
Rendra menatap dua remaja di depannya itu. Rein dan Darwin tidak bisa berkutik dari kemarahannya.
"Kalian harus menikah hari ini!" ucap Rendra memutuskan apa yang harus keduanya lakukan.
Semua orang tercengang dengan keputusan Rendra. Begitu pula Darwin dan Rein. Keduanya masih kelas dua sekolah menengah atas. Bagaimana bisa menikah di usia semuda itu.
"Menikah?Papa serius?" tanya Rein,antara senang juga khawatir dengan kehidupannya ke depan nanti.
"Ya, bukankah itu yang kalian berdua inginkan?" tanya Rendra.
Rein dan Darwin saling menatap wajah masing-masing. Keduanya tampak bimbang,tapi semua sudah terlanjur. Mereka tidak bisa menghindar lagi.
"Baik om, Darwin dan Rein siap jika harus menikah," ucap Darwin.
"Bagus, kamu memang seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Tapi ingat satu pesan, jangan biarkan Rein hamil dahulu. Sebelum kalian lulus sekolah!" pinta Rendra.
"Paa," Nadia ingin protes tentang keputusan suaminya. Namun Rendra langsung menghentikannya dengan mengangkat telapak tangan ke arah wanita itu.
"Biarin ma, mereka harus belajar untuk bertanggung jawab!" ucap Rendra pada istrinya.
Semua orang terdiam,Faro dan Tifo sudah berangkat kerja dan sekolah. Ilham harua izin kembali karena Darwin.
Siang harinya acara pernikahan di langsungkan sederhana di rumah Rein. Tanpa mengundang siapa pun. Hanya dua belah pihak saja yang mengetahuinya. Tifo juga di suruh untuk tutup mulut. Agar pernikahan Rein dan Darwin tidak tercium oleh teman-temannya.
Rein dan Darwin menatap surat nikah di tangan keduanya. Mereka tampak tidak percaya dengan apa yang mereka alami.
"Rein, bahagia tidak?" tanya Darwin.
"Aku bahagia sih Win, tapi ini beneran kita nikah muda?" tanya Rein masih belum percaya.
"Beneran Rein, gimana udah siap hidup berdua denganku?"tanya Darwin.
"Iya, aku siap Darwin," balas Rein.
"Apapun yang terjadi kita harua bisa bersama selamanya." Keduanya berada di sofa ruang keluarga.
"Eheem!" Rendra datang bersama dengan Nadia,Naren,Faro dan juga Tifo. Ilham pun masih berada di sana.
"Meskipun kalian sudah menikah, tapi kami para orang tua kalian sudah memutuskan. Bahwa kalian berdua tetap harus hidup terpisah!" ucap Rendra.
"Apa?" tanya Rein dan Darwin terkejut.
__ADS_1
"Pa, kenapa begitu?" Rein mulai protes.
"Demi masa depan kalian. Sebelum lulus sekolah menengah atas kalian berdua masih dalam pengawasan kami!" ucap Rendra.
"Benar, paman juga akan kembali ke rumah kita Darwin. Untuk mengawasi kalian berdua!" imbuh Ilham setuju dengan keputusan dari Rendra.
"Lalu kenapa kita harus menikah? Kalau hidup terpisah juga?" gerutu Rein tidak terima dengan keputusan papanya.
"Sudah terima saja Rein! Ini kan salah kamu juga!" ledek Faro.
"Kakak, seneng banget kayaknya lihat adik sengsara gini!" ucap Rein kesal.
"Sangat menyenangkan!" ucap Tifo.
"Kamu! Dasar Tifo jelek!" Rein hampir melempar sepatu yang dia kenakan ke arah pria itu. Namun Tifo berhasil menghindar.
"Sabar-sabar deh Darwin, punya istri kayak dia!" ucap Faro pada Darwin.
"Iya kak!"
Darwin pasrah dengan keputusan papa mertuanya. Yang terpenting mereka berdua tidak di pisahkan.
"Selamat menempuh hidup baru Rein dan Darwin," ucap Tifo tulus.
"Jangan buru-buru ya buat keponakannya! Kakak saja belum punya calon istri," imbuh Faro.
