
Rein kembali melatih dirinya di area berlatih. Setelah dia memaksa jiwa Rumi keluar dari tubuhnya. Gadis itu merasa sangat lemah. Dia terus mencoba untuk lebih kuat.
Tak jauh dari gadis itu, Darwin tengah mengamatinya. Sudut bibirnya mulai terangkat sedikit demi sedikit melihat Rein yang sangat gigih dalam berlatih.
Tapi ketika Rein menggunakan tenaga dalamnya kembali. Dia mengeluarkan darah lagi dari mulutnya. Rein terduduk dengan pedang tertancap di tanah sebagai tumpuan.
"Uhuuk! Sial!" gerutunya.
Darwin yang melihatnya segera mendekati Rein. Dia sangat khawatir pada gadis itu.
"Rein! Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Darwin panik.
"Aku baik-baik saja," jawabnya sambil menghapus darah di bibirnya.
"Tidak! Biar aku memeriksa mu," Darwin membiarkan tubuh Darwin duduk bersila di tanah. Dari belakang punggung Rein, Darwin memeriksa dengan kekuatannya.
Darwin bisa melihat gerakan yang kacau dari kekuatan batu permata miliknya di dalam tubuh Rein. Ada kekuatan lain yang tercampur di sana. Sehingga membuat tubuh Rein luka dalam.
"Ada luka sebesar ini kenapa hanya diam!" sentak Darwin kesal. Gadis itu terlalu menyembunyikan keadaannya dari Darwin.
"Ini bukan masalah serius, jika di biarkan akan sembuh dengan sendirinya!" ucap Rein.
Darwin berusaha memulihkan luka itu. Meski sedikit menguras energinya, Darwin bisa menekan luka itu untuk sementara waktu. Asal Rein tidak menggunakan paksa kekuatan dalam tubuhnya. Maka tubuh itu akan baik-baik saja.
"Jangan menggunakan kekuatan dengan paksa! Tubuhmu sangat lemah!" pinta Darwin.
"Aku tahu!" Rein berdiri dan mengambil pedang miliknya. Dia hendak kembali berlatih. Tapi Darwin dengan paksa mengambil pedang itu.
"Kembali ke kamar dan istirahatlah, jangan berlatih lagi!" perintah Darwin.Dia menatap gadis itu dengan marah. Rein hanya cemberut saat mengetahui pria itu memarahinya.
"Baiklah!" ucapnya sambil berjalan ke luar dari area latihan itu.
Rumi tiba-tiba muncul di hadapan Rein ketika gadis itu sudah jauh tempatnya tadi.Darwin pun sudah pergi dari sana.
"Rumi?Kenapa kesini?" tanya Rein.
Rumi berjalan semakin dekat dengan Rein.Wajah gadis itu tampak sangat serius. Dan ingin mengintimidasi Rein.
"Ada apa ini?" tanya Rein mulai khawatir.
"Kamu menyukai Darwin?" Rumi langsung saja pada intinya.
"Ap-apa?" Rein gugup.
"Kamu dan Darwin? Apa kalian ada perasaan?" tanyanya lagi.
"Ti-tidak, kami tidak saling menyukai!" jawab Rein tapi dia memalingkan wajahnya dari Rumi. Rein takut menatap kedua mata wanita itu.
__ADS_1
"Tapi aku lihat kamu menyukainya!" Rumi tidak lagi mendekati Rein. Dia berjalan ke sisi yang lain dari gadis itu. Melipat kedua tangannya lalu bersandar samping dinding di dekat mereka.
"Jangan kamu teruskan hatimu itu! Karena kamu tidak akan bisa mendapatkannya. Selamanya Darwin terikat dengan ku, dia adalah milikku!" ucap Rumi egois. Mendengar pernyataan dari Rumi. Rein merasa hatinya sakit.
"Benarkah yang dia katakan?" batin Rein sedih.
"Bagaimana dengan Darwin? Apa dia juga masih mencintaimu? Bagaimana kalau di hatinya sudah tidak ada dirimu?" tanya Rein.Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Rumi.
"Tentu saja dia masih mencintaiku,asal kamu segera pergi dari sisinya dan tidak mengganggu dia lagi!" Rumi tampak serius dengan ucapannya.
"Jika aku tidak mau mundur? Lalu kenapa?" tanya Rein.
"Apa?Kamu berani?" Rumi tampaknya kesal dengan Rein. Kedua wanita itu saling bertatap tajam.
"Darwin berhak memilih, dia yang memiliki perasaannya," jawab Rein.
Rumi mengeluarkan pedang miliknya. Rein juga mengeluarkan pedang peninggalan ayahnya. Keduanya siap bertarung. Meski nyawa mereka menjadi taruhannya. Keduanya tidak peduli, harga diri mereka saling di pertahankan.
Rumi menyerang terlebih dahulu. Rein juga tak mau kalah, dia juga menyerang Rumi. Pertempuran tak bisa terelakkan. Suara pedang beradu terdengar jelas.Keduanya sama-sama hebat.
Rumi dan Rein menjauh satu sama lain,keduanya terengah-engah. Mulai mengatur nafas dan energi untuk kembali menyerang.
"Trang trang trang!" suara pedang semakin terdengar keras.
Braak! Rein tersungkur ke belakang. Gadis itu bersimbah darah di pakaiannya. Dia mendapatkan satu luka di paha kirinya.
