Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Seribu Bunga


__ADS_3

Alee menghela napas lega setelah bisa kabur dari Darwin. Dia kini berada di dalam kamarnya.Duduk di atas ranjang sambil memegang bagian atas dadanya.


"Untung saja,kak Darwin tidak menyadarinya." Gumam gadis berperawakan tinggi dan putih itu.


"Seharusnya kakak memikirkan dirinya sendiri, jika setengah dari kekuatannya berada di gadis itu. Dia tidak mungkin bisa melawan musuhnya," Alee mencoba memikirkan cara bagaimana Rein mau mengembalikan kekuatan itu.


"Tapi bagaimana?" Alee bingung mencari caranya.


Di tempat lain,Rein tengah bersama dengan Darwin. Keduanya memutuskan untuk berkeliling di daerah itu.


"Hei Darwin, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Rein ketika mengikuti pria itu.


"Ke suatu tempat yang kamu pasti suka," ucapnya.


Rein penasaran kemana pria itu akan mengajaknya.


"Apa kau secara tidak langsung mengajak ku berkencan?" canda Rein.


Tiba-tiba Darwin menghentikan langkahnya. Rein yang berada di belakangnya tak menyadari bahwa Darwin berhenti. Alhasil dia menabrak punggung pria itu.


"Aduh! Kenapa berhenti mendadak sih?"gerutu Rein sambil memegang dahinya.


Darwin membalikkan badannya ke arah Rein. Lalu mendekatkan wajah pria itu di wajahnya.


"Kenapa mendekat?" Rein segera melangkah ke belakang agar ada jarak diantara mereka.


"Kamu ingin kencan denganku?" tanyanya serius.


"Ah itu, tidak,tidak tadi hanya bercanda saja. Jangan di anggap serius," jelas Rein ketika ingat apa yang tadi dia katakan.


"Kalau begitu sayang sekali, aku juga tidak ingin berkencan dengan gadis jelek seperti mu!" Darwin menunjuk dahi Rein dengan jari telunjuknya.Lalu membalikkan badan dan segera berjalan ke depan.


"Hei! Kamu bilang aku jelek? Emangnya kamu tidak jelek, kamu lebih jelek lagi!" gerutu Rein tidak berhenti menjelekkan pria di depannya itu.


"Dasar anak kecil!" balas Darwin.


"Kamu yang anak kecil!" keduanya bertengkar seperti anak kecil.


Tanpa mereka berdua sadari, seseorang tengah mengintai keduanya. Dia mengambil sebuah anak panah dan ingin menargetkan Rein.


"Matilah kau!" ucapnya lirih sambil melepaskan anak panahnya ke arah Rein.


Rein yang tidak menyadarinya masih berjalan santai sambil menggerutu mengumpat pada Darwin. Pria itu menyadari seseorang menargetkan Rein.


Dengan cepat Darwin mendorong tubuh Rein hingga keduanya jatuh di rerumputan. Rein terkejut dengan aksi yang dilakukan oleh Darwin.

__ADS_1


Saat mengetahui ada anak panah yang hampir mengenainya. Rein bersyukur ternyata Darwin tengah menyelamatkannya kembali.


"Jangan mengomel lagi, ada musuh yang mengincar kamu," Darwin menggunakan mata khususnya untuk melihat siapa yang berada di sekitar mereka.


Hanya ada satu di arah jarum jam sepuluh. Darwin menunjuk ke arah itu pada Rein. Gadis itu mengerti maksud dari Darwin.


Dengan cepat Rein dan Darwin melompat ke arahnya.


"Siapa kamu?" tanya Darwin di belakang pemanah tadi. Dia sudah meletakkan pedang di lehernya.


"Kamu sangat cepat meresponnya," balasnya. Darwin dan Rein merasa familiar dengan suara itu. Meski dia menggunakan penutup wajah.


Rein segera membuka penutup wajah pada gadis itu. Keduanya terkejut ketika melihat siapa di baliknya.


"Alee?" ucap Rein. Darwin juga tak menyangka bahwa itu adalah adik tirinya. Dia menjauhkan pedangnya dari leher gadis itu.


"Alee,apa yang kamu lakukan? Kenapa hendak membunuh Rein?" tanya Darwin marah.


"Kak Darwin, dia itu manusia jahat. Dia pasti ada maunya mendekati mu?" tuduh Alee pada Rein. Gadis itu memperlihatkan ketidaksukaannya pada Rein.


"Kamu baru bertemu dengannya beberapa kali, bagaimana bisa menilainya jahat?" tanya Darwin.


