
Rein menatap bayangannya dalam cermin. Dia tampak berbeda ketika memakai gaun pemberian dari Darwin. Rein lebih cantik dari biasanya.
"Cantik banget mau kemana?" tanya Faro pada adiknya.
"Jalan-jalan dong," jawab Rein.
"Sama siapa?" Faro penasaran dengan siapa Rein akan pergi.
"Siapa pria yang berani mendekati dia?" batin Faro.
"Darwin!" balas Rein.
"Hah! Tetangga kita itu? Kamu pacaran sama dia?" tanya Faro dengan suara agak keras. Rein segera membungkam mulut Faro dengan kedua tangannya.
"Stttz jangan keras-keras kak, ntar mama sama papa tahu marah gimana?" tanya Rein.
"Sejak kapan kalian pacaran?"tanya Faro.
"Baru beberapa hari yang lalu," balas Rein.
"Awas ya kalau kalian sampai macam-macam. Kakak belum siap punya keponakan!" Faro memperingatkan Rein.
"Apa sih? Sampai bilang keponakan segala kak Faro ini!" gerutu Rein.
"Ya sebagai kakak, kan wajib memperingati adiknya. Yang terpenting jaga diri," Faro mencoel hidung Rein.
"Iya-iya, bawel deh kayak ibu-ibu aja! Sana mandi kek, bau banget!" Rein mendorong kakaknya agar tidak memeluk dirinya. Karena pria itu belum mandi.
"Masak sih bau? Perasaan wangi terus deh badan kakak!" ucap pria itu percaya diri. Rein hanya mengerucutkan bibirnya. Lalu mendorong Faro keluar dari kamar gadis itu.
"Mandi sana!" ucapnya sebelum menutup pintu kamar.
"Dasar nyebelin," ucap Faro. Ketika pria itu berbalik badan, di depannya ada Naren tengah menatapnya.
"Kak Faro, main yuk sama Naren!" ajak anak itu.
"Naren, mau main apa?" tanya Faro.
Naren menunjukkan lego yang di belikan Hito untuknya pada Faro. Pria itu tersenyum pada Naren. Dia sudah menerima kehadirannya. Meski berbeda ibu, dia juga tetap adik Faro.
"Baiklah, ayo kita main," ucap Faro sambil menggandeng Naren ke ruang keluarga. Keduanya bermain lego di sana.
Naren tampak bahagia karena mendapatkan mainan baru. Dan Faro dengan sabar mengajarinya cara bermain lego.
Rein turun dari kamarnya menuju pintu utama. Dia melewati Faro dan Naren yang sedang bermain bersama.
"Hei, ingat peringatan kakak tadi ya?" ucap Faro ketika melihat adiknya.
"Iya kak Faro!" balas Rein. Dia sudah di tunggu Darwin di depan rumahnya.
__ADS_1
Ketika membuka pintu,Darwin berdiri di depan Rein. Dia terkesima dengan kecantikan gadis itu. Darwin tidak salah memilih Rein sebagai kekasihnya.
"Darwin!" panggil Rein ketika pria itu melamun di depannya.
"Eh iya, ayo kita berangkat!" ajak Darwin.
"Ayo!"
"Gak apa-apa kan kita naik motor?" tanya Darwin.
"Gak masalah, emang kenapa kalau naik motor?" tanya balik Rein pada pria itu.
"Hehe, kali aja kamu takut berantakan," ucap Darwin.
"Gak lah!" Rein segera berjalan ke arah motor Darwin yang terparkir di depan rumahnya. Memakai helm yang sudah di siapkan oleh Darwin. Tapi saat hendak mengancingkan nya, Rein sedikit kesulitan, Darwin lalu membantunya.
"Sini aku bantu," ucap pria itu sambil membantu Rein. Kedua wajah mereka saling berdekatan. Pipi Rein memerah,dia bisa merasakan hembusan nafas dari Darwin.
"Eheem!" Faro tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Dia sengaja memperhatikan keduanya sejak tadi.
"Kak Faro," Darwin sudah selesai membantu Rein memakai helm.
"Kita perlu bicara dua mata secepatnya Darwin!" ucap pria itu dengan wajah dingin.
"Ba,baik kak!" Darwin menelan ludahnya melihat Faro yang ingin menghabisi dirinya.Rein menatap kakaknya dengan wajah cemberut.
