
Rein dan Darwin pulang ke rumah sekitar jam sembilan malam. Keduanya berpisah di depan rumah. Rein masuk ke dalam rumahnya. Dia mencari saklar lampu, karena rumahnya tampak gelap sekali.
"Ma, mama!" panggil Rein ketika lampu sudah dia nyalakan. Rumah tampak sepi, tak ada suara siapapun.
Rein segera berlari ke kamar mamanya. Sambil berteriak memanggil wanita itu.Pintu kamar terkunci dari dalam.
"Ma! Mama di dalam kan? Buka ma?" panggil Rein sambil mengetuk pintu kamar mamanya.
Tak ada jawaban dari wanita itu. Rein semakin takut. Dia berlari ke kamar kakaknya. Namun pria itu juga belum kembali.
Rein sudah hampir menangis karena ketakutan.Dia berlari ke luar rumah. Menuju ke rumah Darwin.
Rein tanpa sabar membunyikan bel rumah pria itu. Berharap Darwin belum tidur.
"Cepatlah!" Rein menekan bel rumah berulang kali.
Darwin membuka pintu dan melihat Rein yang panik.
"Rein ada apa?" tanya Darwin.
"Darwin tolong! Mama aku!" ucap Rein.
"Mama kamu? Ada apa?" tanya Darwin. Belum juga menjawabnya, Rein segera menarik lengan Darwin untuk ke rumah gadis itu.
Dia membawa Darwin ke depan pintu kamar sang mama.
"Mama di dalam, dia tidak membuka pintunya. Aku takut mama kenapa-kenapa," Rein tak kuasa menaham air matanya lagi. Rasanya begitu ketakutan.
"Baiklah, aku akan mendobraknya! Kamu minggir dulu Rein," ucap Darwin bersiap mendobrak pintu kamar Nadia.
Brak. Pintu kamar akhirnya terbuka setelah Darwin dengan sekuat tenaga mendobraknya.
Rein dan Darwin segera masuk ke dalam kamar. Rein mencari mamanya. Ternyata wanita itu sudah bersimbah darah di lantai kamar.
Mamanya mencoba bunuh diri dengan menggores lengannya sendiri.
"Mama!" teriak Rein histeris. Darwin segera memeriksa denyut nadi mamanya Rein.
"Masih ada denyutnya, ayo cepat bawa tante ke rumah sakit!" ucap Darwin. Rein menganggukkan kepala.
Dia membopong Nadia dan membawanya keluar dari rumah Rein.
__ADS_1
"Ada mobil tidak?" tanya Darwin. Ada aku akan mengeluarkannya dari garasi.
Rein dengan cepat mengeluarkan mobil milik mamanya dari garasi. Darwin segera memasukkan tubuh wanita itu ke dalam mobil.
"Kamu jaga mamamu, biar aku yang menyetirnya," ucap Darwin. Rein menganggukkan kepala.
Darwin segera melajukan mobil itu menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Rein tidak berhenti memanggil mamanya. Dia sangat takut jika hal buruk terjadi pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Darwin dengan cepat memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit. Para medis datang untuk segera melakukan tindakan medis.
Rein berlari mengikuti mamanya yang tengah di bawa ke ruang gawat darurat.
"Maaf kalian hanya boleh menunggu di luar," ucap perawat pada Rein. Lalu perawat itu menutup pintu ruangannya.
Rein terduduk lemas di kursi tunggu. Dia bingung harus bagaimana.
Darwin mengabari pamannya, memberi tahu pada pria itu tentang keadaan mamanya Faro. Agar sang paman memberitahunya.
Ponsel milik Rein tertinggal di rumah. Gadis itu hanya bisa duduk diam sambil menangis. Darwin mendekatinya lalu merangkul Rein.
"Tenanglah, mama mu pasti akan baik-baik saja," ucap Darwin menenangkan Rein.
"Aku takut Win, mama kenapa-napa," ucap gadis itu. Kedua matanya yang tadi sudah sembab sekarang lebih sembab lagi.
Dari ujung lorong, Faro berlari tergesa-gesa mencari sang adik.
"Rein!" deru nafas pria itu tak beraturan, di belakangnya Ilham mengikuti pria itu.
"Kakak!" Rein berdiri dan berhambur dalam pelukan Faro.
