Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Romantis


__ADS_3

Hari ini pengumuman kenaikan kelas. Semua murid tengah berbahagia. Karena mereka telah naik kelas. Begitu pula bagi murid kelas dua belas. Mereka telah lulus sekolah menengah atas.


Tinggal mereka melanjutkan ke universitas pilihan mereka masing-masing. Guen dan Tifo salah satu dari mereka.


Tifo telah memutuskan akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Mengikuti mamanya di sana. Liburan ini dia akan berangkat.


Sedangkan Darwin akhir-akhir ini sibuk mencari pekerjaan sampingan. Tapi usahanya sangat sulit, seperti tengah di halangi oleh seseorang saja. Darwin mencoba mencari pekerjaan di restoran atau di toko-toko yang tanpa menggunakan ijazahnya. Namun mereka semua menolak dirinya karena masih pelajar.


"Huft ternyata sulit juga mencari pekerjaan. Karena itu paman melarang ku saat ini untuk bekerja," gumam Darwin di dalam kamar mengingat ucapan pamannya.


Dia kini tengah berada di rumah sang paman. Sesekali pria itu pulang untuk mengunjungi dirinya.Tapi Darwin kini sendirian di rumahnya.


Dia tengah merindukan Rein, gadis itu entah sedang sibuk apa di rumahnya.Ketika Darwin memikirkan tentang Rein. Suara istrinya itu terdengar dari luar kamarnya.


Rein masuk ke dalam rumah Darwin begitu melihat pintu rumah tidak di kunci. Gadis itu lalu naik ke kamar untuk mencari dimana Darwin berada.


"Rein," sapa Darwin ketika melihat Rein menuju ke kamarnya. Dia berdiri di ambang pintu.


"Kamu lagi tidur tadi ya?" tanya Rein, gadis itu mendekati Darwin.


"Tidak, hanya berbaring saja, oh iya, aku lapar. Masakin dong!" pinta Darwin manja. Rein mengerutkan keningnya.


"Sejak kapan dia jadi manja seperti ini?" batin Rein tidak percaya.


"Aku masak? Tapi aku gak bisa Win?" ucap Rein takut malah membuat makanannya tidak enak.


"Ayolah kamu pasti bisa, kan masakin suami bisa dapat pahala!" ucap Darwin sambil mengedipkan sebelah matanya.


Tampangnya kali ini mengingatkan Rein pada seekor kucing yang meminta dimanja.


"Baiklah, aku akan masak. Tapi kalau tidak enak, jangan protes ya?" ucap Rein.

__ADS_1


"Tidak akan!" ucap Darwin senang. Rein segera turun kembali, menuju ke dapur di rumah itu.


Dia melihat ke dalam kulkas,bahan-bahan apa saja yang tersedia di sana.


"Hanya ada cabai, telur dan wortel saja? Mau masak apa ini?" gumam Rein memikirkan apa yang hendak dia sajikan untuk suaminya nanti.


"Baiklah,kalau hanya ada ini lebih baik membuat nasi goreng saja," ucapnya lagi. Dia segera menyiapkan bumbu dan bahan membuat nasi goreng. Semoga saja bisa sesuai dengan lidah suaminya itu.


Ketika Rein sibuk memasak, dari belakang gadis itu. Darwin memeluk pinggangnya. Rein sempat terkejut karena ulah pria itu.


"Darwin!" panggilnya.


"Harum banget baunya,aku sudah tidak sabar melahapnya Rein," ucap pria itu.


"Masak sih? Bentar lagi sudah matang kok," balas Rein.


Setelah memastikan nasi gorengnya siap. Rein segera mematikan api di kompornya.


"Iya deh," Darwin duduk di kursi meja makan. Dia menunggu Rein menyiapkan nasi goreng untuknya.


Sepiring nasi untuk dirinya lalu sepiring lagi untuk Rein sendiri. Gadis itu duduk di samping kursi Darwin.


"Cobalah!" pinta Rein.


Darwin mulai menyuap nasi goreng yang berada di depannya. Ketika pertama mengunyahnya. Rein menatap wajah suaminya dengan gugup. Dia takut jika Darwin tidak menyukainya.


"Emmm ini enak sekali Rein," puji Darwin pada Rein.


"Benarkah?" tanya Rein tidak percaya.


"Iya,benar. Coba saja kalau tidak percaya?" pinta Darwin. Rein lalu mencoba nasi goreng di piringnya. Benar saja rasanya pas.

__ADS_1


"Kamu bilang gak bisa masak? Nyatanya enak kok!" puji Darwin lagi. Wajah Rein mulai memerah.


"Kalau begitu, lain kali akan aku masakan lagi untukmu," jawab Rein.


Darwin mengangguk sambil melanjutkan kembali melahap makanannya. Dia sangat lapar sekali. Hingga hanya beberapa suapan saja sudah bisa menghabiskan nasi goreng itu.


"Lagi dong Rein!" pinta Darwin pada Rein.


"Hah? Lagi? Tapi aku cuma buat dua piring saja?" balas Rein.


"Itu punya kamu," ucap Darwin sambil menunjuk nasi goreng di piring Rein yang masih ada sebagian.


"Kamu? Aku saja belum kenyang!" ucap Rein tidak mau membagi nasi goreng miliknya.


"Dasar pelit!" gerutu Darwin sambil bibirnya manyun. Rein hampir tersedak melihat Darwin yang bertingkah seperti itu.


"Ah baiklah, jangan merajuk lagi," balas Rein. Dia mengarahkan piringnya ke depan Darwin. Tapi pria itu malah menggelengkan kepalanya.


"Suapi?" ucap Darwin manja.


"Apa? Suapi kamu?" tanya Rein tidak percaya.


Darwin menganggukkan kepalanya. Rein hanya bisa patuh, dia menarik kembali piringnya lalu menyendok nasi goreng itu.


Satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut Darwin. Dia tampak tersenyum bahagia. Sambil mengunyah nasi goreng di mulutnya itu.


"Kok rasanya beda ya Rein?" tanya Darwin.


"Masak sih? Seharusnya sama Win. Kan sekali masak juga," balas Rein lalu bergegas mencoba nasi gorengnya lagi.


"Iya beda. Yang kamu suapi lebih manis. Soalnya ada kamu," balas Darwin menggoda Rein.

__ADS_1


"Apa sih kamu Win?" balas Rein malu. Ternyata setelah menikah, Darwin semakin romantis. Keduanya lalu bersenda gurau setelah menghabiskan makanannya.


__ADS_2