
Esok harinya, waktu camping tiba.Rein menggendong tas ransel berwarna biru miliknya. Beberapa pakaian dan perlengkapan camping sudah dia masukkan ke dalam ransel itu.Rein sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Ketika dia keluar dari gerbang rumahnya. Secara bersamaan Darwin juga keluar dari rumah pria itu. Mereka berpapasan di luar rumah. Rein menatapnya dingin, begitu pula dengan Darwin. Sama-sama saling tidak peduli.
Keduanya tengah menunggu bus sekolah menjemput mereka. Ketika berada di halte tak jauh dari rumah keduanya. Rein sengaja memberi jarak agar tidak terlalu dekat dengan pria itu. Dia memilih duduk di samping teman satu sekolah yang lainnya.
Ketika bus sekolah tiba dan menjemput mereka. Rein dan siswa yang lainnya segera naik. Mereka berkumpul di sekolah terlebih dahulu. Menunggu semua siswa datang dan berangkat bersama-sama ke tempat yang di gunakan untuk camping nanti.
"Hai kamu Rein kan?" Rumi menghampiri Rein dan mengajaknya berbicara.
"Ya,aku Rein!" balas Rein dingin. Dia tidak terlalu menyukai gadis itu.
"Kalau begitu salam kenal. Kita akan satu tenda kan?" tanyanya. Rein membalasnya dengan anggukan kecil. Rein malah sibuk mencari dimana Rora saat ini.
"Kamu mencari siapa?" tanya Rumi ingin tahu.
"Teman sebangku ku!" jawab Rein singkat.Rumi hanya membalasnya dengan oh saja.
Tak jauh dari keduanya, Rora tengah sibuk dengan perlengkapan gadis itu. Rein hanya bisa menepuk dahinya ketika melihat betapa ribetnya Rora saat ini.
"Dia mau camping atau pindah rumah sih?" batin Rein melihat Rora dengan banyak barang yang dia bawa.
"Teman satu bangku mu itu unik juga ya Rein, Rora ya namanya?" Rumi mencoba mendekatkan dirinya dengan teman satu tenda gadis itu. Meski dia tahu Rein tidak mudah untuk di dekati.Rumi ingin menghilangkan rasa canggung diantara mereka nantinya.
"Ya, dia memang begitu. Oh iya, jangan terlalu banyak bicara denganku. Karena kita tidak sedekat itu," Rein lalu meninggalkan Rumi dan menghampiri Rora yang tengah kesulitan membawa tas-tas miliknya.
"Rein bantu aku!" pinta gadis itu. Rein mengambil satu tas jinjing dari tangan Rora.
"Mau camping atau pindah rumah sih?" ejek Rein.
"Semua ini penting Rein, jangan mengejekku deh!" ucapnya. Rein hanya membalas dengan tawa renyahnya saja.
Rein dan Rora sudah saling mengenal sejak keduanya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Awalnya mereka tidak saling dekat,karena sebuah pertemuan keluarga. Rein dan Rora akhirnya bisa dekat.
Ayah Rora adalah kolega dari ayah Rein. Sejak saat itu keduanya berteman baik hingga sekarang. Meski sifat dan sikap keduanya berbeda jauh. Namun mereka bisa saling menerima sebagai teman baik.
__ADS_1
"Rein tunggu aku!" Rora berlari kecil sambil membawa tas miliknya. Mengejar Rein yang langkahnya sudah jauh di depan Rora.
Mereka menuju ke bus yang akan membawa mereka ke tempat camping.Rumi ingin duduk di samping Rein. Namun gadis itu memilih Rora untuk duduk di sampingnya.
Rumi akhirnya duduk di belakang keduanya.Darwin masuk ke dalam bus. Kursi yang tersisa hanya tinggal di samping Rumi.
"Hei kamu cepat duduk. Kita akan berangkat segera!" ucap sopir bus pada Darwin.
"Baik pak," Darwin terpaksa duduk di samping Rumi. Sebelum duduk dia meletakkan tasnya ke bagasi atas bus itu.
Rein berdecak memakai masker dan kaca mata hitam miliknya. Dia menutup mata hendak tidur selama perjalanan.
Darwin melihat siapa gadis yang ada di depannya. Rein dan Rora.