"Mama kak," ucap gadis itu.
"Apa yang terjadi? Maafkan kakak tadi pergi begitu saja!" ucapnya menyesal.
"Rein juga gak tahu, Rein tadi juga pergi. Mama mengunci dirinya di kamar dan menggores lengannya sendiri," jelas Rein. Faro hanya bisa menyesal telah meninggalkan rumah tadi.
"Sudah-sudah kita tunggu dokter menanganinya. Kakak yakin,mama pasti kuat dan baik-baik saja," ucap Faro. Rein menganggukkan kepalanya.
Satu jam berlalu, penanganan Nadia akhirnya selesai juga. Dari ruangan tadi, seorang dokter keluar dari sana. Dokter itu menuju ke arah keempat orang yang berada di kursi tunggu.
"Keluarga pasien?" panggil sang dokter.
__ADS_1
Faro dan Rein segera melangkah maju, keduanya segera mendekati dokter itu.
"Kami dok keluarga pasien, bagaimana keadaan mama saya?" tanya Faro khawatir.
"Syukurlah, mama kalian bisa melewati masa kritis. Beliau belum siuman, sepertinya perlu banyak istirahat dulu dan juga beliau mengalami syok berat.Sebaiknya di jaga emosi pasien ya," jelasnya.
"Iya dokter," jawab Faro. Dokter itu segera pergi ke ruangan lain untuk menangani pasien kembali.
Rein dan Faro merasa lega, untung mama mereka baik-baik saja. Faro berjalan ke arah Darwin. Menepuk pundak pria itu.
"Terima kasih Darwin, kalau tidak ada kamu. Entah apa yang terjadi pada mama kami," ucap Faro berterima kasih pada Darwin.
"Sama-sama kak, Darwin tidak mau Rein mengalami hal yang sama sepertiku. Kehilangan mama yang paling kita sayangi," raut wajah Darwin tampak sedih. Dia teringat kejadian ketika mamanya pergi meninggalkan dia selamanya.
Ilham menyadari kerapuhan sang keponakan. Dia lalu merangkul pundak pria itu.
"Sudahlah, jangan mengingat lagi masa lalu," ucapnya pada Darwin.
"Iya paman," jawab Darwin. Keempat orang itu kemudian menunggu Nadia untuk di pindahkan ke ruang pasien.
Rein melihat sang mama yang masih tergeletak di ruangan itu. Rein berharap mamanya segera siuman.
Hito melajukan mobilnya dengan cepat ke rumah sakit. Dia mendapat kabar dari Faro bahwa Nadia masuk rumah sakit.
Hito sampai di rumah sakit beberapa menit kemudian. Dia segera mencari ruang rawat Nadia.
Hito masuk ke dalam ruangan itu. Tampak Rein dan Faro menemani mamanya. Sedangkan Darwin dan Ilham berada tak jauh dari mereka.
"Rein, Faro!" panggil Hito. Nadia sepertinya belum siuman juga. Hito berjalan ke arahnya.
"Kemana aja papa?Saat mama ingin mengakhiri hidupnya! Semua ini salah papa!" ucap Rein, gadis itu berdiri tiba-tiba dan mengatakan semua yang ada di hatinya. Dia sudah muak dengan papanya.
Hito berdiri dan hanya bisa diam di samping istrinya. Setelah tidak berhasil membujuk Nadia, Hito pergi keluar mencari Sukma. Dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan wanita itu.
Belum juga menemukannya, Hito mendapat kabar buruk tentang Nadia. Dia lalu segera menuju ke rumah sakit.
"Maafkan papa nak, semua ini memang salah papa! Tapi izinkan papa untuk memperbaiki kesalahan ini," ucap Hito tulus. Tapi Rein sangat keras hati, dia tidak mudah memaafkan orang yang menyakiti mama dan dirinya.
"Rein tidak akan memaafkan papa!" ucap Rein lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
Hito ingin mengejar Rein, namun Faro melarangnya.
__ADS_1
"Biarkan saja dia pa, mungkin masih terpukul dengan semua yang terjadi!" ucap Faro lebih dewasa dari pada Rein.
Darwin lalu pamit untuk mengejar Rein. Dia tahu bagaimana hancurnya hati Rein saat ini.