Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Ciuman Penyembuh


__ADS_3

Tubuh Rein berkeringat dingin, dia tengah tidur namun merasakan perasaan yang tidak bisa di jelaskan.


Di dalam tidurnya, Darwin tengah memanggil-manggil namanya. Rein kebingungan karena tidak bisa menemukannya.


"Darwin!" teriak Rein ketika dia terjaga dari tidurnya.


"Hanya mimpi?" mimpi buruk tadi begitu nyata bagi Rein. Dia bangun dari ranjangnya dan menatap ke arah luar dari jendela kamar.


"Dimana sebenarnya kamu Darwin?" ucap Rein khawatir.


Dia mencoba menggunakan kekuatannya untuk berteleporttasi. Dia ingin mencari Darwin.


Rein pernah mempelajari cara berpindah tempat saat masih bersama dengan pria itu.


"Sebaiknya aku mencobanya lagi, siapa tahu bisa menemukan dia!" pikir Rein.


Dia lalu memejamkan kedua matanya, memikirkan wajah Darwin.


Batu permata biru yang ada pada dirinya bercahaya. Namun Rein tidak menyadarinya. Cahaya itu seperti menelan tubuhnya.


Dan Rein sudah berpindah, dia tidak lagi berada di kamarnya.


Bug.


Tubuh Rein terantuk dinding batu.Dia mendarat tidak sempurna. Tapi dia berhasil berteleporttasi.


"Ah sakit! Ngomong-ngomong aku dimana ini?" tanyanya.


Rein berada di sebuah gua. Dia menghidupkan api dari tangan kanannya untuk penerangan. Karena di dalam gua itu sangat gelap.


"Dasar bodoh. Malah berpindah ke tempat seperti ini? Mana mungkin dia ada di sini."


Rein menggerutu sepanjang jalan di dalam gua itu. Dia mencoba menemukan ujungnya. Namun semakin berjalan masuk semakin dia tidak menemukannya.


Bruk


Rein terjatuh karena tersandung sesuatu. Api di tangannya sempat padam karena dia tidak fokus. Lalu kakinya tidak sengaja mengenai sesuatu.


"Apa ini?" gumamnya,lalu kembali menyalakan api yang lebih besar. Seketika menjadi terang di dalam gua itu.


Rein membelalakkan kedua matanya ketika melihat siapa yang tadi membuatnya jatuh. Darwin tengah tak sadarkan diri di gua itu.


"Darwin!" panggilnya mencoba membangunkan pria itu.


Rein melihat bahunya yang mulai menghitam. Darwin tengah sekarat.


"Apa yang terjadi? Kenapa bahu mu terluka?"

__ADS_1


Perlahan mata Darwin terbuka, samar-samar dia melihat wajah Rein di depannya.


"Rein," panggilnya. Rein mendekat ke wajah Darwin. Memastikan pria itu masih sadar atau tidak.


"Iya ini aku Darwin? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Rein.


"Darah! Aku butuh darahmu!" pintanya.


Rein tahu maksud dari ucapan Darwin. Dia segera mengeluarkan belatinya. Dan menggores lengan gadis itu. Ketika darah segar keluar, Rein mengarahkannya ke mulut Darwin.


Pria itu menelannya perlahan, anehnya luka di bahu Darwin tak bisa kembali seperti semula.Jika pria itu terluka, biasanya obat paling manjur adalah darah milik Rein.


Tapi kali ini darah itu tidak berfungsi. Darwin masih tetap menggigil dan kesakitan di bahunya.


"Darwin bagaimana ini? Kenapa lukamu tidak sembuh?" tanya Rein.


"Luka ini karena pedang perak. Vampir perlahan akan musnah jika terkena nya," jelas Darwin dengan suara lirih. Kulitnya yang sudah pucat,semakin pucat kali ini.


"Pasti ada pengecualiannya kan untukmu?" tanya Rein.


"Ada," jawabnya.


"Apa itu? Aku akan melakukannya untukmu? Atau mencarikan obat itu untukmu?" tanya Rein.


Darwin menunjuk ke arah wajah Rein. Gadis itu tidak mengerti.


Darwin menganggukkan kepalanya.


"Aku harus apa? Darahku sudah tidak bisa kan?" tanyanya.


Darwin lalu menunjuk ke arah bibir Rein.


"Bibirku? Darah dari bibirku? Kamu gila ya?" Rein pikir, Darwin membutuhkan darah di bagian bibirnya. Kini pria itu menggelengkan kepalanya.


