
Rumi tidak berhenti mencuri pandang pada pria di sebelah kanan bangkunya itu. Darwin tahu bahwa Rumi melihat ke arah dirinya. Namun Darwin tidak perduli.
Rein menyadari Rumi mencuri pandang pada Darwin. Gadis itu tampak cemberut tanpa alasan.
"Dasar genit!" gumam Rein dengan suara yang hanya bisa dirinya dengar.
"Anak-anak, akhir pekan ini kita akan mengadakan camping di hutan. Bapak akan membagikan kalian dalam beberapa grup." Ucap pak Ilham. Serentak satu kelas bersorak senang.Kecuali Rein dan Darwin. Keduanya tidak terlalu menyukai kegiatan di luar kelas.
"Nah ini daftar kelompok kalian. Bisa di lihat nanti setelah jam pelajaran ini habis." Pak Ilham menempelkannya di papan pengumuman.
Lalu dia pergi keluar kelas karena jam pelajar yang dia ajarkan sudah habis waktunya. Para siswa dan siswi di kelas itu saling berebut tempat agar bisa melihat kelompok mereka.
Rora yang sudah melihat daftar kelompoknya segera kembali ke tempatnya duduk. Wajahnya tampak tidak bahagia. Rein tahu pasti dia mendapat kelompok yang tidak dia inginkan.
"Kenapa Ra?" tanya Rein pada gadis itu.
"Kita tidak satu kelompok Rein! Gimana dong?" tanya Rora sambil bergelayut di lengan Rein.
"Ya udah gak masalah kan. Yang terpenting satu tenda!" balas Rein santai.
"Satu tenda juga tidak Rein!" gumamnya kecewa.
"Hah kok bisa?" tanya Rein heran.
"Ya bisa lah,kamu satu tenda sama anak baru itu. Sedangkan di kelompok satu grub sama Darwin!"ucap Rora. Rein yang sedang minum air mineral akhirnya tersedak.
"Rein, Rein kamu baik-baik saja?" Melihat Rein yang tersedak, Rora menjadi panik.
"Gak apa-apa kok Ra. Yang kamu bilang serius?" tanya Rein tidak percaya.
"Serius, coba lihat sendiri!" Rora menunjuk ke arah papan pengumuman. Di sana para siswa masih berebut untuk melihat nama mereka.
Rein segera berdiri dan melangkah ke arah papan pengumuman itu. Dengan cepat dia menyibak kerumuman teman sekelasnya.
"Awas! awas!" Rein tidak peduli temannya mengomel karena dirinya yang menerobos. Dia segera mencari namanya. Benar saja dia satu tenda dengan Rumi. Dan satu kelompok dengan Darwin saat penjelajahan.
"Ah sial sekali!" batin Rein. Dia tergesa-gesa keluar dari kelas. Menuju ke ruang guru di lantai dasar. Rein ingin protes pada pak Ilham.
Ketika sampai di ruang guru, dia melihat Darwin sudah berada di sana.
__ADS_1
"Kenapa Rein? Mau protes karena satu tim dengan Darwin?" tanya pak Ilham seperti tahu keinginan Rein. Gadis itu menganggukkan kepala sambil melihat ke arah Darwin.Ternyata pria itu sudah protes terlebih dahulu sebelum dirinya.
"Gimana ya? Sudah tidak bisa di ganti lagi Rein!" ucapnya santai. Pak Ilham sengaja membuat keduanya kesal.
"Kalau begitu saya tidak akan ikut pak!"Rein mencoba menggertak gurunya itu.
"Kalau gak ikut bisa tidak naik kelas. Gimana ya?" ucap pak Ilham dengan nada khawatir yang di buat-buat. Rein semakin kesal.
"Ya udah lah terserah pak Ilham saja!" Rein akhirnya pergi meninggalkan ruang guru dengan perasaan kesal yang menumpuk.
Ketika Rein sudah tak lagi terlihat. Darwin menatap pria di depannya itu. Umur mereka hanya terpaut sepuluh tahun saja. Namun Darwin ingin sekali memukulnya.
"Paman sengaja kan?" tanya Darwin.
Pak Ilham ternyata adalah paman kecilnya Darwin. Dia adalah adik dari ayah Darwin yang paling bungsu.
"Kenapa Win? Kapan lagi deket sama gadis? Aku lihat kamu cocok sekali dengan dia!" ucap pak Ilham.
"Terserah paman saja! Lagi pula aku tidak akan ikut kemah itu!" Darwin berbalik badan untuk pergi dari ruang guru.
