Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Kuat Naren


__ADS_3

Pemakaman sudah di lakukan. Naren memandang makam mamanya. Dia belum bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Darwin memeluk Naren dalam gendongannya. Dia tahu Naren tengah sangat rapuh saat ini. Dia butuh seseorang untuk bersandar.?


"Naren, ayo kit kembali," ajak Rein.


"Kemana kak? Naren tidak punya siapa-siapa. Naren juga tidak punya mama lagi. Biarkan Naren disini saja," ucap anak itu. Sudut mata Rein mulai berkaca-kaca kembali.


"Kan ada kak Rein dan Faro, juga mama Nadia,papa Hito." Ucap Rein pada Naren.


Anak itu memandang semua orang yang di sebut oleh Rein. Dia lalu mengarahkan pandangannya lagi pada Darwin.


"Kak Darwin?" tanyanya.


"Rumah kakak juga deket sama kak Rein kok," balas Darwin.


"Naren mau pulang, tapi mama gimana? Dia sendirian di sini?" tanya Naren.


Naren meminta Darwin menurunkan tubuhnya. Pria itu menuruti Naren. Darwin lalu berjongkok untuk menyamakan tubuhnya dengan Naren.


"Kan mama udah tenang di surga Naren. Di sana mama sangat bahagia. Naren jangan khawatir ya?" balas Darwin.


"Benarkah?" tanyanya dengan wajah polos. Darwin menganggukkan kepalanya.


"Iya Naren,ayo ikut kami ya," ajak Hito.


Naren menganggukkan kepalanya. Dia akhirnya mau di ajak pulang ke rumah keluarga Rein.


Nadia perlahan mulai menerima Naren. Meski belum sepenuhnya memaafkan suaminya.


Ketika sampai di rumah, Naren di bawa masuk oleh papanya. Nadia juga mengikuti keduanya. Sedangkan Faro harus kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja. Dia sudah mulai bekerja beberapa hari ini.


Darwin dan Rein libur di akhir pekan. Keduanya berada di ruang tamu.


"Rein, aku pulang dulu ya," ucap Darwin pada gadis itu.


"Kamu yakin tidak mau di sini lebih lama?" tanya Rein.


"Untuk apa?"tanya Darwin dengan wajah polosnya.


"Minum teh, aku buatin!" balas Rein.


"Boleh juga,asal jangan pakai gelas," ucap Darwin.

__ADS_1


"Terus pakai apa dong?" tanya Rein bingung.


"Pakai bibir kamu!"bisik Darwin di telinga gadis itu. Wajah Rein langsung memerah mendengarnya.


"Kamu, dasar mesum!" Rein memukul tubuh Darwin dengan tangannya. Pria itu mengaduh kesakitan.


"Ampun-ampun, jangan pukul lagi!" ucap Darwin pada Rein, gadis itu akhirnya berhenti memukul Darwin.


"Sana pulang!" ucap Rein mengusir Darwin.


"Iya aku emang mau pulang kok," jawabnya.


"Beneran pulang?" Rein tampak kecewa.


"Iya Rein, siang ini ada sesuatu yang harus aku urus. Nanti malam kita ketemu, kamu masih mau les kan?" tanya Darwin.


"Mau lah, nilai ku sangat buruk. Kalau aku tidak les, pak Ren akan memakan ku nanti!" balas Rein.


"Gak bisa, pak Ren gak boleh memakan mu. Hanya aku yang boleh melakukannya!" ucap Darwin sambil menggigit bahu Rein pelan.


"Auh, sakit Darwin!" Rein sesaat teringat oleh Darwin yang ada di dunia vampir. Dia akan sering menggigitnya jika merasa lapar.


"Malah ngelamun! Aku pulang dulu ya," pamit Darwin.


"Gak di antar nih?" tanya Darwin sambil menggoda Rein.


"Tinggal keluar belok kiri juga sudah sampai. Ngapain di antar segala!" kesal Rein.


"Haha, kali aja!" tawa Darwin. Pria itu jarang terlihat bahagia, hanya ketika bersama Rein dia bisa tertawa lepas.


Darwin segera melangkah pergi dari rumah Rein. Gadis itu hanya mengamatinya dari balik pintu rumahnya. Dia mulai penasaran dengan urusan apa yang hendak pria itu selesaikan.


