
Hanso mencengkeram meja di depannya.Lalu melemparkan dengan mudah ke arah sembarangan. Dia sangat marah besar kali ini. Mendengar berita bahwa seluruh keluarga saudaranya sudah tewas secara misterius.
"Cepat cari pelakunya? Seseorang pasti sengaja menargetkan mereka!" perintahnya pada para orang kepercayaannya.
"Baik tuan!" mereka segera pergi untuk mencari tahu penyebab kematian satu keluarga itu.
Hanso belum juga mendapatkan pelaku pembunuhan putranya. Kini di tambah keluarga Tras yang telah lenyap lebih dahulu. Membuatnya was-was, jika yang menjadi target berikutnya adalah keluarga Hanso.
"Bajingan mana yang berani bermain di belakang kami?" gumamnya sambil berfikir siapa saja yang mungkin menjadi musuh mereka.
"Apakah dia kembali?" tanya Hanso pada dirinya sendiri.
"Tapi tidak mungkin! Dia sudah masuk ke hutan terlarang, sulit bagi orang biasa seperti dia untuk selamat dari sana."
Hanso tidak percaya bahwa keponakannya bisa selamat dari hutan itu. Karena hutan itu penuh misteri dan kekuatan mistik di dalamnya.
Di sisi lain, Rein ingin segera kembali ke kerajaan miliknya. Di sana ada sebuah barang berharga yang di tinggalkan oleh ibundanya untuk Rein.
Wanita itu tengah melamun di atap bangunan. Dia melihat ke arah kerajaannya. Pasti sangat sulit untuk para penduduk hidup sekarang.
Di bawah pemimpin yang busuk hatinya. Gadra, paman sekaligus orang yang ingin membunuhnya. Bersama Hanso dan Tras. Mereka bekerja sama untuk membunuh Rein.
Ketika sang ayah dan ibundanya meninggal. Yang tersisa hanyalah Rein sendirian. Seluruh penduduk tahu siapa yang seharusnya mendapatkan tahta kerajaan itu.
Namun karena mereka takut ancaman dari Gadra. Mereka akhirnya tunduk selama beberapa bulan ini.
"Aku harus segera kembali," ucap Rein.
Angin kencang menerpa rambutnya secara tiba-tiba. Rein sudah terbiasa dengan kedatangan orang itu. Siapa lagi kalau bukan Darwin. Dia datang dan pergi sesukanya.
"Seorang anak gadis sering melamun. Itu sangat tidak baik. Kau tahu itu?" ejek Darwin.
Dua bola mata Rein melirik ke arah pria itu dengan ekspresi dingin di wajahnya.
__ADS_1
"Diam lah!" gerutunya kesal.
"Hoaamm!" Darwin menguap dan berbantal di pangkuan Rein.
"Hei, bangun dari sana!" ucap Rein memperingatkan.
"Tidak mau!" Darwin menggelengkan kepalanya.Membuat Rein merasa geli di kedua paha gadis itu.
"Jika di amati, kamu ternyata cantik juga?" ucap Darwin menatap wajah Rein yang tidak menggunakan topengnya. Kedua pipi Rein merona.
"Aku pikir selama ini mata mu itu buta, bahkan aku yang cantik saja baru menyadarinya sekarang," jawab Rein menghilangkan kecanggungan.
"Ya benar juga, sayangnya kamu sangat galak! Kejam!" Darwin tak tahu bahwa dia tengah memancing amarah gadis itu.
"Ah pergi! Pergi!" Rein menghindari kepala Darwin hingga jatuh tanpa beralaskan lagi.
"Aduh, galak banget sih!" gerutu Darwin, dia mengelus kepalanya dan duduk di samping Rein.
"Tangkap mereka!" suara seorang pria memerintah beberapa orang yang bersembunyi di celah bangunan di sana.
Mereka mengerubungi Rein dan Darwin. Dengan pedang di tangan mereka masing-masing.
"Tsk dasar para sampah!" gumam Darwin.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Rein.
"Itu tidak penting, yang terpenting adalah kamu mati!" mereka dengan cepat menyerang Rein dan Darwin. Untungnya kedua orang itu sudah siap siaga. Suara pedang beradu pun terdengar jelas.
Bagi Darwin ini hanyalah sampah biasa. Dia dan Rein bisa dengan cepat menghabisi mereka.
"Ayo pergi!" ajak Darwin setelah para musuhnya tumbang.
"Tunggu!" Rein mengambil sesuatu dari mayat salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Darwin.
"Tanda pengenal keluarga ini sepertinya aku kenal?" gumam Rein.
"Sepertinya sama dengan milik pria bernama Dion itu?" Darwin juga sempat melihatnya.
"Kamu benar! Sepertinya mereka sudah menyadari siapa kita." Rein sudah menduganya cepat atau lambat mereka akan menyadari kehadirannya.
"Bagus juga,kalau begitu kita segera singkirkan mereka saja," balas Darwin. Rein menganggukkan kepala.
Tujuannya sekarang adalah menghabisi Hanso. Tapi dia sedikit ragu karena pria itu lebih kuat dari Tras.
"Tapi kita harus berhati-hati. Dia tidak sesederhana yang terlihat!" ucap Rein.
"Tenang saja. Aku bisa mengatasinya dengan mudah," Darwin tersenyum kecil pada Rein. Keduanya segera pergi menuju ke rumah Hanso.
Rein dan Darwin menyelinap ke kediaman Hanso. Di sana sudah di jaga dengan ketat oleh para prajurit kediaman itu. Rein tersenyum sinis melihatnya. Sepertinya pamannya itu sudah bersiap menyambut dirinya.
Darwin dan Rein dengan cepat membunuh prajurit-prajurit itu dengan diam-diam. Ketika Hanso menyadarinya,dia keluar dari rumahnya.
"Kalian siapa? Kenapa menyelinap ke rumahku?" tanya Hanso pada Rein dan Darwin yang sudah berada di depan rumahnya.
Rein yang masih menggunakan topengnya. Melepaskan topeng itu, menunjukkan wajahnya pada Hanso.
Pria itu sedikit terkejut karena aura membunuh sudah terlihat jelas di wajah Rein.
"Rein! Jadi benar kamu dalang dari semua ini?" tanya Hanso.
"Kalian memang pantas mati!" ucap Rein dengan cepat dia melaju ke arah Hanso. Dengan kedua senjata di tangannya.Kali ini dia menggunakan belati kembar miliknya.
Hanso dengan sigap menahan serangan gadis itu. Pertarungan tak bisa di hindari. Rein dan Hanso saling beradu senjata. Di tangan Hanso sebuah pedang sebagai pertahanannya.
Darwin masih mengamati keduanya. Ketika Rein dalam kesulitan dia baru akan membantu gadis itu.
__ADS_1