Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Kamu Milikku


__ADS_3

Hito terduduk lesu di kursi sofa ruang tamu.Pria itu bingung menghadapi dua wanita di hadapannya. Keduanya menatap dirinya dengan marah.


Setelah berhasil membuat Sukma pergi dari rumah mereka. Nadia dan Rein tidak berhenti memandangnya dengan tatapan benci. Sedangkan Faro, pria itu pergi begitu saja. Entah kemana.


"Mama, Rein, papa bisa jelasin semuanya," ucap Hito menenangkan kedua wanita itu.


"Jelasin apa lagi pa? Tentang kebenarannya. Kalau anak itu benar-benar anak papa!" Rein kali ini benar-benar marah pada pria yang sudah menjadi kebanggaannya itu. Rasa kecewa benar-benar merubah pandangannya sekarang.


"Papa minta maaf Rein, semua itu memang kesalahan papa." Hito memohon pada anak perempuannya itu.


"Sudahlah Rein ingin sendiri dulu," Rein beranjak dari sofa dan berjalan ke kamarnya.


Air mata gadis itu kembali menetes ketika berada di dalam kamar. Dia tidak bisa membayangkan jika keluarga kecilnya tiba-tiba hancur hanya karena perbuatan papanya di masa lalu.


Hito memohon pada istrinya, Nadia untuk bisa memaafkan kesalahan pria itu.


Tapi bagaimana pun Nadia juga merasakan sakit lebih dari Rein. Dia tidak pernah berfikiran akan di duakan. Bahkan sampai harus memiliki anak tiri juga.


"Aku lelah," Nadia pergi dari ruang tamu menuju ke kamarnya. Hito hanya bisa tertunduk lesu.Dia sangat menyesal telah berbuat hal itu dahulu.


Rein membenamkan wajahnya di atas bantal. Menangis sepuasnya di sana. Dia sangat marah pada sang ayah. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki perasaan sang mama.


Matahari mulai tenggelam, Rein masih saja sesenggukan di dalam kamar. Kedua mata gadis itu mulai sembab. Rambutnya bahkan tak lagi tertata rapi.


Suara dering ponsel gadis itu sudah berulang kali berbunyi.Tapi Rein tidak memperdulikannya. Dia larut dalam kesedihan.


Ponsel itu masih saja berbunyi. Rein mau tidak mau beranjak dari ranjang untuk melihat ponselnya yang berada di meja belajar.


Ada pesan dan panggilan masuk. Rein kemudian menerima panggilan masuk video dari Darwin. Pria itu khawatir pada dirinya. Karena Rein tak kunjung ke rumah Darwin untuk les kembali.


"Halo!" ucapnya sambil menyeka air mata di kedua pipinya.


Darwin terkesiap melihat penampilan Rein yang acak-acakan. Rambutnya berantakan, matanya merah dan sembab.


"Kamu menangis? Ada apa?" tanya Darwin, tampak wajah pria itu khawatir di dalam panggilan video.


"Ada apa? Kenapa meneleponku?" tanya Rein tidak menjawab pertanyaan Darwin tadi.


"Kenapa tidak datang untuk belajar lagi? Apa kamu sudah merasa pandai?" tanya Darwin.


Rein terdiam, mimik wajahnya lama-lama hendak menangis. Dan akhirnya Rein menangis lagi. Darwin semakin khawatir, dia takut terjadi sesuatu pada Rein.


"Kamu kenapa? Buka jendelamu!" pinta Darwin.


Rein berdiri, lalu membuka jendelanya. Tampak dari kamar Darwin, pria itu menatap dirinya. Rein semakin menangis.


"Ayo keluar! Kamu bisa cerita banyak hal pada ku!" pinta Darwin pada Rein. Dari panggilan video itu, Rein menganggukkan kepala.Lalu segera menutup panggilan mereka.


Setengah jam kemudian, Rein keluar dengan menggunakan celana pendek di atas lutut. Dengan jaket tebal di atasnya. Dia menutup kepalanya dengan bagian atas jaketnya.


Jaket itu di berikan oleh Guen beberapa minggu yang lalu. Rein mengambilnya begitu saja.


Dia turun dari lantai dua menuju ke pintu utama. Di ruang tamu, sang ayah masih duduk terdiam di sana. Rein melewatinya begitu saja.


