
Rein bersembunyi di balik pagar teras rumahnya. Dia mengamati rumah tetangga sebelah. Memastikan penghuninya tidak berada di depan pintu.Dari belakang gadis itu. Tifo mengeluarkan motor kesayangannya.
"Hei Rein! Kamu kenapa sih? Aneh banget pagi ini?" tanya Tifo pada sepupunya itu.
"Sstt! Cepat nyalakan motornya!" pinta Rein.
"Iya-iya, cerewet banget sih!" tifo segera menyalakan motor pria itu.Rein segera naik di belakang Tifo.
"Cepat jalan!" Rein memukul pundak Tifo agar pria itu segera mengemudikan motornya.
"Iya,sabar dong!" Tifo segera melajukan motornya ke jalanan. Rein merasa lega,karena tidak berpapasan dengan Darwin di depan rumah.
"Kamu kenapa sih Rein?Lagi kucing-kucingan sama seseorang?" tanya Tifo.
"Mau tahu aja, udah fokus ke depan sana!" ucap Rein.
"Dasar! Udah numpang, gratis,bawal pula!" gerutu Tifo.
"Kamu bilang apa?" Rein bersiap memukul kepala pria di depannya itu.
"Ampun nyai! Salah ngomong aja kok!" Tifo memilih meminta ampun dari pada terkena pukulan dari Rein.
"Awas ya!"
Mereka sampai di sekolah setengah jam kemudian. Rein bergegas turun dari motor dan melemparkan helm yang dia pakai pada Tifo.
"Astaga!" Tifo kelabakan karena tidak siap menerima helm dari Rein.
"Dasar gadis menyebalkan!" gerutu Tifo yang tidak di pedulikan oleh Rein. Gadis itu sudah berlari entah kemana.
"Sabar Fo, sabar. Setahun lagi kamu lulus dan pergi ke luar negeri. Tuh anak ngeselin pasti gak bisa berulah lagi!" ucap Tifo menyabarkan dirinya sendiri.
Dari arah belakang, motor milik Darwin tiba. Pria itu tampak gagah dengan motornya.Tifo merasa familiar dengan pria itu.
"Hei kamu? Bukannya kita bertetangga kan?" tanya Tifo.
"Aku?" Darwin menunjuk ke arahnya sendiri.
"Iya kamu!" jawab Tifo.
"Kamu tinggal di samping rumahku?Rumah Rein?" tanya Darwin. Tifo menganggukkan kepala.
"Ya, dia sepupuku,namaku Tifo, siapa kamu?" tanya Tifo.
"Aku Darwin."
"Apa kamu sekelas dengan Rein?" tanya Tifo lagi.Darwin menganggukkan kepalanya.
Keduanya lalu berjalan bersama menuju ke arah kelas mereka. Tifo mudah akrab dengan orang-orang baru. Makanya pria itu memiliki banyak teman di mana pun dia berada.
__ADS_1
"Kapan-kapan mainlah ke rumah kami Darwin!" ajak Tifo.
"Baiklah!" Darwin masuk ke dalam kelasnya, sedangkan Tifo masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk sampai di kelas pria itu.
Darwin melangkah pelan sambil memperhatikan Rein. Gadis itu tengah berpura-pura tertidur di dalam kelas.
Darwin tersenyum kecil melihat tingkah gadis itu. Dia tahu bahwa Rein pasti tengah malu jika bertemu dengan dirinya.
Darwin segera duduk di kursinya. Rein melirik ke arah pria itu. Memastikan dia sudah berada di kursinya.
Jam pelajaran sudah tiba,mereka melewati hari di sekolah dengan pelajaran yang tak hanya satu. Rein bahkan baru satu pelajaran sudah merasa kepalanya hampir pecah.
Siang harinya ketika jam istirahat tiba. Rein memutuskan untuk segera keluar dari kelas.Mencoba menghindari Darwin sebisa mungkin.
Rumi melihat Darwin tidak keluar untuk makan siang. Gadis itu mengambil bekal makan siangnya. Lalu berjalan ke arah Darwin.
Rumi memberikan bekal makan siangnya pada pria itu. Darwin mengernyitkan keningnya.
"Apa ini?" tanya pria itu.
"Aku membawa dua bekal,satu ini untukmu?" ucap Rumi disertai dengan senyuman manis di bibirnya.
Darwin menatap kotak makan berwarna pink itu. Dia enggan untuk membukanya. Sama sekali tidak berselera makan.
