Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Tidak Mau Menikah


__ADS_3

Rein menatap pangeran Kun dengan tatapan membunuhnya. Keduanya kini sedang berada di sebuah meja makan. Dengan seduhan teh di depan mereka.


"Apa sebenarnya niatmu ke istanaku ini?" tanya Rein tak mau berbasa-basi.


"Tentu saja meminta kepastian kapan hari pernikahan kita?" ucap pangeran Kun dengan rasa percaya diri pria itu.


"Jika aku tidak mau dan membatalkannya, bagaimana?" tanya Rein.


"Kalau seperti itu, mungkin saja negaraku akan bergabung dengan para musuh mu untuk merebut negara ini," ucapnya seolah mengancam Rein.


"Kamu sedang mengancam ku?" tanya Rein kesal.


"Ini bukan ancaman, hanya sebuah kerja sama yang saling menguntungkan saja. Bagaimana?" pangeran Kun mengajak Rein untuk bersulang dengan secangkir teh mereka.


Rein tak menerima bersulang dengan pria itu. Dia meminum tehnya segera. Lalu meletakkan dengan kasar cangkirnya ke atas meja.


"Menarik sekali calon istriku ini," batin Kun.


Pria itu tampak tertarik dengan Rein.Selain wajahnya yang cantik, Rein berbeda dari kebanyakan gadis di luar sana. Kun merasa cocok dengan gadis di depannya itu.


Rein malah sebaliknya, dia merasa jijik dengan tatapan Kun pada dirinya. Penuh dengan hal buruk. Dia ingin segera mengusir pria itu.


Tapi sepertinya tidak mudah bagi Rein. Karena pria itu benar-benar calon suaminya. Sesuai dari surat kesepakatan kedua negara.


Rein tidak tahu pola pikir orang-orang di zaman ini. Mereka masih saja menjodohkan gadis dan pemuda untuk kepentingan negara.


"Aku tidak akan menikah denganmu!" ucap Rein tanpa ragu.


"Mengapa? Bukan kah aku cukup tampan?" tanya Kun kecewa dengan sikap Rein. Padahal dia sangat menginginkan pernikahan ini.


"Karena, karena ada pria lain yang aku suka!" jawab Rein sembarangan.


"Siapa dia?" tanya Kun. Kali ini wajah pria itu tampak serius.


"Kamu tidak perlu tahu. Yang jelas dia lebih segalanya dari mu," Rein ingin membatalkan perjanjian pernikahan ini. Membuat pria di depannya ini menyerah.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, besok kita harus menikah!" ucap Kun.


"Hei! Aku tidak setuju!" Rein menggebrak meja di depannya. Membuat para pelayan di luar terkejut, mereka takut jika ratu mereka dalam bahaya.


"Tidak perlu kamu setuju atau tidak, aku tetap akan menjadikan kamu istriku," Kun tidak mau menyerah.


Rein segera mengeluarkan pedangnya, dia gagal membicarakan pernikahan mereka dengan cara baik-baik. Maka hanya dengan cara bertarung menjadi jalan terakhirnya.


Kun semakin bersemangat untuk mendapatkan Rein. Karena baru gadis itu yang berani menolak dirinya. Jika para gadis di luar sana harus mengantri untuk mendapatkan perhatian dari Kun. Sedangkan Rein malah sebaliknya.


"Tenanglah Rein, selama kamu tidak bisa menunjukkan siapa pria yang kamu sukai itu. Maka besok kita harus menikah," Kun yang masih duduk tenang di tempatnya segera menghabiskan sisa teh di cangkirnya.


Lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Rein menggelengkan kepala, dia heran melihat Kun yang sangat ingin menikahinya. Jika di lihat-lihat Rein tidak memiliki apapun yang istimewa bagi seorang pria.


Ketika Kun sudah pergi, Rein berjalan mondar-mandir. Dia memikirkan siapa yang bisa membantunya kali ini.


"Duh gimana nih? Aku gak mau menikah dengan dia."


"Menikah dengan siapa?" suara Darwin tiba-tiba terdengar. Dia sudah berada di kamar Rein sejak gadis itu kebingungan.


"Siapa yang mau menikah?" tanya Darwin.


"Itu, pangeran dari negara sebelah. Dia datang untuk melaksanakan perjanjian pernikahan denganku," jelas Rein.


"Denganmu?" tanya Darwin. Rein menganggukkan kepalanya.


"Dan kamu menyetujuinya?" tampak wajah Darwin tidak suka mendengar berita itu. Rein segera menggeleng.


"Tidak, siapa juga yang mau menikah dengan pria itu," jawab Rein.Entah mengapa Darwin merasa lega dengan keputusan dari Rein itu.


"Sebenarnya aku mengatakan memiliki pria lain sebagai kekasihku. Tapi dia tidak percaya, sebelum aku menunjukkannya pada dia," jelas Rein lagi. Darwin bisa mengerti dengan penjelasan itu.


"Lalu siapa pria tidak beruntung itu? Yang menjadi kekasihmu," tanya Darwin.


"Hei! Bisakah kamu serius sedikit? ini mengenai masa depan diriku dan juga negaraku," Rein mulai merajuk.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan sedikit serius," Darwin menahan tawanya ketika melihat Rein yang mulai cemberut. Tapi dia malah terlihat lebih imut ketika sedang kesal.


"Jadi siapa pria itu?" tanya Darwin.


Rein sedikit berfikir tentang siapa pria yang bisa dia ajak berpura-pura menjadi kekasihnya. Dia harus pria yang lebih tampan dari Kun. Dan lebih hebat dari pria mana pun.


Ekor mata Rein menatap Darwin. Pria di depannya ini lumayan juga untuk menjadi kekasih palsunya.


Rein menunjuk ke arah Darwin. Pria itu tampak bingung.


"Kenapa menunjukku?" tanyanya.


"Bagaimana kalau kamu saja yang membantuku?" mohon Rein.


"Aku?" Darwin menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, ayolah. Aku mohon!" Rein memasang wajah imutnya. Darwin tidak bisa menahan rasa gemasnya. Tapi dia harus tetap terlihat untuk tidak mudah di dapatkan.


"Bagaimana imbalannya jika aku berhasil membuat pria itu pergi?" tanya Darwin.


"Kamu mau apa? Aku pasti akan mengabulkannya. Tolong ya kali ini saja, dia sangat-sangat menyebalkan."


Darwin menatap serius wajah Rein. Dia sebenarnya tidak tahan ingin memainkan kedua pipi gadis itu. Tapi dia harus menahannya.


"Baiklah, aku bersedia. Tapi untuk imbalannya aku akan memikirkannya nanti." Darwin akhirnya setuju, Rein bersorak kegirangan. Tanpa sadar dia memeluk pria itu.


"Terima kasih," Rein mencium pipi kiri Darwin. Lalu meninggalkan pria itu begitu saja.


Darwin memegang pipi kiri yang baru saja di cium oleh Rein.Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


"Apa dia sangat ceroboh? Mencium siapa saja yang menuruti keinginannya?" tanya Darwin.


Ketika Rein sudah di luar kamarnya. Dia baru menyadari bahwa tadi tanpa sengaja memeluk dan mencium Darwin.


"Rein apa yang kamu lakukan? Hilang sudah wajahmu Rein! Mau di taruh dimana?" gumamnya pasrah dengan rasa malu yang dia rasakan kini.

__ADS_1


__ADS_2