
Hito dan Nadia turun dari mobil, di ikuti Naren di belakang mereka. Ketiganya tengah berada di ruang parkir sebuah sekolah dasar di kota itu.
Naren hari ini mulai bersekolah di sana. Di hari pertama, sebagai orang tua Naren, Nadia dan Hito mengantarnya sampai di kelas.
Sebelumnya Nadia yang kritis akhirnya sudah boleh pulang sepenuhnya. Hubungannya dan Hito mulai membaik. Wanita itu memilih memberi kesempatan kedua bagi Hito.
"Naren, kamu masuk ke kelas dulu ya, jangan takut. Di sana banyak teman-teman baru! ucap Hito.
"Iya pa," jawab anak itu dengan wajah polosnya.
Naren lalu segera masuk ke dalam kelas bersama dengan para murid yang lain. Dia tampaknya cukup cepat berinteraksi dengan teman-temannya.
Hito dan Nadia pergi keruang administrasi untuk menyelesaikan pembayaran sekolah Naren.
Di dalam kelas ketika jam istirahat tiba.Naren berkumpul bersama teman-temannya. Dia mulai berkenalan dengan mereka.
"Hai, siapa namamu?" tanya Naren pada anak gadis seusianya. Dia hanya diam ketika semua teman mendekati Naren untuk berkenalan.
Naren pun akhirnya penasaran dengan gadis kecil itu. Dia mendekatinya terlebih dahulu untuk mengetahui namanya.
"Naren!" panggil Tio, teman sebangkunya.
"Kenapa Tio?" tanya Naren.
"Jangan terlalu dekat dengannya!" larang Tio pada Naren.
"Kenapa memangnya?" tanya Naren.
"Dia itu ayahnya seorang preman!" balas Tio. Naren tampak terkejut sekaligus tidak percaya.
"Masak sih?" tanya Naren.
"Iya, kamu jangan dekat-dekat dia ya!" pinta Tio.
Naren tidak membalasnya, dia hanya diam sambil mengamati gadis kecil itu. Sang gadis hanya menatapnya dengan wajah dingin.
Di kelasnya Rein,gadis itu mengacak rambutnya karena frustasi. Hasil ujian matematikanya masih sama seperti sebelumnya. Dia kena tegur lagi oleh pak Ren.
"Darwin, gimana ini?" ucapnya pada pria itu di dalam kelas.
"Hari ini les lagi, lebih giat lagi! Aku yakin kamu bisa Rein," ucap Darwin menenangkan pacarnya.
"Baiklah kalau begitu, sepulang sekolah aku akan ke rumahmu nanti," ucapnya. Dia menatap lembaran kertas ujiannya. Andai bisa merubah nilainya, Rein ingin sekali melakukannya sekarang tanpa berusaha keras untuk menjadi pintar.
__ADS_1
Ketika pulang sekolah, Rein berganti baju dan makan terlebih dahulu.Setelah itu dia mengambil buku-buku yang harus dia bawa ke rumah Darwin.
Nadia menatap putrinya yang tiba-tiba begitu rajin.
"Mau kemana lagi Rein?Istirahat dulu sepulang sekolah!" pinta sang mama.
"Rein mau belajar matematika sama Darwin ma. Nilai Rein jelek sekali," ucapnya memberi tahu mamanya.
"Baiklah kalau begitu, jangan terlalu lama. Kamu juga perlu istirahat," ucap Nadia.
"Iya ma, Rein pergi dulu," pamit Rein.
"Tante, kakak Rein cantik sekali ya?" Naren yang sejak tadi makan di meja makan. Tiba-tiba memuji Naren.
"Tentu saja Naren. Kak Rein kan wanita. Semua wanita itu cantik, kamu kenapa panggil tante sih? Panggil mama gak apa-apa," jawab Nadia. Dia tahu Naren mungkin tidak enak jika memanggilnya mama.
"Memang boleh tante? Tante gak marah sama Naren?" tanya anak itu polos.
Nadia menggelengkan kepalanya. Dia lalu duduk di samping Naren. Memeluk tubuh kecil anak itu.
"Tidak, mama tidak akan marah sama kamu," balas Nadia. Dia mulai menerima sepenuhnya Naren. Menganggapnya seperti anak kandung sendiri.
"Iya ma, Naren akan memanggil mama mulai saat ini," balasnya senang. Senyum merekah dari bibir Naren.