"Iya-iya kakak-kakak ku yang paling tampan. Kalian jangan khawatir ya," balas Rein. Mereka tengah berada di meja makan.Menikmati hidangan yang di siapkan bersama-sama di sana.
Rein dan Darwin saling membalas senyum. Keduanya benar-benar bersyukur bisa di satukan dalam ikatan pernikahan.
Ketika malam benar-benar sudah larut. Rein masuk ke dalam kamarnya. Dari belakang gadis itu, Darwin mengikutinya. Dia ingin tidur bersama dengan istrinya malam ini. Melanjutkan kegiatan mereka kemarin malam yang belum puas.
"Eeits!" Nadia merentangkan badannya di ambang pintu kamar Rein sebelum Darwin sempat masuk ke kamar itu.
"Mama," sapa Darwin terkejut.
"Kamu lupa ya Win? Yang di bilang papa mu?" tanyanya.
"Tapi ma, malam ini aja!" pinta Darwin memohon dengan wajah memelasnya.
"Tidak boleh!" ucap Nadia sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalian memang sudah menikah, tapi tidak boleh satu kamar lagi selama setahun ini." Pinta Nadia.
"Setahun!" Darwin kira papa dan mama mertuanya itu bercanda. Ternyata mereka serius mengatakan hal itu tadi.
"Iya, sana kamu pulang ke rumah mu sendiri. Atau tidur di kamar tamu?" pilih yang mana?" tanya Nadia pada menantunya itu.
Darwin menatap Rein yang berdiri di belakang tubuh Nadia. Rein memberi isyarat untuk tidur di ruang tamu saja.
"Ya udah deh ma, Darwin tidur di kamar tamu saja!" ucapnya pasrah.
"Bagus! Rein kunci kamar mu! Dan Darwin ayo ke kamar tamu!" Nadia menarik baju lengan Darwin agar segera ke kamar tamu.
Rein tersenyum melihat Darwin yang pasrah pada mamanya.
"Darwin, kamu jangan lupa pesan mama ya! Meskipun mama sudah pengen punya cucu. Tapi kalian masih sekolah! Jangan sampai Rein hamil duluan!" peringat Nadia pada menantunya.
"Iya ma," Darwin segera masuk ke dalam kamar tamu. Setelah memastikan keduanya sudah tidur di kamar terpisah. Nadia baru merasa tenang. Dan dia kembali ke kamarnya.
"Aih anak-anak jaman sekarang, kenapa mereka begitu cepat dewasanya!" gumam Nadia ketika sudah berada di atas ranjangnya.
"Kenapa ma?" tanya Rendra.
"Nggak kok pa,anak-anak sudah dewasa. Bahkan anak gadis kita sudah menikah." Nadia mengingat bagaimana Rein yang masih kecil dulu. Sekarang sudah memiliki suami.
"Biarkan saja ma, mereka sudah bisa menentukan pilihan hidup mereka. Ngomong-ngomong, apa mama mau memiliki anak lagi?" goda Rendra.
"Apanya yang anak lagi, tidak boleh!" balasnya sambil menarik selimut untuk menutup tubuh Nadia.
"Kenapa memangnya? Biar rumah kita semakin ramai ma?" balas Rendra.
"Nggak mau, bentar lagi Rein dan Darwin mungkin akan memiliki anak. Itu sudah cukup membuat rumah ini ramai pa!" Nadia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Rein hamil ketika masih sekolah.
"Cucu ya cucu,anak ya anak dong ma!" Rendra memeluk tubuh istrinya.
"Ah papa!" ucap Nadia genit. Hubungan keduanya kembali membaik setelah Nadia bisa menerima Naren.Wanita itu telah memaafkan kesalahannya di masa lalu.
"Ayo lah ma!" Rendra menarik baju istrinya agar tidak lagi dia kenakan. Malam ini mereka berdua akan berperang.
Sedangkan di dalam dua kamar yang terpisah. Rein dan Darwin sama-sama tidak bisa tidur. Keduanya saling memikirkan satu sama lainnya.
"Apa ini menikah? Masak tidur juga masih sendiri-sendiri?" batin Rein kesal. Dia hanya bisa memeluk guling dan boneka yang dia letakkan di atas ranjang.
__ADS_1