
Rein menatap pangeran Guen dengan tatapan bingung. Kenapa pria itu tiba-tiba membawa hadiah sebanyak itu.
"Ini semua untuk apa?" tanya Rein pada pangeran itu.
Pangeran Guen lalu mendekati Rein, lalu memegang kedua tangan gadis itu.
"Meskipun pria bernama Darwin itu pilihanmu. Tapi aku tetap akan setia menunggu mu Rein, percayalah cinta ku pada mu sangatlah tulus," ucapnya seperti tengah membaca puisi. Rein yang mendengarnya merasa jijik. Tapi dia akui pria itu sangatlah berani. Menyatakan perasaannya berulang kali pada Rein.
Hanya saja,caranya yang terlalu ekstrem seperti hari ini.Rein hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Hatinya kini tengah kosong, karena pria yang dia inginkan. Tidak menginginkannya. Rein tampak sedih,pangeran Guen bisa melihatnya.
"Yang mulia Rein, apa aku salah berucap? Kenapa kamu tampak sedih hari ini?" tanya pangeran itu. Rein segera melepas tangannya dari tangan Guen.
"Aku baik-baik saja. Perintahkan orang untuk membawa kembali barang-barang itu pulang ke rumahmu. Aku tidak mau menerimanya!" ucap Rein tegas.
"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?" tanyanya.
Rein menatap pangeran Guen dengan tatapan kesal.
"Baiklah-baiklah,aku mengerti.Aku akan membawanya kembali ke kediamanku," ucap pangeran Guen takut melihat sorot mata gadis di depannya itu.
Rein segera pergi meninggalkan Guen. Dia kembali ke kamarnya. Berjalan lurus ke arah cermin di dalam kamar itu.
Pantulan dari tubuhnya pada cermin itu tampak nyata dan cantik. Rein mengakui bahwa tubuh yang dia miliki saat ini lumayan cantik.
"Sayang sekali, kecantikan mu ini sia-sia saja," gumam Rein.
Dia kembali teringat Darwin dan Rumi. Membayangkan keduanya semalam tengah memadu kasih membuat gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Sudah-sudah jangan memikirkan mereka. Lebih baik melatih diri agar kekuatanmu semakin meningkat," gumamnya lagi. Rein ingin menjadi gadis yang kuat. Agar dia bisa mencari cara kembali ke jaman modern.
Gadis itu duduk dan memulai memfokuskan kekuatan miliknya yang tersisa. Meski lebih sedikit karena telah kembali ke tubuh Rumi. Tapi Rein masih memiliki kekuatan yang di tinggalkan oleh Darwin padanya.
Meski Rein tidak tahu bahwa itu adalah kekuatan milik Darwin.
"Uhuuuk!" lagi-lagi Rein memuntahkan darah dari mulutnya. Kali ini lebih banyak dari sebelumnya.
"Kenapa ini? Apa aku terlalu memaksanya diri ini?" tanya Rein.
"Uhuuk uhukk!" tak hanya sekali, darah itu kembali keluar dari mulut Rein.
__ADS_1
Gadis itu memperhatikan tanda di tangannya, perlahan mulai memudar. Kini tanda itu semakin sedikit.
"Apa aku benar-benar akan mati?" tanya Rein.
"Siapa yang akan mati?"tanya Darwin yang baru muncul pagi ini di depan Rein.
Rein tidak sempat menyembunyikan darah dari tangan dan sisanya di bibir. Darwin sudah melihatnya terlebih dahulu.
"Kamu muntah darah?" tanya Darwin khawatir. Dia menyentuh sudut bibir Rein dan menghapus darah yang tertinggal di sana.
"Kenapa Rein? Dimana yang sakit?" tanya pria itu lagi.
"Tidak ada!" Rein menyingkirkan tangan Darwin dari bibirnya. Dia tidak ingin pria itu mengganggu hidupnya lagi.
Tanpa Rein tahu, sebenarnya semalam pria itu datang ke kamarnya. Memastikan Rein baik-baik saja di istana gadis itu.
Dan dia kembali ke istananya ketika melihat Rein sudah tertidur. Darwin tidak memadu kasih dengan Rumi. Dia malah meninggalkan Rumi sendirian di hamparan bunga.
"Rein kamu kenapa selalu menghindari ku?" tanya Darwin bingung dengan tingkah gadis di depannya itu. Kini Rein malah memunggungi Darwin.Tidak mau menatap pria itu.
