
Rein dan Darwin duduk di sofa ruang tamu. Keduanya menunduk dalam diam. Hati keduanya sama-sama khawatir. Karena di depan mereka. Ilham tengah menatap tajam ke arah keduanya.
Pria itu berjalan bolak-balik sambil memikirkan sesuatu. Dia tidak akan melepaskan keduanya begitu saja.
"Sejak kapan kalian bersama?" tanya Ilham membuka pertanyaannya.Dia kemudian duduk di depan Rein dan Darwin.
Darwin menatap wajah pamannya. Dari wajah itu tampak rasa khawatir dan juga amarah yang dia tahan.
"Beberapa minggu ini paman!" jawab Darwin.
Ilham menghela napas panjang. Dia tidak mengira bahwa Darwin dan Rein berpacaran. Ilham terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Hingga tidak sempat mengawasi Darwin.
"Apa kalian pernah melakukan hal yang lebih dari ini?" tanya Ilham. Rein dan Darwin dengan cepat menyanggahnya.
"Tidak pak Ilham,!" ucap Rein.
"Tidak paman!" jawab Darwin juga.
Ilham sedikit merasa lega. Dia belum siap jika harus mempunyai cucu dari keponakannya itu untuk sekarang.
"Baiklah, paman minta kalian tidak melebihi batas dalam berpacaran. Jika sampai itu terjadi,paman orang pertama yang akan memisahkan kalian!" ucap Ilham memperingati keduanya.
"Baik paman!" jawab Darwin, Rein ikut menganggukkan kepalanya.
"Sekarang,kamu kembalilah ke rumahmu Rein!Bapak ingin mengatakan sesuatu pada Darwin!" pinta Ilham mengusir Rein dengan cara halus.
"Baik pak Ilham," Rein mengambil buku-buku yang tadi dia bawa. Gadis itu menatap Darwin sebelum pergi dari rumahnya.
Kini hanya tersisa Ilham dan Darwin saja di ruangan itu. Ilham memijit keningnya yang mulai pusing sejak melihat kejadian tadi.
"Darwin!" panggilnya.
Darwin menatap pamannya itu dengan wajah tanpa rasa bersalah.
"Kamu jangan merusak anak gadis orang? Kalian masih terlaku muda untuk hal-hal seperti ini?" ucap Ilham menasihati keponakannya itu.
"Iya paman, aku mengerti. Tapi sebagai pria memang sulit menahan diri di dekatnya," gumam Darwin dengan suara pelan.
"Paman tahu, tapi kamu harus menjaga dia. Kalau kamu memang sayang dengan Rein."
"Iya paman, Darwin tidak akan melakukannya lagi." Darwin menyesalinya.
Dia memang seharusnya menjaga Rein. Karena cinta tidak harus saling bersentuhan tubuh.
"Baiklah, paman harap kamu tidak mengecewakan paman," ucapnya lalu pergi meninggalkan Darwin sendirian di ruang tamu.
__ADS_1
Rein kembali ke rumahnya lebih cepat. Dia tidak jadi belajar matematika pada Darwin.
"Semua ini gara-gara dia!" gumam Rein kesal pada Darwin.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan video dari Darwin tertera di layar ponselnya.
"Panjang umur, baru juga di omongin," gumam Rein.Dia lalu menerima panggilan video itu.
"Kenapa lagi?" tanya Rein,dia tengah tiduran di atas ranjang.
"Kangen kamu!" goda Darwin.
"Baru juga tadi ketemu!" balas Rein.
Darwin tertawa melihat wajah Rein yang terus cemberut sejak tadi.
"Ngapain ketawa?Kamu di marahin kan sama pak Ilham?" tanya Rein sedikit khawatir.
"Nggak kok,cuma di kasih tahu kalau kayak tadi lagi. Kita bakal di nikahin." Ucap Darwin membohongi Rein.
"Apa? Beneran pak Ilham bilang begitu?" tanya Rein mudah percaya dengan yang di ucapkan Darwin.
"Beneran, mau gak kalau kita menikah muda?" tanya Darwin.
"Kan bisa nikah sambil kuliah!" balas Darwin.
"Emang kamu udah siap?" tanya Rein.
"Siap dong!" Darwin menahan tawanya, Rein begitu lugu. Sampai segitu seriusnya berbicara tentang pernikahan di usia muda.