"Hai, aku Rumi? Kita belum berkenalan kan?" tanya Rumi pada Darwin.
"Aku Darwin," jawab pria itu singkat. Dia tidak tertarik berbicara pada siapapun. Rumi hanya bisa menghela napas dalam. Sulit sekali mencari teman di kelasnya.
Darwin mencoba menutup mata juga. Rumi memperhatikan pria itu. Wajahnya yang tampan membuat Rumi tidak melepaskan perhatiannya pada dirinya.Rumi mulai mengagumi Darwin.
"Anak-anak ayo bangun! Kita sudah sampai di tempat!" ucap pak Ilham yang menjadi wali kelas sekaligus penanggung jawab camping kali ini.
"Baik pak!" para siswa membalas serentak. Mereka segera mengambil tas dan turun dari bus secara bergantian.
Di dalam bus Rein dan Darwin yang masih tertinggal karena mereka tertidur tadi. Rein yang sudah bangun mengambil tas di bagasi atas dekat Darwin. Karena berat tangan Rein tidak kuat menangkapnya.
Alhasil tas itu jatuh mengenai wajah Darwin. Pria itu terbangun karena tas milik Rein.
"Kamu lagi?" ucap Darwin kesal.
"Kenapa? Aku tidak sengaja kok. Lagi pula siapa suruh duduk di situ!" ucap Rein tidak mau mengaku salah.
"Dasar gadis menyebalkan!" Darwin melempar tas ransel milik Rein pada gadis itu. Untungnya Rein bisa menangkapnya.
Darwin berdiri dan mengambil tas ransel miliknya. Lalu berjalan keluar dari bus. Begitu pula dengan Rein. Dia menggerutu tentan Rora yang tidak membangunkannya.
__ADS_1
"Dasar Rora, kenapa tidak membangunkan ku!" ucap Rein kesal pada teman sebangkunya itu.
"Rein!" panggil Rora sambil melambaikan tangannya.Rein berjalan menuju ke tempat Rora berdiri.
"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Rein pada Rora.
"Siapa yang tidak mau bangun! aku sudah berulang kali membangunkan mu Rein!" balas Rora.
"Benarkah?" tanya Rein. Rora menganggukkan kepalanya.
Rein lalu mengamati tempat sekitar. Mereka akan berkemah di tepi hutan. Rein merasa familiar dengan hutan itu.
"Kenapa sepertinya aku pernah ke sini?" gumam Rein pelan. Rora yang mendengarnya ikut bertanya.
"Kenapa Rein?" tanya Rora.
"Eh enggak kok, cuma teringat sesuatu saja," balasnya.
"Oh, ya udah aku mau mendirikan tenda bersama teman satu tendaku dulu. Kamu ke sana gih, anak baru itu sudah menunggumu!" ucap Rora menunjuk ke arah Rumi yang sudah memasang tenda.
Rein merasa sangat malas berhadapan dengan gadis itu.Tapi karena permintaan pak Ilham untuk saling membantu. Rein terpaksa membantu Rumi.
"Biar aku bantu!" Rein menarik ujung tenda yang lain,membantu Rumi memasangnya.
"Ah baiklah," Rumi memberikannya pada Rein. Keduanya bersama-sama mendirikan tenda.
Ketika semua telah selesai mendirikan tenda masing-masing. Pak Ilham meminta mereka untuk mencari ranting kayu tak jauh dari tempat mereka mendirikan tenda.
"Anak-anak, kalian kumpulkan ranting-ranting yang ada di sini. Kita akan membuat api unggun nanti malam." Pinta pak Ilham.
"Baik pak!" jawab mereka serentak. Para gadis menyiapkan makanan untuk makan siang bersama. Sedangkan para pria mencari kayu bakar.
Hari cepat berlalu, mereka berkumpul untuk makan terlebih dahulu. Sebelum melanjutkan aktifitas berkemah mereka.
Setelah makan siang selesai,Rein berjalan-jalan di sekitaran tenda. Dia memperhatikan hutan di depan mereka itu.
__ADS_1
"Kenapa rasanya hutan ini sama dengan hutan tempat Darwin dulu di segel?" batin Rein teringat oleh hutan tempat dia dan Darwin bertemu di dunia vampir dahulu. Gadis itu mulai menerka-nerka hal yang mungkin terjadi.