Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Rumi Telah Kembali


__ADS_3

Rein kembali sadar, dia menatap tubuh Rumi. Lalu beralih ke Darwin. Menatap pria itu yang tampak kebingungan.Rein lalu berjalan mendekat ke tubuh Rumi.


"Ada apa Rein?" tanya Darwin.


"Kamu sebenarnya tahu kan ada jiwa Rumi di dalam tubuhku?" tanya Rein tanpa memandang wajah Darwin.


"Ya, aku mengetahuinya," jawab Darwin.


"Jadi waktu itu, saat kamu mencium ku. Sebenarnya ciuman itu untuk Rumi?"tanya Rein. Kali ini dia berani menatap wajah Darwin. Pria itu hanya diam tidak memberi jawaban segera.Rein bisa mengerti jawabannya dari wajah pria itu.


"Sudahlah, aku tidak ingin kamu menjawabnya,"ucap Rein. Gadis itu tampak kecewa pada Darwin.


Atau hanya Rein yang terlalu berharap lebih saja. Gadis itu duduk di sebelah tubuh Rumi. Kedua matanya lalu terpejam. Berkonsentrasi untuk mengeluarkan batu permata milik Rumi.


Beberapa menit kemudian dari mulut gadis itu keluar batu permata berwarna putih milik Rumi. Rein segera menaruhnya ke mulut Rumi.


Perlahan batu itu masuk ke dalam tubuh Rumi. Menyatu di bersama tubuh itu. Kedua mata Rumi mulai terbuka. Dia sepenuhnya telah kembali ke tubuh aslinya.


"Akhirnya aku hidup kembali," ucap Rumi yang sudah duduk di depan Rein.


"Rumi!" tiba-tiba Darwin mendekap penuh kasih gadis di hadapan Rein.


Rein merasa hancur berkali-kali. Dia seharusnya senang karena Darwin menemukan pasangannya kembali. Tapi nyatanya hatinya perih seperti tertusuk belati miliknya.


"Darwin!" Rumi juga membalas pelukan pria itu. Rein merasa menjadi pengganggu di antara mereka.Dia memutuskan untuk segera pergi saja.


"Aku pergi dulu," ucapnya,tapi Rumi dan Darwin tidak mendengar gadis itu. Keduanya lupa bahwa masih ada Rein di sana.


Rein pergi dengan air mata yang mulai berlinang. Meski dia mencoba tegar dan menghapusnya. Namun tetap saja tidak bisa merubah bahwa hatinya memang sesakit itu.


"Rein, jangan menangis Rein!" ucapnya pada diri sendiri.


Ketika dia sudah jauh dari keduanya. Rein terduduk di atas rerumputan. Dia melihat tanda hitam di tangannya. Tanda itu sudah terhapus satu.


Rein kini tahu maksud dari tanda itu. Jiwa Rumi sudah keluar dari tubuhnya. Berarti hanya ada satu jiwa saat ini di dalam tubuh Rein.


Uhuuk!" Rein tiba-tiba batuk dan dari mulutnya mengeluarkan darah segar. Rein sedikit ketakutan karena hal itu.


"Kenapa ini?" tanyanya.


"Apakah ini akibat mengeluarkan paksa jiwa Rumi tadi. Tubuh ini tidak kuat menahan efeknya?" batin Rein.


Ketika dia hendak membersihkan darahnya. Tanda hitam di tangan Rein memudar. Tak lagi berbentuk bulat sempurna.

__ADS_1


"Kenapa lagi ini? Apa mungkin jiwa ku mulai tergerogoti?" gumamnya.


"Hahahaha, untuk apa aku khawatir. Lagi pula tidak ada yang akan menangis jika kehilangan diriku?" ucap Rein tidak mau bersedih atas apa yang akan terjadi padanya.


Rumi dan Darwin melepas pelukan mereka. Rumi ingin mencium pria itu. Namun Darwin teringat oleh Rein, dia menolak berciuman dengan Rumi.


"Jagalah sikapmu," ucap Darwin. Rumi tampak terheran dengan sikap Darwin kali ini. Dia sangat berbeda dengan Darwin yang dia kenal dulu.


"Kenapa Darwin? Apa kamu tidak merindukan ku?" tanya Rumi.


"Aku merindukanmu, tapi di sini bukan hanya ada kita saja. Ada Rein di sana!" Darwin menunjuk ke arah Rein yang duduk tak jauh dari mereka tadi.


Pria itu kebingungan mencari dimana Rein. Gadis itu tidak ada di dekat mereka.


