
Darwin membalikkan badannya ke samping kiri dan kanan. Begitu seterusnya,dia tidak bisa tidur malam ini. Meskipun sudah mencobanya berkali-kali. Dia tetap saja tidak bisa.
"Huh kenapa sulit sekali tidur?" gumamnya kesal.
"Rein udah tidur belum ya?" Darwin kembali memikirkan istrinya itu.
"Sebaiknya aku ke kamarnya!" Darwin duduk di atas ranjang, lalu berdiri untuk keluar dari kamar tamu itu.
Dia ingin tidur memeluk Rein,bukan guling seperti di kamar itu.
Darwin pelan-pelan melangkahkan kakinya. Dia tidak boleh mengeluarkan suara apapun agar tidak ada yang terbangun.
"Rein," panggil Darwin di depan pintu kamar gadis itu. Tidak ada jawaban, Darwin mengira Rein sudah tidur.
Dia mencoba membuka pintu kamar gadis itu. Dan ternyata tidak di kunci.
"Apa dia sengaja tidak menguncinya?" batin Darwin. Dia segera masuk ke dalam kamar gadis itu.
Terlihat Rein yang sudah tidur di balut selimut tebal.
"Kenapa dia sangat imut saat tidur!" ucapnya ketika mendekat ranjang Rein. Darwin ikut tidur di sampingnya. Memeluk tubuh Rein dari belakang.
"Umm Darwin!" Rein terjaga ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Dia melihat ke arah pria itu. Ternyata memang suaminya datang ke kamarnya.
"Iya ini aku Darwin!" bisik Darwin di telinganya.
"Gimana kalau mama marah?" tanya Rein melihat Darwin yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
"Yang penting kamu diam, jangan banyak mengeluarkan suara. Mereka pasti tidak akan terbangun," balas Darwin.
Rein menganggukkan kepalanya. Dia lalu kembali mencoba memejamkan mata. Di peluk Darwin dari punggungnya membuat Rein merasa semakin nyaman.
"Kamu beneran mau tidur?" ucap Darwin.
"Emm aku ngantuk sekali," ucap Rein sudah hampir terlelap kembali.
Tiba-tiba tangan Darwin mulai meraba ke dalam baju Rein.Gadia itu menggeliat karena geli.
"Darwin,jangan lakukan itu!" ucap Rein sambil menarik tangan Darwin agar tidak menyentuh bagian sensitifnya.
Darwin memang sengaja menggoda Rein. Dia tidak akan berhenti begitu saja. Darwin segera menyerang Rein dalam gelap kamarnya.
Rein tidak bisa menghindar, lagi-lagi dia terbuai oleh pria itu. Rein hanya bisa pasrah memberikan tubuhnya untuk Darwin.Keduanya saling menghangatkan satu sama lainnya.
__ADS_1
Ketika pagi hampir tiba, Darwin segera kembali ke kamarnya. Sebelum para anggota keluarga yang lain bangun. Pria itu seolah-olah tidur di kamar tamu. Yang sebenarnya dia tidur di kamar Rein.
"Darwin," panggil Nadia.
"Ya ma?" jawab Darwin sambil membuka pintu.
"Sudah bangun, mama kira belum. Ayo sarapan sebelum ke sekolah," ajak Nadia.
"Baik ma," jawabnya. Darwin sudah siap dengan seragam sekolah lengkap. Begitu pula dengan Rein. Keduanya berpapasan di depan tangga menuju ke lantai satu.
Rein dan Darwin tampak tersenyum sejak bertemu. Keduanya teringat akan malam yang indah bersama tadi malam.
"Rein ambilkan Darwin rotinya,"pinta sang mama.
"Baik ma," Rein mengambilkan Darwin roti yang sudah di olesi selai.
Faro dan Tifo merasa cemburu dengan Darwin. Keduanya juga ingin merasakan di perhatikan seperti itu.
"Faro,Tifo jangan melamun, kalian harus segera berangkat juga!" Nadia melihat keduanya yang melamun di meja makan.
"Iya tante." Jawab Tifo tidak bersemangat.
"Iya ma," begitu pula dengan Faro.
Nadia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkat keduanya. Berbeda dengan Darwin dan Rein yang tengah berbunga-bunga. Di tambah Rendra yang juga tidak berhenti tersenyum sejak bangun tidur..
