
Darwin melepaskan pelukannya dari tubuh Rein. Gadis itu menyimpan kembali pedangnya. Keduanya kini duduk di lantai saling menghadap.
"Benarkah yang kamu katakan? Aku benar-benar sudah tidak bernapas tadi?"tanya Rein tidak percaya jika dia sudah meninggal. Lalu bagaimana dia bisa hidup kembali.
"Tentu saja benar," jawab Darwin singkat.
"Lalu bagaimana kamu menghidupkan ku kembali?" gadis itu tidak berhenti penasaran.
"Rahasia!" jawab Darwin sambil tersenyum simpul.Dia lalu meninggalkan Rein begitu saja.
Pria itu tengah memikirkan tentang permata biru miliknya. Bagaimana bisa Rein memiliki batu itu. Sedangkan dengan batu itu pula Rein hidup.
"Jadi karena ini dia bisa membuka segel ku dulu," gumamnya.
"Lalu bagaimana aku mendapatkan kekuatanku kembali. Jika batu itu aku ambil. Rein pasti akan meninggal," Darwin dalam ambang kebingungan.
Malam kembali datang, mayat-mayat yang tadi berserakan di depan pintu masuk sudah di bereskan. Darwin dan Rein tinggal di istana milik Rein. Besok adalah hari penobatan gadis itu.
Berita bahwa Daga sudah terbunuh dan kembalinya sang penguasa sesungguhnya telah tersebar luas ke segala penjuru. Tapi Rein masih belum tenang karena ada hal yang mengganjal di hati gadis itu.
"Kenapa perasaanku tidak enak ya? Akan ada hal besar besok!" gumam Rein khawatir. Darwin yang berada tak jauh dari Rein tengah memperhatikannya. Dia bisa melihat Rein tengah mengkhawatirkan sesuatu.
"Kamu kenapa Rein?" tanya Darwin.
"Aku hanya sedikit lelah,sebaiknya aku istirahat dahulu," ucap Rein.
__ADS_1
"Baiklah,segera tidur lah. Aku akan menjagamu malam ini," seolah tahu apa yang sedang di pikirkan Rein. Darwin tidak akan tidur malam ini. Dia akan menjaga gadis itu,juga menjaga kekuatannya.
"Baiklah, di sana kamarku. Kamu bisa tidur di kamar sebelahnya," Rein menunjukkan dimana kamarnya. Darwin menganggukkan kepala.
Rein lalu pergi ke kamar itu. Di susul Darwin masuk ke kamar sebelahnya.
Di tempat lain, seorang pria dengan aura membunuh yang kuat tengah mencengkeram gelas hingga pecah.
"Siapa yang membunuh Daga?" tanyanya pada pengawal pribadinya.
"Dia adalah ahli waris dari istana ini," balasnya.
"Seorang gadis kecil itu? Bagaimana mungkin?" tanyanya tidak percaya.
"Saya juga tidak yakin. Tapi sepertinya ada yang membantunya. Karena luka dari tubuh tuan Daga sedikit aneh," pengawal itu mulai menceritakan apa yang dia lihat.
"Ya tuan, luka di tubuh tuan Daga terdapat tusukan. Namun bukan tusukan pedang. Melainkan seperti kuku yang panjang dan beracun," jelasnya.
"Kuku?" gumam pria yang di panggil tuan itu.Dia tampak berfikir keras.
"Apakah ada sebuah gigitan?" tanyanya kemudian pada pengawalnya.
"Tidak ada tuan!"
"Baiklah, kamu boleh kembali!" pintanya. Sang pengawal pergi setelah itu.
__ADS_1
"Aneh sekali, siapa gadis itu dan juga siapa yang membantunya. Apa mungkin si penguasa itu sudah kembali?" tebaknya.
Afron, sekutu Daga mulai menerka-nerka. Dia tidak menerima sahabatnya harus tewas secara mengenaskan seperti itu. Besok dia berencana untuk melihat secara langsung gadis yang berhasil membunuhnya.
"Pasti dia tidak sendiri? Ada seseorang di belakang yang kuat membantunya," Afron yakin itu.
Keesokan pagi tiba, Rein bersiap dengan penobatan dirinya hari ini. Dengan gaun yang telah di pilihkan oleh pelayannya. Rein tampak cantik ketika memakai gaun itu.
"Selamat ya nona Rein, akhirnya bisa kembali ke istana ini." Ucap pelayan itu senang. Mereka selama Rein pergi merasa tertekan hidup di istana. Karena Daga memerintah seenaknya. Padahal pria itu belum menjadi raja di istana itu.
"Terima kasih, kamu pasti menderita selama aku pergi Ema," balas Rein.
"Iya nona, tuan Daga sering menyiksa kami para pelayan," jawabnya.
"Tapi tidak apa-apa, sekarang non Rein sudah kembali. Kami sangat senang," imbuhnya lagi.
Rein tersenyum kecil, dia juga sangat senang bisa kembali ke istananya. Meneruskan perjuangan sang ayah saat masih hidup.
Rein keluar dari kamarnya, di bantu para pelayan. Gadis itu menuju ke aula utama. Dimana tempat dia akan di nobatkan sebagai ratu di istana itu.
Parasnya yang cantik seketika menghipnotis semua orang yang ada di sana. Tak terkecuali Darwin, dia sangat kagum dengan kecantikan Rein. Setelah gadis itu di rias.
Aura darah biru sangat kuat di tubuhnya. Darwin mendekat i Rein.
"Kamu cantik sekali?" ucapnya memuji kecantikan Rein. Seketika wajahnya memerah karena pujian itu.
__ADS_1
"Benarkah?" tanyanya.
"Ya benar, kamu sangat cantik dengan gaun itu," Darwin lagi-lagi memujinya.Keduanya saling memandang, saling mengagumi satu sama lainnya.