"Yah pokoknya jahat. Kakak gak boleh bersama dengan dia!" Alee tidak bisa memberitahu alasan sesungguhnya bahwa dia ingin membunuh Rein. Karena mengincar batu kekuatan kakaknya.


Dengan batu itu, dia bisa mengendalikan Darwin. Jika batu itu jatuh padanya,Alee akan bertambah kuat.


Alee tampak tidak suka dengan ucapan sang kakak. Dia ingin membantahnya, namun tidak bisa untuk saat ini. Alee tahu betul bagaimana sang kakak jika sudah marah.


"Aku benci kakak!" Alee lalu pergi meninggalkan keduanya.


"Sepertinya dia sedang cemburu padamu? Apa kalian memiliki hubungan khusus?" tebak Rein sambil mengamati Alee yang sudah menjauh dari mereka.


Darwin memukul kepala Rein dengan telapak tangannya. Pria itu tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Rein.


"Aduh!Sakit!" Rein mengelus kepalanya.


"Lain kali taruh saja otakmu itu di kaki, jangan berpikir aneh-aneh!" jawabnya.


"Apanya yang aneh, itu kan hanya menebak saja!" bibir Rein cemberut ketika mengikuti Darwin.


Entah mereka mau kemana, Rein juga tidak tahu. Tapi rasanya mereka sudah berjalan cukup jauh. Kenapa belum juga sampai.


"Kenapa belum juga sampai? Aku sudah lelah!" ucap Rein.


Darwin berbalik badan lalu membopong tubuh Rein. Gadis itu terkejut.

__ADS_1


"Hei apa yang kamu lakukan?" tanya Rein. Tapi Darwin tidak menjawabnya.Dia segera membawanya berlari dengan cepat.


Rein hanya bisa diam dalam dekapan Darwin. Tubuhnya yang kecil tampak mungil di tangan Darwin.


Beberapa detik kemudian mereka telah sampai di suatu tempat.


"Kita sudah sampai," ucap Darwin sambil menurunkan tubuh Rein ke tanah.


Rein menatap ke sekitar mereka saat ini. Pemandangan yang luar biasa bagi Rein. Dia belum pernah melihat ini sebelumnya.


"Banyak sekali bunganya?" ucap Rein. Mereka tengah berada di hamparan bunga berbagai jenis.


"Bagus kan?" tanya Darwin. Rein menganggukkan kepalanya.Dia sangat terpesona dengan pemandangan di depannya.


"Bagaimana kamu menemukan tempat sebagus ini?" tanya Rein.


"Aku tidak sengaja menemukannya saja," balas Darwin. Dia belum bisa menceritakan yang sebenarnya.


Bahwa dari sahabatnya lah dia mengetahui tempat ini. Sekaligus tempat yang sering mereka kunjungi dahulu.


Rein berlari ke arah hamparan bunga-bunga itu. Menikmati keindahan dari mereka.


Sedangkan Darwin tengah mengingat kenangannya bersama sang sahabat dahulu. Sahabat istimewa baginya.Sayangnya dia tidak akan kembali lagi.


"Darwin! Lihat ini!" Rein menunjukkan satu kupu-kupu di tangannya. Gadis itu tampak bahagia sekali.


"Bagus!" balas Darwin. Rein lalu menarik tangan Darwin agar mengikutinya bermain dengan kupu-kupu itu di hamparan bunga.


Rein dan Darwin berlarian, saling mengejar. Hingga keduanya lelah dan berbaring di atas hamparan rumput di samping bunga.


"Lelahnya!" Rein menghela napas panjang. Kini mereka tengah menatap langit langit yang biru.


"Darwin?" panggil Rein.


"Ya, kenapa?"


"Jika suatu saat ada kehidupan baru lagi untuk mu? Apakah kamu akan mengingatku?" tanya Rein tiba-tiba.


"Kenapa menanyakan hal seperti itu?" tanya Darwin.


"Jawab saja! Kenapa malah bertanya balik!" Rein kesal dengan respon Darwin.


"Mungkin saja, tapi aku juga tidak tahu. Jika aku ada kehidupan baru. Masih kah kita bertemu?"jawabnya.


"Benar juga, lagi pula di setiap pertemuan pasti ada perpisahan," jawab Rein sambil tetap menatap ke atas langit.

__ADS_1


Saat ini hal yang tidak Rein inginkan adalah berpisah dari Darwin.Entah mengapa, dia sudah merasa nyaman di dekatnya.


"Kenapa mengatakan perpisahan? Apa kamu ingin pergi?" tanya Darwin. Rein lalu menggelengkan kepalanya.


__ADS_2