Darwin memang ingin menikah muda. Tapi dia harus bisa mendapatkan pekerjaan dahulu. Baru bisa menghidupi Rein kelak.
Rein tampak berpikir, dari video yang terlihat. Gadis itu mungkin tengah membayangkan pernikahan mereka nantinya.
"Udah jangan terlalu di pikir ucapan ku tadi! Kita sama-sama meraih mimpi masing-masing dulu. Baru menikah!" ucap Darwin.
"Nah gitu dong! Eh bentar ada panggilan lain masuk!" Rein mencoba melihat panggilan dari siapa.
"Siapa?" tanya Darwin.
"Kak Guen," balas Rein. Darwin tampak langsung cemberut mendengar nama itu.
"Kenapa dia menelepon mu jam segini?" tanya Darwin.
"Entah,aku coba menerimanya dulu!" ucap Rein.
__ADS_1
"Gak perlu,biarin aja!" balas Darwin.
"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Rein menggoda Darwin.
Rein tersenyum melihat wajah Darwin yang cemberut di layar ponselnya.
"Gak dia tidak setampan aku, ngapain cemburu!" balas Darwin tidak mau mengaku.
"Masak sih!" Tiba-tiba panggilan mereka terputus.
"Yah habis baterainya!" ucap Rein segera mencari charger ponsel.
Dia memilih untuk pergi mandi terlebih dahulu. Sambil menunggu baterai ponselnya penuh.
Darwin tidak bisa menghubungi Rein. Dari jendela,pria itu melihat ke arah jendela Rein. Tapi tertutup, Darwin tidak bisa melihat Rein sedang apa.
"Pasti baterai ponselnya habis!" ucapnya tidak mau berprasangka buruk pada Rein. Dia lalu meninggalkan ponselnya di atas meja kamarnya.
Darwin merasa lapar, dia memilih untuk masak terlebih dahulu. Ketika melewati kamar pamannya. Darwin tidak sengaja mendengar pembicaraan sang paman di dalam sebuah panggilan.
"Tolong mengertilah, aku memang masih mengumpulkan uang untuk kita bisa bersama! Kamu mau kan bersabar," ucap pamannya di dalam panggilan itu. Darwin berpikir tentang siapa yang tengah di telepon pamannya.
"Sepertinya seorang perempuan?" batin Darwin.
Tapi Darwin tidak mau menguping terlalu lama. Nanti jika ketahuan pamannya,dia pasti akan terkena omelan nya lagi.Sehari ini sudah membuat pria itu marah besar. Jangan sampai Darwin menambah amarahnya lagi.
Darwin melangkahkan kembali kakinya untuk menuju ke dapur. Dia melihat isi bahan makanan di kulkas. Lalu segera memasak makanan untuknya dan juga sang paman.Dia ingin membuat pria itu tenang dengan makanan yang dia masak.
Satu jam berlalu, Darwin sudah siap dengan makanan yang dia masak. Sang paman turun dari kamarnya, dengan wajah yang segar. Sepertinya dia baru saja mandi dan bersiap untuk pergi lagi.
"Paman, ayo kita makan!" ajak Darwin.
"Kamu makan dulu saja Win, paman ada perlu sebentar malam ini." Pria itu tampak rapi dengan pakaian kasualnya. Harum parfum menyelimuti udara sekitarnya.
"Mau kemana paman?" tanya Darwin.
"Bertemu calon tante mu!"balasnya singkat. Lalu segera pergi meninggalkan Darwin sendirian di rumah.
"Calon tante? Aku kira selama ini tidak ada yang mau di dekati olehnya!" gumam Darwin, dia akhirnya menikmati sendiri masakannya.
"Sayang banget udah masak sebanyak ini, andai Rein ada di sini! Pasti dia akan menghabiskan semua makanan ini," gumamnya lagi.
Ilham segera melajukan motornya,menuju ke rumah wanita yang selama ini berada di dalam hatinya.Wanita itu tengah merajuk karena Ilham terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Hingga mengabaikan wanita yang telah menemaninya selama tiga tahun ini. Dia meminta Ilham untuk menemuinya karena dia ingin mengatakan sesuatu yang penting pada pria itu malam ini.
__ADS_1