Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Pergi


__ADS_3

Setiap hari Darwin melihat perkembangan Rein yang menjadi ratu. Gadis itu semakin sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Darwin hanya mengikuti kemana dia pergi.


Darwin mulai nyaman demi dekat gadis itu. Begitu sebaliknya. Rein merasa sangat di jaga oleh Darwin.


Pagi ini sebuah merpati tiba-tiba menghampiri Darwin. Ada sebuah gulungan kertas kecil di kaki merpati itu. Darwin segera mengambilnya.


"Pergilah!" merpati itu segera dia lepaskan.


Surat itu memang di tujukan pada dirinya. Darwin segera membuka dan membacanya. Isinya meminta Darwin untuk segera kembali ke tempat seharusnya dia berada.


"Apakah mereka sudah siap?" gumam Darwin.


Plak


Tangan kecil Rein menepuk pundak Darwin dari belakang.Tampak dari raut wajah gadis itu sedang sangat bahagia.


Darwin segera menghancurkan surat tadi dengan membakarnya di telapak tangan tanpa Rein ketahui.Gadis itu menatap penasaran pada Darwin.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini Darwin?" tanya Rein. Pria itu tengah di pinggir jendela salah satu ruang tamu di istana.


"Aku sedang bersantai saja. Lagi pula kamu tengah sibuk. Aku tidak ingin mengganggumu Rein," jawab Darwin.


"Benarkah?" Tapi ada apa di tanganmu, kenapa menyembunyikannya dariku?" keduanya saat ini tengah berhadapan. Kedua tangan Darwin berada di belakang punggungnya.


"Ah tidak ada apa-apa,Rein," jawab Darwin lalu segera menunjukkan kedua telapak tangannya yang memang tengah kosong.


"Um aku pikir kamu sedang melakukan apa," ucapnya lalu berjalan mendekat ke arah jendela. Memperhatikan pemandangan di luar jendela.


Pohon sakura yang indah juga beberapa pohon yang lain berjajar di bawah sana. Suasananya benar-benar membuat Rein tenang. Di tambah kicauan burung menambah ketenangan di pagi ini.


"Rein!" panggil Darwin.


"Ya, kenapa?" Rein menunjukkan wajah bahagianya.


"Aku harus pergi!" ucap Darwin tak ingin berbasa-basi lagi.


Tiba-tiba senyuman itu hilang dari bibir Rein. Di ganti dengan tatapan tidak mengerti pada gadis itu.


"Maksud kamu?" tanya Rein.


"Ada hal yang harus aku selesaikan di luar sana. Dan aku tidak bisa menjagamu lagi," jelas Darwin.


"Kamu membenciku?" entah apa yang Rein pikirkan. Kata-kata itu keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Bukan, bukan begitu!" Darwin panik ketika melihat air mata turun dari kedua mata Rein. Baru kali ini dia melihatnya.


"Kalau begitu kenapa harus pergi? Apa disini tidak nyaman bagimu?" tanya Rein dengan suara terisak.


"Tidak,bukan begitu Rein. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tahta sudah kamu dapatkan serta dendam mu sudah kamu lakukan," jelasnya lagi.


"Lalu kamu tidak mau lagi menemaniku di sini?" tanyanya pada Darwin. Kini keduanya sama-sama tidak rela untuk berpisah.


"Bukan begitu Rein. Kamu mengerti kan maksudku?" ucap Darwin meminta Rein untuk bisa mengerti keadaannya kali ini.


"Sudah lah. Pergi ya pergi saja! Mengapa harus berpamitan!" Rein menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Lalu melangkah pergi tanpa melihat ke belakang lagi.


"Rein!" panggil pria itu.Namun Rein tidak memperdulikan panggilannya.


"Kenapa dia marah?" gumam Darwin.


"Bukannya masih bisa bertemu dengan mudah, apa dia lupa siapa aku?" tanyanya. Darwin segera mengejar Rein yang sudah entah kemana. Gadis itu dengan cepat menghilang dari mata Darwin.


"Hais susah juga berurusan dengan wanita." Darwin teringat oleh Alee. Adiknya itu juga sangat pemarah seperti Rein.


Rein membenamkan wajahnya ke bantal di tempat tidurnya. Air mata yang tadi dia usap kini mengalir lagi. Entah apa yang tengah dia rasakan sampai bisa menangis karena Darwin.


