
Esok datang lebih cepat, Darwin dan Rein keluar dari gua yang semalam mereka tinggali. Rein menyipitkan kedua matanya ketika keluar dari mulut gua itu. Cahaya sudah begitu menyilaukan pagi ini.
"Dimana kita sebenarnya?" tanya Rein tidak pernah menemukan tempat seindah itu.
"Ini adalah daratan kaum vampir, tempat tinggal ku sesungguhnya," jelas Darwin.
"Lalu kamu akan tetap di sini?" tanya Rein.
"Tentu saja, bagaimana denganmu?Istana yang kamu miliki?"tanya Darwin.
Rein bimbang,dia seharusnya tengah memimpin di istananya saat ini. Tapi Rein tidak tahu bagaimana cara untuk kembali ke sana lagi.
"Anggap saja sedang berlibur!" putusnya dengan santai.
"Baiklah,ayo pergi!" ajak Darwin. Dia menarik tangan Rein dan membawanya melompat di udara.
Selang beberapa menit keduanya tiba di sebuah rumah kecil. Rumah itu tempat berkumpulnya para kaum vampir yang tersisa. Termasuk Alee di sana.
"Kenapa ke sini?" tanya Rein.
"Sudahlah nanti kamu juga akan tahu," jawab Darwin. Pria itu mendorong pintu untuk masuk ke dalam rumah kecil itu.
Rein mengikutinya dari belakang. Saat di dalam rumah, Rein melihat banyak kaum vampir yang tengah menyembuhkan luka mereka.
"Pangeran!" mereka membungkukkan badan ketika melihat siapa yang datang.
Tapi ekor mata Rein tertarik dengan seorang gadis di pojokan.Dia sangat cantik bagi Rein.
"Dia gadis yang dulu itu kan?" batinnya.
"Kak Darwin!" Alee tiba-tiba berlari dan memeluk tubuh Darwin.
"Kakak?" batin Rein tidak percaya. Mereka bahkan tak sama di lihat dari wajah masing-masing.
Mereka belum melihat ada Rein di belakang punggung pria itu.
"Ehem!" Darwin segera melepaskan pelukan Alee padanya. Gadis itu tampak tidak suka. Tapi ketika melihat Rein di belakang Darwin seketika dia mencurigainya.
"Siapa dia kak?" tanya Alee dengan nada curiga. Dia mencium bau darah manusia dari tubuh Rein.
"Dia manusia?" tanya Alee sambil mendekati Rein. Dia mengendus tubuh gadis itu. Membuat Rein sedikit waspada.
"Alee hentikan ! Dia akan takut jika kamu seperti itu," pinta Darwin.
"Perkenalkan semua. Dia adalah Rein, sumber makanan ku. Diantara kalian jangan pernah ada yang menyentuhnya. Jika tidak kalian akan tahu konsekuensinya kan?" ucap Darwin.
__ADS_1
"Baik pangeran!" jawab mereka.
"Tapi kak, ini tidak benar?" Alee merasa Rein adalah orang yang membahayakan. Dia tidak ingin kakaknya terikat oleh gadis itu.
"Cukup Alee!" Sentak Darwin tidak suka dengan cara Alee menginterogasi Rein.
Alee lalu menjauh dari Rein, tampak di wajahnya dia tengah kesal dengan gadis itu. Karena Rein sang kakak tega menegurnya.
"Sekarang kalian boleh kembali ke tempat masing-masing. Dan kamu juga Alee. Kembali ke kamarmu!" pinta Darwin tegas.
"Baik kak," jawab Alee, dia keluar dari ruang itu sambil berjalan mendekati Rein. Ketika sampai di dekatnya, Alee menyenggol lengan gadis itu.
"Jangan dekati kakak ku!" ucapnya lirih di telinga Rein.
Wajah Rein tampak tak suka dengan cara Alee seperti itu. Bukan kah mereka saudara, kenapa tampaknya Alee sangat menjaga kakaknya dari gadis lain.
Pikiran aneh terbayang di kepala gadis itu. Namun dengan segera Darwin menyadarkannya.
"Jangan banyak berfikir. Dia adalah adik tiri ku. Dia setengah vampir dan juga setengah manusia," jelasnya.
"Oh jadi karena adik tiri, mungkin gadis itu memiliki perasaan berbeda pada Darwin," batin Rein. Dia bergidik ngeri membayangkannya. Bagaimana mungkin orang yang dianggap adik malah menyukai sang kakak.
