
Rein membuka kedua matanya.Karena terganggu dengan suara berisik di sekitar gadis itu.Ketika menyadari sesuatu,Rein terkejut dengan apa yang dia lihat.
Suasana keributan di kelas menengah atas. Rein baru saja bangun dari tidurnya ketika di dalam kelas.
"Dimana aku?" tanya Rein bingung, dia mengusap kedua matanya. Melihat ke sekeliling gadis itu. Tampak teman-temannya ketika masa sekolah dulu sedang bercanda gurau satu sama lainnya.
"Bukankah ini kelas ku?" tanya Rein bingung pada dirinya sendiri. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Dia melihat ke arah pakaian yang dia kenakan saat ini.
"Seragam sekolah?" gumamnya.
Rein menatap teman-temannya. Mereka juga memakai seragam sekolah seperti dirinya. Rein segera mengingat-ingat tahun berapa saat ini.
"Jika tidak salah ini adalah tahun 2020, saat aku masih sekolah di sekolah menengah atas? Kalau begitu usiaku saat ini tujuh belas tahun!" gumamnya memperkirakan.
Rein lalu berlari ke salah satu temannya yang berada tak jauh darinya.
"Hei ini tahun berapa?" tanya Rein.
"Kamu kenapa Rein? Sekarang tahun 2020!" jawabnya.
"Benarkah?" Rein tampak kebingungan. Lalu pindah ke teman yang lain.
"Apa kalian mengenalku?" tanya Rein menunjuk dirinya kepada mereka.
"Kamu kenapa Rein? Jelas kita mengenalmu?" balas mereka bingung melihat Rein yang aneh setelah bangun dari tidurnya.
"Jadi aku hidup lagi? Aku kembali ke jaman ku?" ucapnya dengan bahagia. Rein tampak begitu bahagia.
Sedangkan teman-temannya di buat bingung dengan gadis itu.
"Kenapa dia ya? Bangun tidur kok jadi aneh?" tanya salah satu teman Rein kepada teman yang lain.
"Tidak tahu, apa mungkin salah makan?" gumam yang lain.
Rein berada di samping jendela. Memandang keluar ruangan. Dari kelasnya yang berada di lantai tiga, Rein bisa melihat semua halaman sekolah itu.
"Ini benar-benar sekolahku!" ucapnya senang.
"Hei Rein kamu kenapa? Baru saja tidur setengah jam yang lalu, bangun jadi seperti ini?" tanya Rora. Teman sebangku Rein.
Gadis itu mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Setengah jam?" batinnya bertanya-tanya.
"Setengah jam yang lalu?" tanya Rein pada Rora.
Rora menganggukkan kepala. Dia tidak mungkin berbohong.
Rein terdiam, memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Jika yang dia alami di dunia vampir saat itu hanyalah berlangsung setengah jam. Apakah Rein hanya bermimpi?
Dia tidak menjawab pertanyaan Rora. Rein malah berjalan ke luar dari kelas itu.
"Kalau ini mimpi? Berarti apa yang aku temui semuanya juga mimpi. Termasuk Darwin?" batin Rein kecewa. Dia berharap bisa bertemu dengan Darwin di dunia ini juga.
Rein berjalan ke lantai dasar. Kakinya melangkah ke arah lapangan basket. Dia tidak menyadarinya.Di dalam otaknya tengah memikirkan Darwin.
Tiba-tiba dari arah depan sebuah bola basket mengarah ke kepala gadis itu.
"Awas!" teriak para anak laki-laki yang sedang bermain basket. Rein terlambat menghindar, dia terkena bola basket tepat di kepalanya.Penglihatan gadis itu menjadi gelap seketika. Rein jatuh pingsan.
"Astaga!Dia pingsan!" para pria itu menghampiri Rein. Melihat kondisi dari gadis itu.
"Biar aku yang bawa dia ke UKS,"salah satu dari mereka membopong tubuh Rein. Membawanya ke ruang UKS.
"Terima kasih, bias aku yang menunggunya sampai sadar," ucap pria itu.
"Baiklah, jaga dia ya nak!" petugas UKS itu pamit pergi.
Setelah beberapa menit kemudian Rein mulai tersadar. Perlahan kedua mata gadis itu terbuka.