Darwin segera berlari ke dalam kamarnya. Dia hendak berganti pakaian untuk bertemu dengan orang yang paling dia benci. Namun tidak bisa dia menghindarinya terus menerus.


Darwin menggunakan pakaian kasualnya. Dia mempercepat langkahnya sambil menarik kunci motor yang dia gantung di dalam kamar. Darwin pergi dengan motor kesayangannya.


Tak butuh waktu lama untuknya bisa sampai di tempat yang di janjikan. Di dalam sebuah restoran itu seorang pria telah menunggunya. Darwin menghela napas berat untuk menghadapi pria itu.


"Ada apa lagi papa memanggilku?" tanya Darwin ketika sudah sampai di depan papanya.


"Duduklah dulu Darwin!" pinta pria itu. Darwin akhirnya duduk di kursi depan Rendra.


"Mau pesan minuman atau makanan?" tanya Rendra pada putranya.

__ADS_1


"Tidak perlu. Cepat katakan masalah apa yang papa maksud tadi di telepon," ucap Darwin tanpa mau basa-basi lagi.


"Baiklah, papa tetap mau kamu dan Rumi bertunangan. Demi perusahaan kita, perusahaan milik mamamu!" ucap Rendra.


Darwin mengepalkan kedua tangannya. Dia ingin sekali menggebrak meja di restoran itu. Namun Darwin mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin membuat keributan di sana.


"Kalau aku tetap tidak mau bagaimana?" tanya Darwin.


"Papa akan memaksamu untuk setuju!" jawab pria itu tidak mau mengalah.


"Terserah papa, aku tetap akan menolak perjodohan ini. Lagi pula aku menyukai gadis lain. Bukan Rumi pilihan papa itu," ucap Darwin. Dia sudah berdiri dan ingin meninggalkan Rendra.


"Kami tahu kan bagaimana sikap papa, Darwin?" ucap Rendra mengancam anaknya.


Darwin berbalik badan kembali menatap pria itu. Dia menggertakkan giginya menahan amarah.


"Jangan sekali-kali mengancam ku pa, aku bukan anak kecil yang pernah papa telantarkan dulu." Darwin tampak begitu marah, kedua matanya menyorot tajam pada Rendra.


Darwin lalu meninggalkan pria itu tanpa menyetujui keinginannya itu. Dia mulai curiga pada Rumi. Ternyata gadis itu dalang dari semua ini.


"Tsk dia pikir aku tidak tahu niatnya. Selama ini berpura-pura baik di depan Rein karena ingin menghancurkannya," gumam Darwin. Ingin sekali dia menemui Rumi untuk memperingatinya.


Darwin kembali mengendarai motor kesayangannya. Dia ingin pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke rumahnya.


Rein menatap iba pada Naren, anak itu tengah tidur di kamarnya. Namun wajahnya tampak begitu sedih. Sepertinya anak itu belum rela berpisah dari mamanya.


Rein pelan-pelan mendekati Naren agar anak itu tidak terjaga. Dia menyelimuti tubuh Naren agar tidak kedinginan.


"Anak sekecil kamu harus merasakan kehilangan seperti ini. Bagaimana kamu bisa tetap tegar," gumam Rein. Perlahan hatinya mulai menerima Naren.Anak itu tidaklah bersalah.


Nadia dari ambang pintu memperhatikan Rein yang begitu menyayangi adik tirinya. Nadia juga harus bisa menerima Naren.


"Mama!" Rein yang hendak keluar dari kamar Naren melihat mamanya. Wanita itu kini sering diam, jarang tersenyum lagi seperti dahulu.


"Rein."


"Mama ngapain di sini?" tanya Rein.


"Mama tadi hanya lewat saja Rein. Bagaimana keadaan nya?" tanya Nadia tentang Naren.


"Dia terlihat sangat sedih ma. Kelihatannya masih belum bisa jauh dari mamanya. Bolehkan Rein sering-sering mengajaknya bermain bersama Darwin ma?" tanya Rein.


"Boleh, asal dia mau. Dan besok biarkan dia mendaftarkan sekolah bersama papamu," ucap Nadia memberi tahu Rein. Naren harus bersekolah agar sedikit demi sedikit bisa melupakan kesedihan karena kehilangan sang mama.

__ADS_1


__ADS_2