Tuk
"Kenapa memukulku? Sakit tau!" gerutunya.
"Sudah di bilang jangan berfikir hal aneh. Kamu malah sebaliknya!" ucapnya. Rein hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
Dia laku mengikuti Darwin masuk ke dalam ruang lain di rumah itu.
"Ini tempat tidurmu, jika ada hal aneh cepat beri tahu aku," Darwin lalu meninggalkan Rein di kamar itu. Tapi sebelum menutup pintunya, dia berbalik badan.
"Satu lagi, jangan keluar dari rumah ini sendirian!" imbuhnya. Rein hanya mengangguk kecil.
Dia tidak peduli apa yang di larang oleh Darwin. Yang terpenting saat ini adalah dia ingin menyempurnakan latihannya. Karena akhir-akhir ini Rein merasa ada kekuatan besar di dalam tubuhnya. Namun dia belum tahu kekuatan apa itu.
Rein duduk di atas ranjangnya, lalu kakinya bersila. Rein memusatkan pikirannya pada kekuatan yang ada di dalam tubuhnya.
Semakin lama semakin Rein bisa menemukan kekuatan itu. Namun ketika sudah hampir menyentuhnya, jiwa Rein terpental di dalam tubuh itu.
"Uhuuuk!" dari mulut gadis itu keluar darah merah yang kental. Rasa sakit di tubuhnya membuat Rein muntah darah.
"Ah kenapa sakit sekali?" tanyanya.
Darwin berada di kamarnya juga merasakan sakit yang sama dengan Rein. Pria itu segera melesat ke arah kamar Rein.
__ADS_1
Di ambang pintu kamar, Darwin melihat mulut Rein yang penuh dengan darah.
"Rein kamu kenapa?" tanya Darwin yang tiba-tiba muncul, mengagetkan Rein.
"Darwin, aku baik-baik saja. Hanya tadi mencoba mencari tahu kekuatan aneh yang ada pada tubuhku," jelasnya.
"Kekuatan aneh?" tanya Darwin.
"Ya, ada sesuatu yang tertanam di tubuhku. Aku bisa merasakannya, tapi sulit untuk menggapainya.
"Apa yang di maksud Rein kekuatan dari permata biru itu?" batin Darwin.
"Rein jangan lagi mencoba menggapainya atau mengeluarkannya dari tubuhmu. Jika tidak kamu akan kehilangan nyawamu," jelas Darwin.
"Kehilangan nyawa? Kamu bercanda kan Darwin?" gumam Rein.
"Aku tidak bercanda!" ucapnya sambil menatap serius kedua mata Rein.
"Ya jangan galak gitu dong!" Rein malah mengalihkan pembicaraan.
"Dengarkan aku! Di dalam tubuhmu ada permata biru yang menyimpan separuh kekuatan vampir ku."
"Apa?"
"Karena batu itu kamu masih bisa hidup sampai sekarang."
Darwin akhirnya menjelaskan semuanya, tentang batu permata yang bisa menjadi perebutan orang lain.
"Jadi kami jangan pernah mengatakan hal ini pada siapapun,hanya aku dan kamu saja yang tahu! Jika tidak nyawamu akan dalam bahaya Rein," jelasnya lagi.
"Jika kekuatan itu kembali padamu, aku akan meninggal?" tanya Rein. Darwin menganggukkan kepalanya.
Rein terdiam di atas ranjang, dia masih mencerna semua yang Darwin katakan.
Di luar pintu kamar Rein, Alee tidak sengaja mendengar pembicaraan keduanya. Gadis itu mengetahui semua yang di katakan oleh Darwin.
"Jadi kakak hanya mempunyai setengah dari kekuatannya. Dan yang setengah ada pada gadis itu?" gumamnya lirih.
Alee segera pergi dari sana, namun ketika hendak melangkah. Kaki kirinya tidak sengaja mengenai sudut pintu. Membuat bunyi kecil yang Darwin dengan mudah mendengarnya.
"Siapa di sana?" Darwin segera menuju ke arah pintu kamar Rein. Dia memeriksa di luar pintu itu. Namun tidak ada siapa-siapa di sana.
"Ada apa Darwin?" tanya Rein.
"Tidak, tidak ada apa-apa kok Rein," jawab Darwin. Tapi dia merasa ada aura vampir di depan pintu itu selain dirinya. Jelas seseorang mungkin mendengar pembicaraannya tadi.
__ADS_1