Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Menggigil Bersama


__ADS_3

Darwin mencari sesuatu di dalam tas milik Rein. Ada jaket yang dia masukan di sana.


"Jaketnya tidak basah,bagus dia bisa memakai ini!" gumam Darwin.


Dia lalu menuju ke tubuh Rein yang dia baringkan tak jauh darinya. Menatap gadis itu yang mulai menggigil.


"Gimana nih?" Darwin bingung harus berbuat apa. Rein belum juga sadarkan diri.Tubuhnya semakin dingin saja.


"Haruskah aku yang menggantikan bajunya?" tanya Darwin pada dirinya sendiri.


Kedua tangannya menuju ke kancing baju gadis itu. Ragu-ragu dia hendak melakukannya. Namun bagaimana lagi, dia tidak ada pilihan lain.


Darwin membuka satu persatu kancing Rein. Dia hanya bisa menelan salivanya melihat pemandangan indah itu.


"Tahan Darwin, tahan! Jangan sampai tergoda!" batin Darwin ketika membuka baju Rein.


Setelah kemejanya terbuka, Darwin mengambil kemeja itu. Lalu memakaikan jaket yang tadi dia ambil dari tas ransel milik Rein.


"Huft! Akhirnya selesai juga." Darwin menghela napas panjang ketika selesai mengganti pakaian Rein. Kemeja gadis itu dia peras dan membentangkannya. Agar besok bisa kering.


Sedangkan Darwin juga membuka pakaiannya agar tidak kedinginan. Baju mereka sudah sangat basah.


Darwin melihat wajah Rein yang mulai nyaman karena tubuhnya perlahan mulai hangat.


"Maaf Rein aku melihat semuanya," ucap Darwin merasa bersalah telah melihat harta berharga gadis itu. Tapi siapa lagi yang harus menggantikan bajunya jika tidak Darwin.


Mungkin saja Rein tidak akan tertolong karena menggigil kedinginan.Darwin berjalan-jalan di dalam rumah tua itu. Mencari sesuatu barangkali ada benda yang bisa mereka pakai saat ini.


Sambil menunggu esok datang dan hujannya reda. Keduanya terpaksa bermalam di rumah kosong itu malam ini.


Di tempat camping,anehnya hujan tidak turun. Murid-murid yang tadi melakukan penjelajahan sudah kembali dalam keadaan basah kuyup. Mereka segera mengganti pakaiannya.


Rora mencari Rein di area camping. Namun gadis itu belum terlihat sejak tadi.


"Pak Ilham!" panggil Rora.


"Ya Rora, ada apa?" tanya pak Ilham.


"Rein dan Darwin belum kembali? Apakah mereka tersesat pak?" tanya Rora.


Pak Ilham lalu mencari mereka di antara anak didiknya. Benar saja keduanya belum juga kembali.


"Anak-anak!" panggil pak Ilham. Semua yang ada di sana menatap guru itu.

__ADS_1


"Ada apa pak?" tanya salah satu diantara mereka.


"Apa kalian tadi melihat Rein dsn juga Darwin? Mereka belum kembali," tanya pak Ilham.


Para muridnya saling menatap satu sama lain. Mereka terakhir melihat keduanya, saat sebel mereka melakukan penjelajahan tadi.


"Kami tidak melihat mereka pak," jawab mereka bergantian.


"Benar, di dalam perjalanan tadi juga tidak melihat mereka!" jawab yang lain lagi.


"Wah jangan-jangan mereka berdua tersesat di dalam hutan sana?" mereka mulai panik.


"Tenang dulu, kalian bisa beristirahat. Kita akan mencari mereka besok pagi.Jika ke dalam hutan malam hujan, tidak mudah mencari mereka." Ucap pak Ilham menenangkan para muridnya.


"Baik pak!" Mereka akhirnya bisa tenang. Tapi tidak dengan Rora.


"Pak gimana dengan Rein? Saya takut dia kenapa-kenapa?" tanya Rora khawatir.


"Kamu tenang dulu Rein. Nanti saya dan pak Ren akan mencari mereka. Kamu beristirahat saja di sini," jawan pak Ilham.


"Saya mau ikut mencari mereka pak!" pinta Rora.


"Jangan, terlalu berbahaya," larang wali kelas itu pada Rora.


Suara guntur dan hujan yang semakin deras membuat udara di sekitar hutan semakin dingin. Rein dan Darwin sama-sama kedinginan.


Perlahan Rein mulai sadar, dia melihat Darwin yang tidak memakai baju atasannya. Sedangkan dirinya sudah berganti pakaian.