Pria yang menolongnya memandang wajah Rein dengan serius. Pria itu ingin memastikan luka di dahi Rein benar-benar mendapat pengobatan yang baik.
Ketika Rein membuka matanya lebar-lebar. Dia sangat terkejut melihat wajah pria di hadapannya.
"Darwin," ucap Rein memanggil pria itu.
"Kamu sudah sadar?" tanya pria dengan wajah yang sangat mirip Darwin itu dengan nada dingin. Di tag name nya tertulis nama Darwin juga.
"Darwin! Kamu benar-benar Darwin?" Rein memegang kedua pipi Darwin untuk memastikan dia benar-benar Darwin yang dia kenal.
"Tolong lepaskan! Aku tidak suka di pegang seperti ini. Cepatlah bangun kalau tidak apa-apa?" dia masih berbicara dingin pada Rein sambil menghempaskan kedua tangan Rein yang memegang wajahnya.
Darwin menjauh dari Rein, gadis itu mencoba untuk bersandar pada ranjang UKS.
__ADS_1
"Aduh dahi ku?" Rein baru merasakan nyeri di dahinya. Serta kepala bagian belakang sakit karena terbentur.
"Maaf aku tidak sengaja mengenai mu, kalau begitu beristirahatlah!" Darwin hendak pergi dari ruang UKS.
"Darwin! Kamu tidak mengenalku?" tanya Rein ketika Darwin sudah berjalan sampai di ambang pintu keluar.Pria itu berbalik badan, menatap Rein dengan serius.
"Aku tidak mengenalmu,dan tidak ingin mengetahui siapa kamu! Lupakan saja insiden tadi," ucapnya dingin. Rein tampak kecewa terlihat dari wajah gadis itu.
Darwin keluar dan menutup pintu ruangan itu. Ketika berjalan menjauh, di hati pria itu tampak nyeri. Entah mengapa tiba-tiba terjadi. Dia terbayang wajah sedih Rein. Seperti mengharapkan sesuatu darinya.
"Sudahlah aku tidak mengenalnya, hanya kebetulan bola ku tadi mengenai dahinya," batin Darwin.
"Huaaaa! Wajahnya sama, sikapnya juga sama-sama dingin. Tapi kenapa dia tidak mengenaliku?" ucap Rein sambil menangis.
Rora berlari dari kelas menuju ke ruang UKS setelah mendengar Rein jatuh pingsan.
"Rein!" teriaknya ketika membuka pintu ruangan itu. Deru nafasnya tidak beraturan.Sepertinya gadis itu tadi berlari. Jarak kelas mereka lumayan jauh dari ruang UKS.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya mendekati Rein. Memeriksa dahi gadis itu.
"Astaga siapa yang melukaimu? Aku akan menghajarnya!" Rora terlihat sangat marah.
Tapi Rein bukannya malah menjawab malah menarik lengan Rora. Meminjam bahu gadis itu untuk bersandar dan menangis lebih keras lagi.
"Rein kamu kenapa? Malah menangis? Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" Rora khawatir dengan keadaan Rein.
"Huaaaaaaa!" Rein makin tidak mau berhenti menangis.
Rora akhirnya diam, menunggu gadis itu untuk menyelesaikan terlebih dahulu tangisannya. Percuma saja jika dia bertanya, Rein tidak akan menjawab gadis itu.
Ketika tangisannya mulai menghilang. Suara sesenggukan kecil masih terdengar dari mulut Rein.
"Sudah lelah menangis?" tanya Rora. Rein menganggukkan kepalanya seperti anak kecil yang baru saja kena hukuman.
"Ayo kembali ke kelas," ajak Rora.
Rein mengangguk lagi, dia mengikuti Rora untuk kembali ke kelas. Ketika di jalan, banyak siswa siswi yang memperhatikan Rein.
Kedua matanya bengkak setelah menangis. Di tambah luka di dahinya yang telah di tutup perban. Membuat siapa saja pasti akan memperhatikannya.
Rora menarik tangan Rein agar berjalan cepat.Untungnya bel tanda jam masuk kelas kembali segera berbunyi. Para siswa dan siswi segera masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.
__ADS_1