Rein semakin bingung. Lalu tanpa menjelaskan lagi, Darwin mencium bibir Rein. Seketika gadis itu terkejut.Tapi dia masih tidak mendorong tubuh Darwin.


Bibir pria itu sangat dingin, sedingin es yang membeku terlalu lama.


Darwin melepaskan bibir mereka. Lalu sedikit luka di bahunya mulai membaik. Rein terkejut dengan keajaiban itu. Dia baru saja melihatnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Rein.


"Nanti aku jelaskan, mari lakukan lagi!" ajak Darwin.


"Lagi? Tidak-tidak bisa. Itu ciuman pertamaku? Kamu sengaja kan?" tuduh Rein pada Darwin.


"Aku tidak mau!" ucapnya lagi.

__ADS_1


Darwin mulai mengerang kesakitan di bahunya. Luka yang tadi mulai membaik kembali melebar dan menghitam.


"Lukanya?" Rein khawatir.


"Sudahlah, biarkan saja. Sebaiknya kamu kembali ke istana saja!" pinta Darwin. Dia tidak ingin memaksa Rein untuk memberinya ciuman lagi. Sepertinya gadis itu tidak nyaman melakukannya.


"Tapi?" Rein mulai bimbang. Dia memang merasa canggung saat berciuman dengan Darwin. Dan merasa di rugikan. Tapi melihat pria itu sekarat seperti sekarang membuatnya takut.


Rein takut tidak akan bertemu dengannya lagi. Tanpa pikir panjang, Rein segera mencium bibir Darwin. Memberinya kehangatan dari bibir itu.


Darwin tersenyum di dalam hati. Dia ikut menikmati pola permainan ciuman yang dilakukan oleh Rein. Gadis itu memang amatir dalam hal ini.


Darwin lalu memegang paha Rein. Membiarkan gadis itu duduk di atas pangkuannya. Lalu memegang kedua pipinya. Mengajarkan pada gadis itu cara melakukan ciuman antara pria dan wanita.


"Umm," Rein mulai terbawa suasana. Wajahnya terasa memanas saat ini. Dia tidak tahu mengapa seperti itu.Namun yang dia tahu, dia ingin yang lebih lagi.


"Sadar Rein!"batinnya. Ketika semakin panas keduanya, Rein mendorong tubuh Darwin. Bahu milik pria itu sudah normal kembali.


"Cukup! Luka mu sudah sembuh!" Rein hendak berdiri dari pangkuan Darwin.


Namun dia tidak bisa melakukannya karena Darwin mengunci pinggangnya dengan kedua tangan pria itu.


"Lepas!" pinta Rein.


"Tidak mau!" ucap Darwin manja. Entah sejak kapan dia mulai seperti anak kecil. Rein baru menyadarinya.


"Lepas atau aku gigit?" ancamnya. Darwin menggelengkan kepala.


Api yang tadi Rein buat sudah padam. Kini hanya gelap gulita di dalam gua itu. Untuk Darwin tidak menjadi masalah. Karena dia bisa melihat di kegelapan. Sedangkan Rein dia tidak bisa melihat ekspresi wajah Darwin saat ini.


"Lepas Darwin!" Rein meronta. Namun Darwin menarik kembali pinggang gadis itu. Hingga tanpa sengaja, tubuh Rein jatuh mengenai wajah Darwin.


Pria itu merasakan sesuatu yang kenyal mengenai wajahnya. Rein marah dan memukul wajah Darwin.


"Sialan kamu! Tahu begitu aku biarkan kamu sekarat saja!" Gerutunya sambil meronta.


"Nyamannya," Darwin malah menggosokkan wajahnya di dada gadis itu. Jika penerangannya ada, wajah Rein sudah memerah saat ini.


Rein lalu menggigit telinga Darwin,untuk bisa lepas dari pria itu.


"Ah kamu shio anjing ya?" tanya Darwin sambil memegang telinganya yang sakit karena di gigit oleh gadis itu.


"Iya aku memang shio anjing. Anjing galak!" Lagi-lagi Rein menggigit telinga Darwin. Membuat pria itu terpaksa melepaskan Rein.


"Sial sekali yang menjadi pasanganmu nanti? Sudah galak, kejam pula," protes Darwin. Kedua telinganya sudah mendapatkan gigitan di masing-masing tempat.


"Apa yang kamu bilang? Sial? Aku yang sial bertemu denganmu saat ini?" gerutunya.

__ADS_1


Gadis itu tidak berhenti merajuk hingga tertidur di bahu Darwin.


__ADS_2