
Faro menatap pria di depannya dengan banyak pertanyaan di kepala pria itu. Lama dia tidak bertemu dengannya. Keduanya berada di depan rumah masing-masing.
"Ilham?" sapa Faro pada pria itu. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengannya.
"Faro?" keduanya saling menunjuk dengan telunjuk mereka.
Faro dan Ilham melangkahkan kaki mereka untuk saling mendekat.
"Ya ampun ini beneran kamu?" Ilham memeluk Faro. Kemudian sesaat memperhatikan pria itu.
"Iya benar lah ini aku Faro,kamu tinggal di sini?" tanya Faro menunjuk rumah milik Ilham.
"Iya, baru beberapa minggu di sini sih," balas Ilham.
"Kalau kamu? Apa ini rumah kamu?" imbuh Ilham. Faro menganggukkan kepalanya.
"Astaga, kenapa aku baru melihatmu?"tanyanya.
"Haha, aku baru saja pulang dari luar negeri semalam Ham, oh iya bagaimana kalau kita mengobrol di rumahku! Banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu!" ajak Faro pada pria itu.
"Boleh, tapi aku akan mandi dan berganti pakaian dulu," Ilham menunjukkan baju olahraganya yang penuh dengan keringat. Faro bisa merasakan itu pasti sangat tidak nyaman.Pria itu baru saja selesai joging
"Baiklah, aku tunggu," jawab Faro.
Ilham lalu kembali ke rumahnya terlebih dahulu. Faro pun masuk ke dalam rumahnya.
Darwin melihat sang paman yang tersenyum-senyum sejak masuk ke dalam rumah.
"Paman kenapa senyam-senyum sejak tadi?" tanya Darwin.
"Ah, tidak! Hanya saja paman baru bertemu teman lama. Ternyata dia tetangga kita," jelas Ilham pada keponakannya itu.
"Tetangga kita?" tanya Darwin.
"Iya, nanti paman akan main ke rumah sebelah. Kamu mau ikut?" tanya Ilham.
"Rumah sebelah? Bukankah itu rumah Rein? Siapa yang paman maksud?" batin Darwin.
"Boleh juga, Darwin bosen di rumah terus paman," jawab Darwin.Berhubung akhir pekan Darwin tidak ada rencana pergi kemana-mana.Sekalian melihat apakah Rein ada di rumah atau tidak.
"Oke. Paman mau mandi dulu," ucap Ilham. Darwin menganggukkan kepalanya.
Setengah jam kemudian, Ilham sudah terlihat segar. Dia bersiap ke rumah Faro. Ingin bertanya banyak hal tentang kabar masing-masing.
"Darwin!" panggil Ilham.
"Iya paman," jawab Darwin.
"Udah siap? Ayo pergi ke rumah tetangga?" ajak Ilham.
__ADS_1
"Udah kok, ayo!" Darwin sudah menunggu dari tadi untuk segera ke rumah milik keluarga Rein.
Keduanya segera menuju ke rumah Faro. Ketika membunyikan bel rumah,Faro sendiri yang membukanya.
"Ilham, ayo masuk ke rumah. Eh ini siapa?" tanya Faro. Darwin terkesiap melihat pria di depannya begitu mirip dengan Rein.
"Oh ini Darwin, keponakanku," jawab Ilham.
"Darwin, ayo masuk sini!" ajak Faro.
"Iya kak," jawab Darwin, mengikuti keduanya masuk ke dalam rumah. Darwin memperhatikan detail rumah milik Rein. Tatanannya begitu rapi dan tampak megah.
"Silahkan duduk," Faro mempersilahkan keduanya duduk.
Dia lalu mengambil sendiri minuman dan snack kecil untuk ketiganya.
"Sambil ngemil yuk, anggap rumah sendiri, oh iya Darwin kelas berapa?" tanya Faro pada Darwin.
"Kelas dua SMA kak," jawab Faro.
"Wah kebetulan sekali, kakak juga punya adik perempuan kelas dua SMA juga," ucapnya.
Darwin sudah tahu siapa adik dari Faro itu. Tapi dia hanya membalasnya dengan senyum kecil di bibirnya.
"Yang dulu sering ikut kamu ke sekolah dan minta gendong itu?" tanya Ilham mengingat adik Faro ketika masih kecil.
"Benar, dia yang super manja sama aku!" Faro tertawa mengingat Rein waktu kecil.
Rein keluar kamar tak jauh dari ruang tamu. Dengan menggunakan gaun yang di belikan sang kakak. Dia hendak memamerkannya pada pria itu.