"Rein!" Darwin berdiri untuk mencari dimana Rein. Dia meninggalkan Rumi di sana sendirian.


"Rein!" panggil dia lagi. Sambil berjalan ke sisi yang lain.


"Kenapa dia berubah? Apa karena dia sudah jatuh cinta pada gadis itu?" gumam Rumi yang di tinggalkan sendirian.


Ketika Darwin berjalan lumayan jauh dari tempat mereka tadi. Dia melihat Rein yang terduduk di hamparan rumput. Darwin mendekatinya.


"Rein? kamu baik-baik saja?" tanya Darwin memegang pundak Rein. Gadis itu segera menyembunyikan tangannya yang terdapat darah.


"Ada apa di tanganmu? Apa kamu terluka?" tanya Darwin.


"Ah tidak hanya sedikit kotor saja." Rein segera mengusapnya ke rerumputan. Lalu pura-pura baik-baik saja dan tersenyum ke arah pria itu.


Rein tampak mencari seseorang di balik badan Darwin.


"Dimana Rumi?" tanyanya. Sebenarnya dia tidak ingin peduli dengan gadis itu.


"Oh dia ada di sana tadi. Ayo kita pulang!" Ajak Darwin pada Rein, tangan pria itu mengulur ke arah Rein.Gadis itu menerima tangannya lalu bangun dari rerumputan.


"Ayo kembali ke istanamu!" ajaknya. Darwin memegang tangan Rein.


"Tunggu Darwin," Rein menarik tangannya.


"Kenapa?" pria itu mengernyitkan keningnya.


"Sebaiknya kamu temani Rumi saja. Aku bisa kembali ke istana sendirian."


"Dia baik-baik saja, kenapa harus menemaninya?" tanya Darwin.

__ADS_1


"Tetaplah di sini! Aku bisa pulang sendiri," ucap Rein, tanpa jawaban dari Darwin. Rein segera melakukan teleportasi. Setelah dia melepaskan tangan pria itu.


"Rein!" teriak Darwin kesal. Dia tidak tahu mengapa tiba-tiba gadis itu berubah seperti ini


"Ada apa dengan dia?" gumamnya bingung.


Rein sudah tiba di kamarnya dengan cepat. Dia langsung menghempaskan tubuhnya yang lelah ke ranjang miliknya.


Rasa lelah membuatnya mengantuk. Dia tertidur tanpa sempat membersihkan dirinya hingga malam tiba.


Ketika esok pagi, hiruk pikuk di luar kamar Rein terdengar sangat mengganggu gadis itu. Rein menutup kedua telinganya agar tidak mendengarnya.


"Aaah apa sih? Berisik sekali!" Rein terpaksa harus bangun. Dia menatap ke arah pintu kamarnya. Beranjak dari ranjang dan membuka pintu itu.


"Ada apa sih? Kenapa berisik sekali?" teriak Rein dari ambang pintu kamar gadis itu.


"Yang mulia," sapa mereka.


"Ada apa ini?" Kenapa kalian sangat berisik?" tanya Rein.


"Maaf yang mulia, tapi cepatlah ke luar dari istana ini. Di luar ada banyak sekali hadiah untuk yang mulia?" ucap pelayan pribadi Rein.


"Hadiah?" Rein tidak merasa membeli banyak hadiah untuk di antar ke istana.


"Benar yang mulia," pelayan itu segera membantu Rein merapikan pakaiannya. Keduanya lalu menuju ke luar istana. Para pengawal dan juga pelayan yang ada di sana sudah sibuk bertanya-tanya tentang hadiah-hadiah itu.


Ketika Rein tiba, mereka memberi hormat pada gadis itu.


"Hormat pada yang mulia Rein," ucap mereka serentak.


"Bangunlah," Rein tidak suka jika membungkuk terlalu lama.


Kedua matanya membelalak ketika melihat banyak sekali peti hadiah di hadapan istananya.


"Siapa yang mengirim hadiah-hadiah ini?" tanya Rein.


"Ampun yang mulia, kami tidak tahu siapa pengirimnya." Jawab mereka.


Tiba-tiba dari arah depan Rein, pangeran Guen muncul. Dia tampak menggunakan pakaian yang rapi dan terlihat gagah.


"Hadiah-hadiah ini dari ku, apa kamu menyukainya?" tanya pangeran Guen.


"Apa? Dari mu?" Rein tidak menyangka pangeran Guen sekaya ini. Dia hanya bisa terdiam di tempatnya. Memandang hadiah-hadiah itu dengan tatapan bingung.

__ADS_1


__ADS_2