Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Tifo Pergi


__ADS_3

Rendra, Nadia, Faro,Naren,Darwin dan juga Rein tengah berada di bandara. Mereka hendak mengantar Tifo untuk pergi ke luar negeri.


"Tante, Tifo bakalan kangen banget sama masakan tante deh!" ucap Tifo manja dan sedikit terharu.


"Dasar manja!" gumam Rein.


"Apa yang kamu bilang Rein?" tanya Tifo kesal dengan gadis itu.


"Sudah-sudah kalian jangan bertengkar lagi," Nadia menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya yang jarang akur sejak kecil. Namun keduanya tetap saling sayang sebagai saudara.


"Iya, Tifo jaga dirimu di sana.Sering-seringlah main ke sini kalau lagi liburan," ucap Rendra.


"Iya om,Tifo janji," Tifo memeluk tubuh Rendra. Pelukan perpisahan.Tiga tahun bersama mereka rasanya cukup membuat Tifo merasa kehilangan.


"Kak Faro, Darwin,Naren, aku berangkat ya.Kalian jangan lupain aku," ucap Tifo memeluk mereka satu persatu.


Lalu giliran Rein, pria itu berdiri tepat di depan gadis itu.


"Rein,kalau berangkat sekolah. Bareng Darwin aja! Aku udah gak bisa barengin kamu," ucapnya.


"Iya, kamu tenang aja!" balas Rein tenang.


"Kamu gak mau meluk aku?" tanya Tifo.


"Gak perlu, sana berangkat!"pinta Rein.


"Iya-iya, kamu jangan lupain aku ya," balas Tifo.


"Iya cerewet banget sih!" Rein mendorong tubuh Tifo agar segera berangkat menuju ke ruang check in di bandara itu.

__ADS_1


Tifo menarik koper di tangan kirinya. Dia mulai berbalik badan memunggungi keluarga Rendra.Dan mulai berjalan menjauh dari mereka.


Sejak tadi Rein sudah menahan dirinya untuk tidak menangis. Kedua mata gadis itu sudah memerah dan berkaca-kaca.


"Tifo!" panggil Rein. Langkah kaki pria itu terhenti dia berbalik badan ke arah Rein lagi.


Rein berlari ke arahnya dan memeluk begitu saja tubuh Tifo. Kakak sepupu Rein itu.Dia mulai menangis dalam pelukannya.


"Huhuhu, kenapa harus pergi sih?" gumam Rein sedih,air matanya tak lagi bisa dia tahan.Dia melepaskan pelukannya.


"Rein jangan nangis dong?" Tifo tidak bisa melihat Rein yang menangis karena dirinya seperti ini.


Semua anggota keluarganya melihat keduanya. Meskipun sering bertengkar, namun Rein dan Tifo sangat dekat.


"Nanti siapa yang aku ajak berantem lagi di sini?" tanya Rein.


Tuk. Tifo memukul kepala Rein dengan jari-jarinya.


"Yang kamu pikirkan cuma berantem sama aku. Emangnya kamu gak rindu kalau aku jauh?" tanya Tifo percaya diri.


"Gak akan, kamu kakakku yang paling menyebalkan! Untuk apa aku rindu!" gumam Rein sambil mengerucutkan bibirnya.


"Terus kenapa sekarang nangis?" tanya Tifo.


"Tidak apa-apa. Kamu jangan lupa sering telepon kita kalau sudah di sana," pinta Rein.


"Iya-iya, sudah jangan nangis lagi. Lihat deh suami kamu tuh? Udah cemburu melihat kamu memelukku tadi?" bisik Tifo pada Rein.


Rein lalu menatap Darwin di belakangnya.

__ADS_1


"Biarin aja," balas Rein.


"Ya udah jangan buat dia marah.Aku berangkat dulu,"jawab Tifo. Rein menganggukkan kepalanya. Sebelum pergi dia mengelus kepala Rein.


"Salam buat paman dan bibi di sana," ucap Rein. Tifo tersenyum mendengar ucapan Rein itu. Dia lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka. Keluarga yang menemaninya selama tiga tahun ini.


Rein masih menangis,sulit untuknya menghentikan air mata itu mengalir dari kedua matanya.


"Sudahlah Rein, ayo kita pulang," ajak Darwin sambil memegang tangannya.


Rein menganggukkan kepalanya, keduanya lalu mengikuti yang lain untuk pulang ke rumah mereka.


Tifo menatap kota yang akan dia tinggalkan itu. Dia akan sangat merindukannya, termasuk gadis yang dia cintai. Meski dia tidak mengantar dirinya untuk terakhir kali.


Tapi bagi Tifo, dia akan tetap tersimpan di hatinya sampai kapan pun.


Kisah cintanya tak semanis kisah cinta Rein dan Darwin. Tifo harus berpisah darinya karena suatu hal.


"Aku pasti akan merindukanmu,"gumamnya setelah pesawat mengudara.Dia hanya bisa melihat foto gadis itu di ponselnya.


Darwin tak sedikitpun melepaskan tangan Rein dari genggamannya. Selama di dalam mobil pun dia tidak melepaskan tangan itu sampai di depan rumah mereka.


"Rein masuklah, aku tidak bisa ikut masuk," ucap Darwin ketika mereka sudah turun dari mobil.


"Kamu mau kemana Win?" tanya Rein lagi.


"Aku akan mencari pekerjaan lagi, siapa tahu ada yang menerimaku kembali," balas Darwin.


"Baiklah Win, kamu semangat ya? Jangan lupa makan dulu!" ucap Rein memberi semangat pada Darwin.

__ADS_1


"Tentu! Cepatlah masuk ke dalam rumah!" pinta Darwin.


"Baik," Rein segera masuk ke dalam rumah dan Darwin pergi ke rumahnya sendiri. Dia bersiap untuk berangkat mencari pekerjaan kembali.


__ADS_2