"Rein, jangan terlihat bodoh seperti ini dong!" gumamnya di tengah tangis yang tidak mau berhenti.


Darwin tahu bahwa Rein berada di kamarnya. Dia juga berada di depan pintu kamar itu. Mendengarkan ucapan Rein yang tak semuanya dia bisa dengar.


"Rein!" panggil Darwin mengetuk pintu kamar itu.


Rein berhenti menangis, dia mendengar suara Darwin dari luar pintu memanggilnya.


"Kenapa lagi?" jawabnya dengan nada kesal.


"Kamu marah?" tanya Darwin.


"Sudah tahu marah,masih bertanya lagi!" gerutunya dengan suara kecil.


"Siapa yang marah?" balas Rein.


"Rein!" panggil Darwin lagi.


"Apa!" Rein membuka pintu kamarnya, Darwin sempat terkejut karena gadis itu tiba-tiba muncul.


"Hei jangan melihatku dengan mata seperti itu," ucap Darwin,Rein memang tengah menatapnya dengan tatapan julid.

__ADS_1


"Terserah, mata ku juga!" ucapnya. Terlihat jelas bahwa gadis itu tengah kesal.


"Kamu takut aku pergi?" tiba-tiba Darwin mengatakan hal itu.


"Sok percaya diri. Siapa juga yabg takut jamu pergi!" Rein membantahnya.


"Baiklah kalau begitu,besok pagi aku akan pergi!" ucap Darwin.


Rein tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia menutup begitu saja pintu kamar. Lalu berbaring di atas ranjang tanpa memperdulikan panggilan Darwin pada dirinya.


Rein tertidur setelah menangis. Hingga malam tiba, gadis itu belum juga terbangun. Darwin masuk ke dalam kamarnya dengan menembus pintu kamar itu.


Dia melihat Rein yang sembab di kedua mata gadis itu. Darwin merasa tersentuh. Dia duduk di atas ranjang. Tepat di samping Rein tidur.


"Dasar anak kecil, belum juga mau menjelaskan sudah marah duluan," ucapnya.


"Aku tidak bisa mengajakmu karena tempat itu terlalu bahaya bagi manusia. Apa lagi ada kekuatan diriku di dalam tubuhmu. Mereka pasti akan mengincar kamu Rein," Darwin mengelus pipi kiri Rein.


Gadis itu menggeliat ketika merasakan seseorang menyentuhnya. Namun kedua matanya masih enggan untuk terbuka.


Tiba-tiba wajah Alee melintas di dalam penglihatan Darwin. Gadis itu tengah meminta berkomunikasi secara batin dengannya.


Darwin segera keluar dari kamar Rein. Lalu memusatkan pikirannya dan kekuatan batin yang dia miliki untuk terhubung dengan Alee.


"Ada apa Alee?" ucap Darwin di dalam komunikasi mereka.


"Kakak cepatlah kembali,kami semakin tersudut oleh pria itu!" pinta Alee sambil menangis.


"Kakak mengerti,tunggu kakak kembali," ucap Darwin lagi. Lalu memutuskan komunikasi batin mereka.


Darwin harus segera kembali secepatnya. Untuk menyelamatkan kaumnya yang sudah hampir musnah.


Dia menatap pintu kamar Rein. Darwin sebenarnya berat untuk berpisah dari gadis itu. Namun semua harus dia lakukan untuk menyelamatkan Alee dan para para vampir yang lain.


Darwin masuk kembali ke kamar Rein. Lalu menyentuh dahi gadis itu. Mentransfer energi untuk melindungi Rein dari bahaya.


"Kamu akan baik-baik saja Rein," ucapnya. Darwin lalu menulis sebuah surat untuk berpamitan.


Dia tidak sempat memberi tahu Rein. Juga tidak ingin membangunkan gadis itu di tengah malam seperti sekarang.


"Maaf!" Darwin mencium kening Rein. Lalu menghilang dengan cepat. Dia melakukan teleportasi agar segera sampai di istananya.


Rein terbangun setelah Darwin pergi. Dia merasa seseorang mencium keningnya.

__ADS_1


"Apa aku bermimpi tadi?" gumamnya masih belum sadar sepenuhnya dari rasa mengantuknya.


__ADS_2