Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Kak Faro


__ADS_3

Rein membantu mamanya menyiapkan makan malam untuk sang kakak. Dan juga keluarganya.


"Ma, kakak kok udah pulang? Emang lagi liburan di sana?" tanya Rein.


"Mama juga tidak tahu Rein," balas sang mama.


Suara bel pintu terdengar, Rein segera menghentikan kegiatannya.


"Biar Rein aja ma yang buka pintu, itu pasti papa pulang kerja," ucap Rein.


"Iya bukain sana. Mungkin dia lupa bawa kunci rumah!"ucap sang mama.


Rein menganggukkan kepala dan segera melangkah ke pintu utama.


Ketika membukanya, Rein meloncat kegirangan. Ternyata kakaknya yang berada di depan pintu itu. Di sampingnya sang papa juga sudah pulang dari kantor.


"Kak Faro!" teriak Rein berhamburan dalam pelukan pria itu. Rein bahkan meminta sang kakak menggendongnya seperti biasanya.


"Rein, kamu ini sudah besar juga!" ucap Faro protes dengan kebiasaan sang adik.


"Biarin!" Rein tidak mau turun dari gendongan sang kakak. Pria itu terpaksa menggendong Rein sampai ke dalam rumah.


Sang ayah hanya tertawa melihat keduanya yang tidak pernah berubah ketika bersama. Sejak kecil Rein sangat dekat dengan kakaknya.


Bahkan gadis itu menangis seharian ketika sang kakak pergi kuliah.


"Faro!" sang mama meletakkan masakannya di atas meja makan. Dia segera menghampiri putranya.


Rein turun dari gendongan sang kakak,ketika mamanya datang menghampiri Faro.


"Mama!" Faro memeluk mamanya dengan erat. Rasa rindu tidak bertemu dengan wanita itu selama tiga tahun ini. Akhirnya bisa Faro salurkan.


"Mama, Faro kangen mama!" ucap Faro. Tadi dia sudah memeluk papanya. Kini giliran sang mama.


"Sudah-sudah, kamu pasti lelah kan Faro. Mari membersihkan diri dan segera makan, mama masak banyak buat kita semua!" ucap sang mama.


"Iya, papa juga sudah lapar sekali," ucap papanya.


"Iya pa, ma," balas Faro.


Rein lalu membantu membawakan koper sang kakak. Dia mengantarkan Faro ke kamar pria itu.

__ADS_1


"Tiga tahun tidak bertemu. Ternyata adik kakak sudah secantik ini!" ucap Faro sambil merangkul sang adik. Keduanya berjalan beriringan.


"Tentu saja dong, adikmu ini sangat cantik," balas Rein memuji dirinya sendiri.


"Dasar!" Faro mengacak rambut Rein. Keduanya sudah sampai di depan kamar milik Faro.


Rein membukakan pintu kamar kakaknya. Tampak di dalam kamar itu masih sama seperti terakhir Faro tinggali.


Pria itu masuk ke dalam kamar, sambil memperhatikan semua barang dan tatanan di kamar itu. Kerinduannya akan rumahnya akhirnya bisa dia wujudkan saat ini.


"Makasih ya Rein,pasti kamu yang menjaga kamar kakak ini," ucap Faro.


"Makasih aja gak cukup. Mana oleh-olehnya buat adik tersayang mu ini?"ucap Rein sambil mengulurkan tangannya ke arah Faro. Rein ingin meminta sesuatu pada sang kakak.


"Iya-iya, kakak sudah membelikan sesuatu untukmu," Faro membuka kopernya. Dia mengambil sebuah bingkisan untuk Rein.


"Ini, kamu pakai deh kalau lagi keluar sama teman-temanmu," Faro memberikan bingkisan itu. Rein segera menerimanya. Dia duduk di atas ranjang sang kakak.


Membuka bingkisan yang tadi di terimanya.Rein sedikit terkejut ketika melihat isi dari bingkisan itu.


"Apa ini?Sebuah gaun?" tanya Rein heran. Dia sana jarang menggunakan gaun. Kali ini malah sang kakak memberikannya sebuah gaun.