"Rein!" panggil Hito pada putrinya. Tapi Rein tidak memperdulikan pria itu. Dia berjalan terus tanpa memandangnya.


"Rein! Papa memanggilmu? Kamu mau kemana malam-malam berpakaian seperti itu?" tanya Hito,kali ini suaranya mulai meninggi.


Langkah Rein terhenti, dia membalikkan badannya. Menatap ke arah Hito.


"Kemana Rein pergi? Papa tidak perlu perduli! Papa bahkan tidak peduli perasaan Rein dan mama." Jawab Rein marah. Dia lalu berjalan kembali dan mempercepat langkahnya.


Hito hanya bisa menghela napas panjang. Dia sangat merasa bersalah karena masalah ini.

__ADS_1


Rein berlari ke depan rumah Darwin. Pria itu sudah berada di sana dengan motor miliknya.


"Pakailah!" pinta Darwin pada Rein sambil memberikan helm.


Rein memakainya dan segera naik ke atas motor Darwin.


"Kita mau kemana?" tanya Rein.


"Ikut aja, nanti pasti kamu akan suka!" ucap Darwin, pria itu kemudian menghidupkan mesin motornya. Lalu segera melaju di jalanan.


Malam yang dingin membuat Rein menggigil. Karena gadis itu hanya memakai celana pendek.Darwin akhirnya melambatkan laju motornya.


Setengah jam kemudian keduanya sampai di tempat. Darwin memarkirkan motor miliknya. Lalu keduanya turun dari motor itu. Darwin membantu Rein melepaskan helm yang tadi dia pakai.


"Dimana ini?" tanya Rein memperhatikan sekitarnya.


"Ini pinggiran kota, ayo kita naik!" ajak Darwin sambil memegang tangan Rein. Gadis itu berhenti di tempatnya, dia menarik tangannya dari Darwin.


"Kenapa?" tanya pria itu heran.


"Aku takut, di sini terlalu sepi dan gelap!" jawab Darwin.


"Gak apa-apa, aku sering ke sini kok kalau lagi sedih!" balas Darwin menenangkan Rein.


Gadis itu masih ragu-ragu. Tapi Darwin berusaha menyakinkan dirinya lagi. Senyum kecil muncul di sudut bibir pria itu. Rein akhirnya bisa mempercayainya.


Keduanya naik ke atas tangga, lumayan banyak anak tangga itu. Ketika sampai di atas. Rein membelalakkan kedua matanya. Hamparan pemandangan lampu malam kota tampak dari sana. Dia tidak pernah melihat ini sebelumnya.


Di langit pula rembulan dan bintang mewarnai malam itu. Darwin mengajak Rein duduk di sebuah batu besar di atas sana.


"Sini!" Darwin mengulurkan tangannya untuk menarik Rein ke atas batu.Keduanya lalu duduk bersampingan di atas batu itu.


"Bagus kan? Kamu bisa bercerita apa saja di sini. Tanpa ada orang lain yang mendengarnya," ucap Darwin.


"Ayahku memiliki wanita lain,dan dia juga mempunyai anak dari wanita itu!" ucap Rein memulai bercerita.


"Aku juga mengalaminya, mungkin lebih buruk dari yang kamu alami." Darwin memandang langit,dia teringat kembali masa kecilnya. Dimana dia harus menerima kenyataan bahwa sang ayah memiliki wanita lain selain ibunya.


"Apa ayahmu juga mencari wanita lain?" tanya Rein.


"Ya, dia bahkan membuat mama ku depresi dan akhirnya meninggal dunia. Di saat aku masih kecil," balas Darwin.


"Pasti sangat berat untukmu waktu itu?" tanya Rein,dia memandang wajah Darwin. Wajah yang menyimpan banyak rahasia. Rein ingin sekali mengetahuinya.


"Setelah apa yang aku alami di dunia vampir itu. Mungkin memang Darwin yang sekarang adalah reinkarnasi dari vampir Darwin. Aku hanya perlu menunggunya untuk mengingat kembali semua ingatannya," batin Rein.


"Ya, tapi aku tidak cengeng seperti dirimu," Darwin menatap wajah Rein lalu menyentuh hidung Rein dengan telunjuknya.


"Lihatlah kedua mata indah mu. Kini tampak jelek karena menangis," imbuh Darwin lagi.