"Haih, kalau semuanya sudah sibuk. Tinggal aku sendirian,rumah jadi sepi sekali tanpa mereka.
Nadia membereskan piring dan gelas kotor di meja makan. Dia tidak memiliki pembantu, sengaja dia lakukan agar dia bisa banyak bergerak.
Rein dan Darwin hari ini ada ujian kenaikan kelas. Keduanya sudah mempersiapkan diri. Rein sudah berusaha keras belajar di waktu senggangnya.Tapi sebenarnya lebih banyak di ganggu oleh Darwin.Dari pada pria itu membantunya.
"Rein, jangan terlalu gugup ya!" ucapnya.
"Iya aku tahu!"
"Rein nanti malam lagi ya?" bisik Darwin pada telinga gadis itu.
Rein menginjak kaki Darwin dengan kursinya. Pria itu kesakitan.
"Enak kan?" ucap Rein mengejek. Darwin hanya mengerucutkan bibirnya.
Rumi kesal melihat kedekatan keduanya. Dia menggenggam erat pena di tangannya.
__ADS_1
Pak Ilham sudah masuk ke dalam kelas. Dia bersiap membagikan soal ujian untuk para murid di kelas itu.
Rein membaca soal-soalnya,dia sedikit mengangkat bibirnya. Rein pernah mempelajari soal-soal yang sama dari Darwin dahulu.
"Ternyata punya suami pintar itu ada untungnya. Setidaknya dia bisa menjadi guru untukku," batin Rein. Ujian segera di mulai, para murid mengerjakannya dengan tenang.
Darwin memperhatikan Rein dari belakang. Melihat istrinya tampak mudah dalam mengerjakan soal,Darwin ikut senang.
Setelah selesai ujian untuk hari ini. Seperti biasa Darwin harus berangkat kerja. Sebelum keluar dari kelas. Rumi menghampirinya.
"Darwin, bisa bicara berdua sebentar?" tanyanya.
"Bicara apa? Langsung saja?" pinta Darwin, Rein masih berada di dalam kelas.
"Kita cari tempat yang lebih nyaman bisa nggak Win?" pinta Rumi.
"Di sini juga nyaman, cepatlah!" balas Darwin mulai kesal.
Rumi menatap Rein dengan tatapan tidak suka. Berharap gadis itu segera keluar dari kelas. Namun Rein tetap santai di kursinya.
"Darwin, papa ku meminta kita untuk lebih dekat lagi. Kamu tahu kan kalau kita di jodohkan?" ucap Rumi.Dia tidak tahu bahwa Darwin bahkan sudah menikah dengan Rein.
Rein mendengar pembicaraan mereka, Rumi sengaja mengeraskan suaranya agar gadis itu bisa membuat Rein kepanasan.
"Memangnya siapa yang setuju untuk di jodohkan denganmu?" tanya Darwin.
"Papa mu bilang kamu pasti akan setuju!" jawab Rumi.
"Kalau begitu kamu dijodohkan saja dengan papaku, dia yang setuju kan?" ucap Darwin lalu berdiri untuk pergi dari kelas itu.
"Ayo Rein!" ajak Darwin pada Rein.Gadis itu sedikit terkejut karena tiba-tiba Darwin menarik tangannya.
"Darwin!" teriak Rumi kesal. Dia lagi-lagi harus kalah dari Rein.
Ketika sudah berada di luar kelas. Rein tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Kenapa kamu tertawa sejak keluar kelas?" tanya Darwin bingung.
"Ada gitu ya?Cewek percaya diri banget seperti dia!" balas Rein.
"Kamu gak cemburu?" tanya Darwin.
"Cemburu? Sama dia? Kamu pasti bisa menilai sendiri kan?" gumam Rein.
__ADS_1
"Benar, untuk apa cemburu sama dia. Lagi pula kamu kan yang sudah memiliki diriku," ucap Darwin.
Rein tersenyum ke arah Darwin. Pria itu merangkul tubuh mungil Rein. Untungnya sekolahan sudah sepi. Rumi yang berada di belakang keduanya. Sengaja memfoto Rein dan Darwin yang terlihat mesra. Dia ingin membuat mereka menjadi perbincangan satu murid-murid di sana.