Rein masuk ke dalam rumah Darwin. Pintu utama terbuka sedikit dan Rein masuk begitu saja.
"Darwin!" panggil gadis itu pada Darwin.
Tak ada jawaban darinya, Rein lalu berjalan menuju ke atas. Di kamar pria itu. Untungnya pak Ilham belum pulang jam segini.Rein memanggil Darwin kembali.
"Darwin!" panggilnya di depan kamar pria itu sambil mengetuknya.
"Kemana dia? Tak di jawab sejak tadi?" gumam Rein bertanya-tanya.
"Gadis itu membuka pintu kamar Darwin. Mencarinya di dalam kamar. Kedua mata Rein membelalak ketika melihat Darwin yang ketiduran di atas ranjang,dengan seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Juga sepatu pria itu masih di pakai.
"Astaga, ketiduran!" Rein pelan-pelang menutup pintu kamar Darwin. Lalu berjalan menuju pria itu.
"Hei Darwin!" panggil Rein sambil menggoyangkan tangan pria itu.Masih saja tak ada respon.
"Kenapa nyenyak sekali?Jadi tidak tega membangunkannya."
Rein mendekati wajah Darwin, memperhatikannya dari dekat. Sudut bibir Rein terangkat berkali-kali.
__ADS_1
"Ternyata tampan juga!" Rein memainkan jarinya di hidung Darwin,lalu perlahan ke bibir pria itu.Rein mengira Darwin tidak mudah terbangun karena sejak tadi dia membangunkannya begitu sulit.
Tiba-tiba tangannya di pegang oleh Darwin. Pria itu sudah terjaga, dia menatap wajah Rein.
"Eh Darwin sudah bangun! Ayo kita belajar lagi!" ucap Rein canggung,dia mencoba menarik tangannya namun Darwin terlalu kuat memeganginya.
"Apa yang ingin kamu lakukan di saat aku tidur?" tanya Darwin.
"Hehe, bukan apa-apa hanya tadi ingin membangunkan mu saja!" balas Rein gugup.
Darwin tidak percaya, dia lalu menarik tubuh Rein. Gadis itu terkejut.
"Ah apa yang kamu lakukan?" tanya Rein. Gadis itu jatuh dalam pelukan Darwin. Mereka berada di atas ranjang yang sama.
"Apa lagi? Di rumah tidak ada orang selain kita berdua," jawab Darwin nakal.
Rein menelan salivanya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Jika masih berada di atas ranjang itu.
Rein salah telah membangunkan singa yang lapar. Dia harus segera melepaskan diri.
Rein meronta, dia ingin bangun dari tempat tidur itu. Namun Darwin dengan sekuat tenaga memeluknya.
"Darwin lepaskan!" ucap Rein. Namun pria itu malam semakin kuat mendekap tubuhnya.Rein merasa suhu tubuh Darwin mulai berubah lebih panas.
"Darwin jangan lakukan ini?" gumam Rein ketika Darwin dengan sengaja mengusapkan wajahnya pada leher Rein.
Membuat perasaan aneh yang Rein rasakan. Dia takut keduanya akan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak di lakukan.
"Darwin!" Rein lagi-lagi memanggil namanya. Namun Darwin tidak memperdulikan itu.Dia masih saja menciumi leher Rein.
Sekuat apapun Rein mendorong tubuh pria itu. Tetap saja sulit terlepas. Dia bahkan mulai menikmati ulah darinya.
"Tidak! Rein sadarlah, ini terlalu jauh!" batin Rein takut.
"Dar,win!" pak Ilham membelalakkan kedua matanya melihat apa yang ada di depan pria itu. Rein dan Darwin terkejut ketika melihat pak Ilham tiba-tiba membuka pintu kamar.
"Rein! Darwin!" teriaknya dengan wajah marah. Ilham tidak bisa menahan diri lagi. Dia berlari ke arah Darwin. Memukul pria itu dengan bantal di dekatnya.
"Kamu ngapain?" ucapnya sambil memukuli Darwin.
"Ampun paman!" teriak Darwin sambil melindungi kepalanya agar tidak kena pukul pria itu.Rein menyingkir dari keduanya.
"Pak Ilham kita bisa jelaskan semuanya!" ucap gadis itu mencoba menenangkan Ilham.
__ADS_1
Pak Ilham berhenti memukul Darwin. Tapi kini beralih menatap tajam wajah Rein.