"Kalau kamu tidak ikut, Rein sama Guen aja kali ya," pak Ilham mencoba memanasi Darwin.
Darwin keluar dengan wajah kesal.Ketika hendak menuju ke kelasnya. Darwin melihat Rein yang berdiri di anak tangga. Menghalangi Darwin yang hendak melewatinya.
"Jangan mengganggu!" ucap Darwin dingin pada Rein.
Tapi Rein malah menghadang Darwin dengan tubuhnya.
"Kamu kan yang minta sama pak Ilham satu kelompok dengan ku?" tanya Rein menuduh Darwin memiliki niatan jahat pada dirinya.
"Heh, siapa kamu sampai seistimewa itu?" ucap Darwin sambil meremehkan Rein.
"Kamu? Awas aja kalau nanti kamu macam-macam di sana! Aku bisa menendang mu!" ucap Rein,dia balik badan. Hendak naik ke anak tangga berikutnya. Namun karena gerakan Rein terlalu cepat, salah satu kakinya tidak menapak pada anak tangga yang benar. Akhirnya keseimbangan gadis itu hilang. Dia hampir terjatuh ke belakang.
Darwin yang melihat Rein hampir jatuh terpaksa menahan punggungnya. Aroma tubuh gadis itu bisa Darwin hirup. Tubuhnya begitu wangi, sejenak Darwin seperti tersihir. Hingga keduanya kehilangan keseimbangan bersama.
"Awas!" ucap Rein. Keduanya terlambat untuk bertahan di anak tangga.
Rein dan Darwin jatuh, untungnya tidak begitu tinggi. Darwin menggunakan tangannya untuk menahan kepala Rein agar tidak terbentur lantai.
__ADS_1
"Ah!" tubuh Darwin tertindih tubuh Rein ketika mereka sampai di dasar. Kepala gadis itu untung baik-baik saja.
Keduanya saling menatap, untung saja tidak ada orang yang melihat mereka.
"Cepat bangun!" pinta Darwin, merasa tulang punggungnya hampir patah. Rein buru-buru bangun dari atas tubuh pria itu.
"Maaf aku tidak sengaja,kamu baik-baik saja?" Rein memeriksa tubuh Darwin. Membantu pria itu untuk bangun. Tapi Darwin menolaknya.
"Pergi! Lain kali hati-hatilah!" pinta Darwin sambil menepis tangan Rein yang memegang lengannya.
Darwin berdiri dan berjalan tertatih. Rein hendak membantu memapahnya. Namun Darwin menghempaskan kembali.
"Huh, Dasar cowok aneh!" umpat Rein ketika mendapatkan perlakuan kasar dari Darwin.
Keduanya kembali ke kelas, Rein berjalan pelan di belakang pria itu. Ketika sampai di depan pintu kelas. Rein segera menyalip langkah Darwin.
Menyenggol bahu pria itu. Darwin hanya bisa berdecak kesal pada Rein.
"Dasar gadis jelek, awas besok akan ku balas perlakuan mu hari ini!" batin Darwin kesal dengan Rein.
Rora melihat Rein dan Darwin yang baru saja masuk secara bersamaan. Dia menarik senyum kecil di bibir gadis itu. Menerka-nerka tentang mereka.
"Hei Rein? Kalian tadi dari mana?" tanya Rora ingin tahu.
"Siapa?Aku?" tanya Rein.
"Iya sama si itu?" Rora menunjuk ke arah belakang Rein. Tempat Darwin duduk.
"Dari ruang pak Ilham, dia menolak untuk mengganti teman satu kelompokku Ra," ucapnya kesal.
"Duh, kayaknya semesta pun mendukung kalian untuk bersama deh Rein," Rora terlalu banyak membaca novel romantis.Hingga membuatnya terlalu banyak menghayal.
Rein memukul kepala gadis itu. Agar berhenti memikirkan hal-hal aneh tentang dirinya.
"Aduh kenapa memukulku?" tanya Rora.
"Makanya berhenti berkhayal deh,aku dan dia tidak mungkin berjodoh! Dia terlalu kasar dan menyebalkan!" ucap Rein.
"Hei jangan bilang begitu, sekarang membencinya. Gimana kalau besok kalian jatuh cinta. Sama seperti banyak novel yang aku baca Rein," ucap Rora lagi.
__ADS_1
"Kamu terlalu banyak membaca novel deh Ra!" ucap Rein pada gadis itu. Rora harus mengurangi kebiasaannya membaca novel. Karena sudah sangat memprihatinkan khayalan gadis itu.