"Ah!" rasa nyeri menjalar ke kaki gadis itu.Tapi dia mencoba bertahan dan kembali berdiri. Mengacungkan pedangnya sekali lagi.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Darwin heran. Kedua matanya melihat darah yang mengalir dari kaki Rein.
"Ini urusan wanita. Jangan ikut campur!" ucap Rumi pada Darwin.
"Kamu?" tunjuk Darwin pada Rumi kesal.
"Rein?" kini Darwin mengarah pada Rein, meminta penjelasan pada gadis itu.Tapi Rein hanya diam sambil menahan sakit di pahanya.
Melihat Rein yang kesakitan, Darwin membiarkan keduanya tanpa penjelasan terlebih dahulu. Dia segera mengangkat tubuh Rein. Untuk membawanya ke kamar gadis itu.
"Darwin!" Rumi kesal karena Darwin lebih memperhatikan Rein dari pada dirinya.Darwin tidak peduli pada Rumi. Dia segera melangkah pergi dari sana.
Rein menatap wajah Darwin, pria itu tampak marah juga khawatir.
Ketika sampai di kamar,Darwin menurunkan Rein di atas ranjang. Membiarkan gadis itu duduk di sana sambil bersandar.
"Dimana lukanya?" tanya Darwin.
"Aku bisa mengobatinya sendiri!" jawab Rein malu jika sampai Darwin melihat di bagian mana luka itu.
__ADS_1
"Dimana?" tanyanya sambil menekan kata itu.
Rein menunjuk ke arah paha kirinya.Darwin mendelik, kedua pipi Rein merona.
Darwin merobek kain yang menghalangi luka itu. Rein terkejut dengan apa yang dilakukan olehnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rein heran.
"Mengobati lukamu,"jawabnya.
"Aku bisa mengobatinya sendiri," Rein menghalangi tangan Darwin untuk menyentuh pahanya.
"Tidak! Akan lama jika menggunakan obat biasa!" Darwin mengarahkan mulutnya ke luka itu. Lalu hendak menghisap darahnya.
"Darwin jangan?" Rein melarang Darwin untuk lebih dekat lagi. Dia menutupi pahanya dengan kain.
"Kenapa?Kamu malu?" tanya Darwin, wajah Rein merona seperti warna udang. Darwin tersenyum kecil melihat Rein yang seperti ini,membuatnya semakin ingin menggoda gadis itu.
"Kenapa malu? Bagian mana yang belum pernah ku lihat?" tanya Darwin sengaja menggoda Rein. Mengingatkan dia pada saat Darwin dan Rein dalam satu bak mandi.
"Kamu!" Rein malu tapi juga kesal dengan Darwin yang terus menggodanya.
Pria itu segera membuka kain yang menutupi luka Rein. Menghisap darah segar yang keluar darinya. Rein merasa kali ini sangat berbeda,cara Darwin mengobati luka itu.
"Ssshht," bibir Rein tiba-tiba mengeluarkan suara itu. Rasa geli bercampur aduk yang tengah dia rasakan. Karena selain menghisapnya, tangan Darwin juga tidak mau diam.Tangannya mengelus paha mulus Rein.
"Ah Darwin!" Rein lagi-lagi mengeluarkan suara menggelikan. Darwin melirik gadis itu sambil tetap menghisap lukanya. Sekalian menikmati makanannya hari ini.
Bagian intim dari gadis itu hampir terlihat,karena Darwin sengaja membuka lebar-lebar kaki Rein.
Di luar pintu kamar itu, Rumi mengepalkan kedua tangannya. Dia mendengar suara-suara ******* dari Rein. Jelas keduanya tengah memadu kasih. Rumi terbakar cemburu, hatinya mulai tidak nyaman. Karena pria itu mulai berpaling dari dirinya.
"Menjijikkan sekali!" batin Rumi. Dia memilih pergi dari sana. Tidak ingin Darwin lebih marah lagi padanya karena dia mengganggu mereka. Rumi hanya bisa menahan amarahnya kali ini.
Luka di paha Rein sudah pulih sepenuhnya. Namun gadis itu tampak tidak baik-baik saja. Keringat bercucuran dari lehernya. Tampak lebih menggoda bagi Darwin.
"Apa kamu menikmatinya?" tanya Darwin. Rein tampak malu-malu mengakuinya.
Dia segera menutup pahanya dengan kain sebelumnya. Tapi Darwin tidak akan melepaskan Rein kali ini. Selagi gadis itu sudah tergoda, Darwin harus memberikan pelayanan lebih untuknya.
Malam ini keduanya saling menikmati satu sama lain. Malam panjang yang sudah lama keduanya tunggu.Rein terbuai oleh pria itu.
"Tunggu!" Rein menahan Darwin.
"Kenapa?" tanya Darwin tidak sabar.
"Bagaimana kalau Rumi marah?" tanya Rein.
__ADS_1
"Aku tidak lagi memiliki perasaan padanya,aku hanya mencintaimu!" ucap Darwin untuk pertama kalinya pada Rein. Pria itu menyatakan perasaannya.
Rein tersentuh, dia sangat senang karena Darwin ternyata mencintainya. Gadis itu mencium bibir Darwin.Membuat pria itu tidak sabar untuk menghabiskan malam ini bersamanya.