"Kenapa malam membelakangi ku?" tanya Darwin makin kesal. Dia berpindah ke depan Rein. Agar bisa memandang wajahnya.
Tapi Rein kembali membalikkan badan. Tidak ingin melihat wajah Darwin. Pria itu menghela napas berat. Dia bingung menghadapi Rein.
"Kalau tidak kenapa tidak mau menatapku?" tanyanya lagi.
"Apa kamu cemburu karena aku bersama dengan Rumi?" tebak Darwin. Rein membelalak, kenapa tiba-tiba Darwin menebaknya.
"Tidak!" jawab Rein.
"Benarkah?" goda Darwin.
"Benar, cepatlah pergi! Aku sedang sibuk hari ini!" ucapnya.
Darwin tidak peduli Rein mengusirnya. Dari belakang,Darwin tiba-tiba memeluk punggung Rein.
"Jangan marah lagi! Aku dan dia hanyalah masa lalu. Sekarang sudah berbeda. Aku tidak lagi memiliki perasaan padanya," jelasnya tanpa Rein minta. Gadis itu hanya terdiam. Namun dalam hatinya dia sangat senang.
"Aku tidak peduli, pergi sana!" Rein melepaskan tangan Darwin pada tubuhnya.Juga menyuruh pria itu untuk segera pergi dari kamarnya.
Darwin hanya bisa menuruti keinginan gadis itu. Rein membalikkan badan ketika Darwin sudah pergi.
__ADS_1
"Benarkah tidak menyukai Rumi lagi?" gumam Rein tidak percaya.
Rumi berjalan menyusuri rumah para penduduk. Dia berjalan seorang diri. Banyak pria hidung belang yang menatapnya dengan menjijikkan. Rumi tidak ingin peduli.
Langkah wanita itu terhenti saat melihat sosok pria yang sangat dia kenal. Zeun menarik sudut bibirnya keatas. Dia mendekati Rumi, wanita itu tampak waspada.
"Selamat datang Rumi,akhirnya kamu hidup kembali," ucap Zeun.
"Jangan mendekat!" ucap Rumi pada Zeun.
"Jangan takut, aku tidak akan macam-macam padamu," ucapnya.
Rumi mulai mengendurkan kewaspadaannya.
"Datanglah ke istana, jika kamu punya banyak waktu.Kita bisa menikmati teh bersama!" ajaknya.
"Jangan harap!" ucap Rumi.
Zeun tidak terkejut dengan jawaban itu. Dia sudah terbiasa mendapatkannya dari Rumi dahulu.
"Apa aku masih sama di hatimu Rumi?" tanya Zeun.
"Selamanya tidak akan berubah!" jawabnya.
"Tapi pria yang kamu sukai, dia mulai berubah. Dia menyukai gadis itu," Zeun mulai memanasi Rumi.
"Itu hanya pikiranmu, Darwin masih mencintaiku seperti dulu."
"Hahaha," Zeun tertawa, dia berjalan mengitari Darwin.
"Jangan munafik Rumi, kamu juga tahu kan bagaimana perasaan Rein?" tanya Zeun.
Rumi terdiam cukup lama. Dia mencerna ucapan Zeun. Rumi juga menyadari itu saat berada dalam tubuh Rein dahulu. Gadis itu sepertinya memang menyukai Darwin.
"Jangan banyak bicara!" Rumi segera melangkah pergi dari tempat itu. Meninggalkan Zeun di sana.
"Sampai berapa kehidupan lagi Rumi? Kamu masih saja belum menerimaku? Apa kelebihan vampir itu hingga kamu menyukainya?" gumam Zeun.
Dia telah menunggu lama untuk hari ini. Kembalinya Rumi sudah dia perkirakan. Karena sejak awal dialah yang mengatur semuanya.
Zeun pula yang menjadikan ayah Rein tangan kanannya. Lalu membuat pria itu seolah terbunuh oleh saudara mereka. Semua itu adalah rencana Zeun.
__ADS_1
Mempertemukan Rein dan Rumi dalam satu tubuh. Dan membiarkan jiwa Rumi menghisap jiwa Rein secara perlahan. Untuk memaksa batu permata milik Darwin keluar dari tubuh Rein dan Zeun akan merebutnya.
"Permainan akan segera di mulai? batinnya sambil tersenyum keji. Zeun adalah musuh utama Darwin. Pria itu tidak ingin melihat Darwin bahagia sedikitpun. Jika pria itu menyukai Rein. Maka gadis itu target Zeun berikutnya. Mengambil paksa Rein dari Darwin.