"Biarin!" bibir Rein mengerucut karena kesal pada Darwin.


"Coba tersenyum, kan lebih manis!" Darwin mencubit pipi kanan Rein.


"Ah sakit!" ucap gadis itu, Rein yang biasanya sudah mulai kembali.


"Masak sakit?" Darwin malam menggelitik Rein. Gadis itu tidak bisa menahan tawanya karena ulah Darwin.


"Sudah! Sudah cukup. Geli sekali!" Rein menghentikan tangan Darwin yang menggelitik pinggangnya.


"Nah gitu dong tertawa lepas!" ucap Darwin.


Rein tersenyum, hatinya lumayan tenang saat ini. Dia ingin melupakan sejenak masalah keluarganya.

__ADS_1


Darwin memperhatikan jaket yang di pakai oleh Rein. Bukan style gadis itu.


"Ini jaket kakakmu?" tanya Darwin.


Rein menatap jaket yang dia kenakan.


"Bukan,ini hadiah dari kak Guen. Cocok gak di aku?" tanya Rein.


Mendengar nama Guen, Darwin langsung bermuka masam.


"Gak cocok!" balasnya dingin.


"Masak sih?Kan bagus?" tanya Rein menanggapi.


"Lepaskan!" pinta Darwin.


"Apanya?" tanya Rein tidak paham dengan pria di sampingnya ini.


"Jaket itu, ganti dengan jaket ini!" Darwin melepaskan jaket miliknya.


"Hah kenapa harus ganti?" tanya Rein bingung.


"Lepas ya lepas!" Darwin menatap serius wajah Rein. Gadis itu akhirnya melepaskan juga jaket yang dia pakai.


Gadis itu hanya memakai kaos pendek.Darwin menelan ludahnya ketika melihat Rein yang seksi di dekatnya.


"Cepat pakai!" Darwin memberikan jaket miliknya. Rein segera menerimanya dan memakai jaket itu. Meski sedikit kebesaran namun jaket milik Darwin lebih hangat dari pada yang di berikan oleh Guen.


"Sini jaketnya!" Darwin merebut jaket yang di lepas oleh Rein tadi.Lalu turun dari batu yang didudukinya. Pria itu berjalan ke arah pinggir jurang.


"Kamu mau apa?" tanya Rein.


Darwin melempar jaket itu ke bawah jurang. Rein terkejut dengan apa yang dia lihat. Untungnya ponsel gadis itu tidak dia letakkan di dalam saku jaket tadi.


"Kenapa kamu buang?" tanya Rein panik.


Darwin kembali duduk di samping Rein. Gadis itu tampak bingung dengan apa yang di lakukan oleh Darwin.


"Lain kali jangan memakai apapun yang di berikan dari pria itu," ucap Darwin dingin.


"Kenapa tidak boleh?"


"Aku tidak suka!" jawab Darwin singkat.


"Apa kamu mulai cemburu?" tanya Rein menebaknya.


"Menurutmu?" Darwin menatap wajah Rein. Rambutnya tertiup angin, membuat gadis itu harus berkali-kali merapikannya.


"Kenapa harus cemburu? Tidak ada alasan yang tepat bukan?" tanya Rein.


Darwin mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Rein.


"Alasannya adalah, kamu milikku!" ucap pria itu.


"Siapa bilang aku milikmu? Sejak kapan?" tanya Rein ingin mengetahui status jelas mereka.


"Sejak pertama kali kita berciuman, kamu sudah milikku! Dan selamanya menjadi milikku," Darwin kembali mencium bibir Rein, kali ini dia melakukannya cukup lama dan lembut.


Rein mulai terlena, dia membalas ciuman pria itu. Keduanya larut dalam rasa yang sudah lama tidak mereka rasakan.


Hingga deru napas keduanya mulai terengah-engah. Rein mendorong tubuh Darwin.


"Huft huft huft," Rein dan Darwin mengambil nafas.

__ADS_1


"Rein, jadilah pacarku!" pinta Darwin sambil memegang kedua pipi Rein. Mata mereka saling bertemu.


Rein lalu menganggukkan kepalanya. Darwin tersenyum, dia kembali mencium bibir Rein.Malam ini keduanya ingin mengukir kenangan indah dalam hidup mereka. Di tempat yang tenang seperti tempat yang saat ini mereka datangi.


__ADS_2