"Hah, apa yang kamu lakukan?" teriak gadis itu.


"Apa lagi? Mengganti baju yang basah itu lah! Kalau tidak kamu akan semakin kedinginan," ucapnya. Darwin menggosok kedua tangannya agar merasa hangat.


"Kamu?Kamu yang menggantinya?" tanya Rein tidak percaya.Darwin menganggukkan kepala. Rein semakin malu, ada pria yang telah melihat bagian tubuhnya.


"Tenanglah milikmu itu terlalu kecil. Aku tidak akan tergoda!" ucap Darwin membuat Rein semakin kesal.


"Apa? Kamu bilang kecil? Hei setidaknya aku lebih baik dari para gadis-gadis itu!" protes Rein. Miliknya tidaklah kecil, hanya Darwin saja yang mengatakan itu kecil.


Keduanya terdiam karena rasa canggung diantara mereka.Rein tiba-tiba merasa semakin kedinginan, padahal dia sudah memakai jaket. Melihat ke arah Darwin, pria itu juga kedinginan. Karena dia tidak memakai bajunya.


"Darwin,apa kamu tidak membawa baju lain lagi?"tanya Rein. Darwin menggelengkan kepalanya.


Tidak ada kain ataupun handuk di dalam rumah kosong itu.

__ADS_1


"Rein!" tiba-tiba Darwin berdiri dan memanggil nama gadis itu. Membuat Rein terkejut.


"Kenapa?" tanya Rein panik. Pasalnya Darwin bertingkah aneh.


"Ayo berpelukan, udara di sini semakin dingin! Aku tidak mau mati kedinginan!" ucapnya.


"Hah berpelukan?" tanya Rein bingung. Tanpa persetujuan gadis itu, Darwin langsung memeluk Rein dari belakang.


"Ah!" Rein terkejut tanpa sadar berteriak.


"Maaf, aku sangat kedinginan!" ucap Darwin dari belakang tengkuk Rein. Gadis itu merasa sedikit geli karena nafas dari Darwin.


"Ya, tidak apa-apa. Setidaknya kita akan melewati malam seperti ini," jawab Rein.


"Oh iya, benarkah yang kamu ceritakan tentang dunia vampir itu?" tanya Darwin teringat dengan cerita Rein tadi.


"Ya, dan rumah ini pun ada dalam dunia vampir itu. Aku bertemu dia di sini untuk pertama kalinya," jelas Rein kembali teringat oleh Darwin miliknya.


"Apa mungkin aku adalah Darwin dari dunia vampir itu?" batin Darwin sambil mendengar Rein bercerita.


Darwin semakin erat memeluk punggung Rein.Jantung Darwin berdetak lebih capat lagi saat ini. Untungnya Rein memakai jaket yang lumayan tebal. Jika tidak mungkin dia bisa merasakan jantung pria itu.


Tubuh mereka perlahan mulai hangat. Keduanya tidur dalam keadaan duduk berpelukan.Hingga pagi tiba, Rein terbangun terlebih dahulu. Dia melihat tangan Darwin masih berada di perutnya.


"Darwin! Bangunlah!" pinta Rein pada pria itu. Darwin membuka matanya perlahan. Melihat ke luar jendela rumah itu. Hari sudah terang dan hujan pun sudah berhenti.


"Sudah pagi?" Darwin melepaskan pelukannya. Keduanya segera berdiri.


Darwin memakai bajunya yang sudah kering. Rein juga begitu, dia berganti pakaian di depan Darwin.


"Hei! Kenapa membuka di sini?" Darwin segera menutup matanya.


"Hah, kamu bilang tidak akan tergoda kan? Lagi pula kamu juga sudah melihatnya," ucap Rein santai. Dia dengan cepat memakai kemeja gadis itu. Lalu menyimpan jaketnya ke dalam ransel kembali.


"Sudah selesai!" Rein meminta Darwin membuka matanya.Darwin menghela napas panjang. Dia juga pria normal, jika setiap hari di perlihatkan hal-hal seperti ini. Dia juga akan menjadi singa yang kelaparan.


"Ayo kita kembali ke tenda!" Ajak Rein.


"Baiklah, tapi apa kamu tahu jalan keluar dari tengah hutan ini?" tanya Darwin.


"Jika hutan ini memang sama dengan yang ada di dunia vampir itu. Maka aku bisa menemukan jalan keluarnya," jawab Rein dengan wajah serius.


"Baiklah, mari kita coba!" Keduanya segera keluar dari rumah kosong itu. Mencari jalan menuju ke area camping mereka.

__ADS_1


__ADS_2