu untuk mundur.


Darwin segera membantu Rein. Dia kini yang menyerang pangeran Kun. Pertarungan tak terhindari.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rein pada pangeran Kun ketika keduanya mengambil jeda.


"Jika dia pria pilihanmu, maka harus mati di tanganku!" ucapnya lalu kembali menyerang Darwin.


Darwin dengan senang hati meladeni pangeran Kun. Baginya pangeran itu hanya banyak bicara saja. Kemampuannya masih jauh dari dirinya.


"Huh huh huh, kenapa dia tidak terlihat kelelahan. Sedangkan aku sudah hampir kehabisan tenaga," gumam pangeran Kun.


"Kenapa berhenti?" tiba-tiba Darwin sudah berada di dekatnya.Dia terkejut, Darwin menusuk pangeran Kun dengan pedang di tangannya tepat mengenai perutnya.Lalu menarik sekuat tenaga pedang yang telah tertancap.


"Ka,kamu bagaimana bisa?" pangeran Kun tersungkur di tanah.


Rein sudah terbiasa melihat adegan berbahaya itu dari Darwin.


"Apa dia sudah meninggal?" tanya Rein mendekat ke tubuh pangeran Kun.

__ADS_1


"Dia hanya pingsan," jawab Darwin.


"Baguslah, kita segera kirim dia ke negaranya," pinta Rein.


"Tidak perlu di kirim, sebentar lagi para prajuritnya datang. Mereka hendak menyerang perbatasan." Darwin bisa melihat dengan mata batinnya.


"Benarkah?"


"Yang Mulia,ada kabar buruk!" tetua Tan hendak memberi kabar,namun dia malah terkejut melihat pangeran Kun yang bersimbah darah di tanah.


"Pangeran Kun, Yang Mulia,dia?" pria paruh baya itu ketakutan.


"Tetua Tan tenang saja. Dia hanya pingsan. Ada kabar buruk apa?" tanya Rein.


"Prajurit negara dari pangeran Kun datang. Mereka hendak menyerang prajurit kita di perbatasan," jelasnya.


Rein menatap Darwin, pria itu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kita lawan saja. Perintahkan semua prajurit untuk bersiap perang. Serta bawa pangeran Kun ke perbatasan juga!" perintah Rein.


"Baik yang mulia," tetua Tan segera undur diri sambil membungkukkan badannya.


Rein berbalik badan, dia melangkah terburu-buru. Darwin mengejarnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Darwin menghentikan langkah Rein.


"Tentu saja memimpin peperangan," jawabnya.


"Tidak perlu, biarkan para panglima mu yang berperang. Kamu cukup di istana saja!" cegah Darwin.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Rein.


"Kamu seorang ratu, untuk apa di medan perang. Sudah ikut saja denganku!" Darwin menarik lengan Rein. Mengajak gadis itu entah kemana.


"Kita mau kemana?" tanya Rein.


Darwin tidak menjawabnya, tapi membawa gadis itu ke kamar milik Darwin.


Lalu segera menguncinya di dalam kamar. Setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka.


"Kenapa membawa ku ke kamarmu?" tanya Rein panik.


"Menurutmu apa lagi yang bisa di lakukan oleh kita?" tanya Darwin dengan wajah penuh semangat.


"Jangan-jangan dia hendak melanjutkan ciuman tadi? Oh tidak aku belum siap?" batin Rein ketika Darwin mendekatkan ke wajahnya.

__ADS_1


Rein menutup mata,dia sangat gugup kali ini. Pikirannya melaju entah kemana tentang hubungan pria dan wanita. Ketika dia di zaman modern dahulu,Rein belum pernah sekali pun berciuman. Dan sekarang Darwin hendak menciumnya kembali.


Jantung gadis itu sudah tak lagi berdetak setenang biasanya. Keringat dingin perlahan jatuh dari dahinya.


__ADS_2