"Yaps, cantik kan! Sekali-kali kamu itu terlihat seperti wanita sungguhan. Jangan pakaian yang gitu-gitu aja!" ucap Faro mengejek sang adik.


"Udah di terima aja, jangan bawel. Sana keluar kakak mau mandir dulu!" ucap Faro mendorong pelan adiknya untuk keluar dari kamar pria itu.


"Iya deh, makasih udah di bawain oleh-oleh. Ya udah Rein keluar dulu, cepetan mandinya. Papa dan mama udah nunggu kita," ucap Rein pada kakaknya. Dia lalu keluar dari kamar Faro.


Setengah jam berlalu, Faro segera menyusul keluarganya di meja makan. Tampak papa dan mama, Rein dan juga Tifo sudah menunggu dirinya.


"Hai kak Faro!" sapa Tifo pada Faro.


"Tifo, kenapa kamu sekarang sebesar ini?" Faro mendekati pria itu. Memeriksa tubuh pria itu yang sudah melebihi dirinya.


"Iya lah, orang makan mulu!" ucap Rein mengadu.


"Biarin, daripada kamu makan mulu tapi gak tinggi-tinggi!" ucap Tifo mengejek Rein.


"Kamu? Suka banget bilang aku pendek! Kamu aja yang terlalu tinggi!" protes Rein.


"Udah-udah malah berantem. Ayo kita makan dulu. Kakak kalian pasti sudah kangen masakan mama," ucap sang mama.

__ADS_1


"Iya ma, Faro kangen banget masakan mama deh," Faro segera duduk di antara Rein dan Tifo. Memisahkan keduanya agar tidak berantem lagi.


Mereka segera menyantap makanan yang berada di atas meja itu. Faro terlihat begitu lahap menikmati makan malamnya.


Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi. Sang mama memperhatikan Faro yang sudah dewasa.


"Faro, sebenarnya kenapa tiba-tiba pulang?" tanya sang mama.


"Sebenarnya Faro udah lulus ma," ucap Faro. Semua orang yang berada di tempat itu menatap Faro dengan terkejut.


"Serius,apa yang kamu katakan benar nak?" tanya sang papa antusias. Faro menganggukkan kepalanya.


"Ya ampun, papa bangga sama kamu nak!" Sang papa langsung merangkul putranya.


"Kenapa tidak bilang sebelumnya?" tanya sang mama.


"Sebenarnya Faro sudah lulus satu bulan yang lalu ma, tiga bulan lebih awal dari yang seharusnya. Faro pulang karena mendapatkan pekerjaan di sini," jelasnya.


Semua orang terkejut kembali. Termasuk Rein dan Tifo, mereka bangga memiliki kakak seperti Faro. Kemampuan dan cara berfikir pria itu sangat baik. Pantas menyandang mahasiswa paling pintar di universitasnya.


"Pekerjaan?" tanya Rein penasaran.


"Ya, kakak akan menjadi dokter tetap di salah satu rumah sakit swasta di sini, besok Faro akan ke sana untuk mulai bekerja," jawab Faro.


"Hah baru pulang sudah harus bekerja?" Rein sedikit kecewa,pasalnya dia ingin mengajak sang kakak untuk berlibur di akhir pekan nanti.Tapi pria itu malah harus pergi ke tempat kerja.


"Kenapa Rein? Mau ngajak kak Faro main ya?" tanya Tifo sambil meledek gadis itu.


"Iya, emang gak boleh!" jawab Rein.


"Sayangnya gak bisa sekarang! Sama aku aja gimana?" Tifo mengajukan dirinya.


"Ogah! Siapa yang mau!" tolak Rein.


"Ih ada orang yang akan aku kenalin loh ke kamu!" bisik Tifo pada Rein.


"Siapa?" tanya Rein. Tifo lalu membisikkan nama seseorang di telinga Rein. Gadis itu membelalakkan kedua matanya.


"Tetangga kita?" tanya Rein. Tifo menganggukkan kepalanya.


Tifo tidak tahu bahwa Rein dan Darwin sudah dekat sejak lama.

__ADS_1


Faro memperhatikan kedua adiknya itu. Mereka entah sedang membicarakan siapa. Rasanya Rein tampak antusias sekali saat ini.


__ADS_2