"Kak Faro lihat deh gaun dari kakak, cocok tidak buat Rein!" Rein berputar di depan Faro. Dia tidak menyadari ada dua tamu yang tengah menatapnya juga.
Ketika dia berhenti berputar. Dia baru sadar ada Darwin dan pak Ilham. Rein sangat malu.
"Pak Ilham, Darwin? Kenapa kalian bisa di sini?" tanya Rein.
Pak Ilham juga bingung kenapa Rein bisa ada di rumah Faro.
"Dia?" tanya Ilham menunjuk Rein pada Faro.
"Dia adikku, yang kamu maksud tadi Ham?" jawab Faro santai.
"Loh kebetulan sekali, dia anak didik ku satu kelas dengan Darwin," ucap Ilham.
Darwin masih terdiam memandang Rein yang terlihat cantik dengan gaun yang dia kenakan sekarang. Gadis itu tampak seperti putri kerajaan.
"Benarkah, ternyata dunia sempit sekali.Ternyata kita tetanggaan," ucap Faro.
"Tunggu! Pak Ilham tinggal di rumah sebelah juga?" tanya Rein tidak tahu.
__ADS_1
"Iya, itu memang rumah bapak. Dan Darwin ini keponakan bapak," jelas Ilham.
"Hah keponakan pak Ilham?" tanya Rein tidak percaya, gadis itu ikut duduk di samping kakaknya.
"Kenapa Rein? Kamu kok terkejut? Apa jangan-jangan kalian saling suka ya?" tebak Faro melihat tingkah aneh Rein.
"Ah apa sih kakak ini? Emang baru tahu kok kalau pak Ilham itu tetangga kita," ucap Rein menghindari pertanyaan sang kakak. Dia sangat malu jika ketahuan sudah sangat dekat dengan Darwin.
"Hahaha," Faro dan Ilham saling tertawa melihat kedua anak muda di samping mereka itu.
Rein dan Darwin tidak berhenti saling menatap satu sama lainnya. Keduanya hanya mendengarkan Faro dan Ilham yang sedang mengobrol saja.
"Kak Faro!" Tifo baru saja masuk ke dalam rumah sambil meneriakkan nama kakaknya.
"Loh kok ada pak Ilham dan Darwin?" tanya Tifo.
"Kamu pasti juga tidak tahu, kalau pak Ilham adalah tetangga kita." Rein mencoba menjelaskannya.
"Benarkah, jadi satu rumah dengan Darwin?" tanya Tifo.
"Benar, dia paman ku!" ucap Darwin.
"Hah!" Tifo juga ikut terkejut.
Mereka akhirnya saling mengobrol bersama. Ketika ketiga pria, Ilham,Faro dan Tifo tengah asik bercanda. Rein dan Darwin memilih untuk pamit ke taman di rumah itu.Keduanya memilih mengobrol bersama di sana.
"Rein!" panggil Darwin. Keduanya duduk di sebuah ayunan yang berada di taman rumah itu.
"Ya, kenapa Darwin!" Rein asik bermain ayunannya. Sedangkan Darwin hanya duduk di ayunan dan memperhatikan Rein.
"Kamu cantik memakai gaun seperti itu!" ucap Darwin.
"Hah," kedua pipi Rein merona. Dia baru kali ini di bilang cantik karena memakai gaun.
"Jadi biasanya tidak cantik?" tanya Rein. Suasana yang tadinya romantis berubah seketika. Darwin hanya menghela napas panjang. Ternyata gadis di depannya ini tidak mengerti maksud dari perkataannya.
"Cantik kok, tapi sedikit! Kali ini gaunnya aja yang sangat cantik, jadi mendukung mu!" balas Darwin dengan nada sedikit mengejek.
"Hei, itu pujian atau sedang mengejekku?" tanya Rein.
"Menurutmu?" goda Darwin.
"Dasar!" Rein mengerucutkan bibirnya kesal pada Darwin.
"Oh iya, kenapa Guen sering datang ke sini? Jangan terlalu dekat dengan dia!" ucap Darwin tiba-tiba membahas pria itu.
"Kenapa?Dia baik kok!" balas Rein.
"Kalau aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh!" balas Darwin menekankan kalimatnya.
__ADS_1
"Apa sih kamu ini!" ucap Rein tidak ingin terlalu peduli dengan perkataan Darwin. Baginya Guen pria yang baik, meski sedikit membosankan jika di ajak bicara pria itu.