"Bawalah lagi! Aku sudah kenyang!" jawab Darwin dingin pada Rumi. Gadis itu tampak sedikit kecewa. Usahanya untuk mendekati Darwin sangatlah sulit.
"Hei, siapa namamu? Aku bahkan tidak ingat. Jangan terlalu peduli denganku! Pergilah!" ucap Darwin semakin dingin dan dengan suara lebih keras.
Untungnya di dalam kelas itu hanya ada mereka berdua. Rumi mengambil kembali kotak makan siangnya. Lalu berjalan keluar dari kelas itu.
Rumi berlari ke arah taman sekolah. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang.Kotak makan siang yang dia bawa jatuh ke tanah dan berhamburan.
"Ah maaf aku tidak sengaja!" ucap Guen pada Rumi.
"Tidak apa-apa kok kak!" jawab Rumi. Guen membantu Rumi mengambil kotak makan siangnya.
"Yah jadi kotor! Aku belikan lagi ya?" ucap Guen merasa bersalah.
"Tidak! Tidak perlu!" Rumi menggelengkan kepalanya.
"Benarkah?Siapa namamu? Aku Guen," tanya Guen.
"Aku Rumi kak," keduanya lalu saling akrab satu sama lain.
Rumi melupakan Darwin yang membuatnya kesal tadi.
"Jadi kamu satu kelas dengan Rein? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Guen pada Rumi setelah pria itu tahu dimana kelas Rumi.
"Loh kakak kenal sama Rein?" tanya Rumi.
__ADS_1
"Kenal dong, dia salah satu cewek yang unik. Banyak pria yang ingin mengejarnya di sekolah ini," jelas Guen sambil tersenyum senang.
"Termasuk kakak?" tanya Rumi.
"Kelihatan ya?" Guen tampak malu-malu. Rumi hanya tertawa namun di dalam hati gadis itu kesal mendengar nama Rein lagi yang di sebut.
Rumi semakin tidak suka dengan gadis itu.
"Kenapa sih dia lagi?" batin Rumi kesal.
Setelah jam pulang sekolah, Darwin terburu-buru pulang karena sang paman memberitahunya akan ada tamu. Dia di minta oleh pamannya untuk membantu menyambut mereka.
Ketika sampai di rumah, Ilham masih belum sampai. Darwin memutuskan untuk membantu pamannya membersihkan rumah mereka.
Ketika pria itu tengah menyedot debu, Ilham baru saja sampai. Pria itu tampak kerepotan membawa banyak bahan untuk dimasak.
"Paman? Kenapa beli banyak sekali?" tanya Darwin sambil segera membantu pamannya.
"Paman akan memasak untuk tamu kita nanti Win, sekalian untuk stok juga!" jelasnya.
"Oh begitu," Darwin kembali membersihkan debunya. Sedangkan Ilham bersiap untuk mencuci sayuran dan buah-buahan yang tadi di belinya.
"Siapa sih tamunya paman?" tanya Darwin penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri!" jawab pamannya misterius.
Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hingga akhirnya mereka bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat.
"Ah lelahnya! Kamu mandi dulu sana Win. Jangan lupa pakai baju yang sopan!" pinta Ilham pada keponakannya itu.
"Emangnya aku juga ikutan nemuin mereka?" tanya Darwin enggan.
"Iya dong, masak paman doang!" jawab sang paman.
"Baiklah, Darwin mandi dulu!" Pria itu segera menuju ke kamarnya, dia ingin membersihkan tubuhnya.
Ketika di dalam kamar,Darwin melihat ke arah jendela. Dai memperhatikan jendela kamar Rein.
"Tumben gak di buka?" gumamnya.
"Apa dia tengah pergi?" rasa penasaran mulai muncul di kepala Darwin.
"Kenapa aku tidak punya nomor ponselnya?" gumamnya lagi. Darwin lalu mengambil ponsel miliknya. Dia ingat bahwa ada grup kelas. Barang kali dia bisa menemukan nomor ponsel gadis itu dari sana.
Darwin sibuk mencari di grub kelas.
"Mana sih? Kenapa tidak ada foto profil dia?" gumam Darwin serius mencarinya.Namun nomor di sana terlalu banyak. Dan Darwin tidak mudah untuk mengenali mereka satu persatu.
"Ah sudahlah!" Darwin melempar ponselnya ke atas ranjang. Dia memutuskan untuk pergi mandi.Keringat di tubuhnya membuat dia tidak nyaman.
__ADS_1