"Kami pergi dulu kak," ucap Darwin.
"Apa kakakmu tahu kalau kita berpacaran?" tanya Darwin, Rein masih bisa mendengarkan suaranya karena laju motor tidak terlalu kencang.
"Iya, tadi dia tanya ke aku!" balas Rein.
"Pantas saja!"
"Pantas kenapa?" tanya Rein.
"Tidak, sini tanganmu!" Darwin menarik tangan Rein ke perutnya.
"Pegangan yang kuat!" Meminta Rein berpegangan padanya. Lebih tepatnya memeluk punggung pria itu.
Rein hanya tersenyum kecil di belakang punggungnya. Rasanya punggung Darwin semakin bidang.
"Nyamannya!" batin Rein menyandarkan kepalanya di pundak Darwin.Pria itu sengaja memperlambat laju motornya agar mereka bisa menikmati kebersamaan itu.
Darwin membawa Rein ke sebuah restoran di atas bukit. Dengan suasana alami disekitarnya. Keduanya bisa melihat keindahan malam dari sana.
"Kamu bisa tahu restoran seperti ini juga?" tanya Rein ketika mereka sudah berada di restoran itu.
"Bagus kan?" tanya Darwin.
__ADS_1
"Bagus banget, dan nyaman sekali di sini! Cocok buat bersantai," balas Rein.
"Iya, dulu aku pernah ke sini ketika masih kecil. Bersama mama ku," Darwin teringat mamanya.
"Ah pasti beliau sangat menyayangimu."
"Tentu saja, aku putra satu-satunya."
Hening. Suasana tiba-tiba berubah hening. Keduanya menunggu makanan datang.
"Rein!" panggil Darwin. Pria itu memegang tangan Rein.
"Ya, kenapa Darwin?" tanyanya.
"Apa pun yang terjadi? Tetaplah bersama ku," pinta Darwin pada Rein. Pria itu mencium tangan Rein.
Gadis itu tampak gugup dengan perlakuan istimewanya pada Rein.
"Ya Darwin, kenapa tiba-tiba bilang begitu?"tanya Rein.
Darwin menggelengkan kepalanya. Lalu pelayan tiba untuk mengantar pesanan mereka.Darwin melepaskan tangannya dari tangan Rein
"Wah sepertinya enak!" ucap Rein tertarik dengan masakan di restoran itu.
"Makanlah, ini enak sekali!" ucap Darwin. Keduanya lalu menyantap makanan yang telah mereka pesan.Sambil sesekali bercanda,keduanya terlihat bahagia bersama.
Setelah selesai makan, Darwin mengajak Rein ke sebuah pertunjukan pasar malam. Tak jauh dari restoran tadi.
Rein merasakan dejavu kembali, dia juga pernah pergi bersama dengan Darwin dahulu di dunia vampir. Andai bisa menunjukkannya pada Darwin yang sekarang. Bahwa dia sangat mirip dengan Darwin yang dulu dia kenal.
"Senang gak?" tanya Darwin.
"Senang sekali, jarang-jarang bisa main sepuasnya seperti ini," Rein tengah menikmati semua permainan yang berada di pasar malam itu. Membeli banyak camilan untuk dia makan bersama Darwin.
Setelah lelah berkeliling melihat pasar malam. Keduanya lalu duduk di kursi tak jauh dari tempat tadi.
"Hah lelahnya!" ucap Rein.
Darwin melihat dahi gadis itu berkeringat. Sepertinya dia terlalu bersemangat tadi.
Darwin mengambil tisu untuk mengelap keringat di dahi gadis itu. Rein mendongak karena Darwin menyentuh dahinya.
"Sini aku lap keringat kamu," ucap Darwin. Rein mendekatkan dahinya pada Darwin. Pria itu dengan hati-hati mengelap keringat Rein.
"Udah," ucap Darwin setelah selesai.
"Sini!" Darwin mendekatkan kepala Rein, lalu menyandarkannya di bahu pria itu.
"Katanya lelah, istirahat dulu sebentar," pinta Darwin. Rein menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Keduanya menikmati udara malam yang perlahan mulai dingin. Tanpa sadar Rein tertidur di pundak pria itu. Darwin sejak tadi mengajaknya mengobrol, namun tak ada respon akhirnya dia curiga.
"Hah, ternyata tidur!" gumam Darwin sambil menepuk keningnya.