Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Ratu Istana


__ADS_3

Rein mengguncang tubuh Darwin. Pria itu sudah berubah menjadi vampir seutuhnya. Untungnya para penduduk dan tetua di istana tidak melihat perubahan pria itu.


"Darwin sadarlah!" teriak Rein sambil tetap mengguncang tubuh Darwin.


Rein segera menggores lengannya. Agar darah segar keluar dari tubuhnya. Lalu memberikan darah itu pada Darwin.


"Hisaplah!" Rein mengarahkan lengannya ke mulut Darwin.


Pria itu seperti tak terkendali ketika mencium bau darah milik Rein.Dia segera menghisapnya.


Rein harus menahan sakit karena Darwin tak hanya sebentar menghisap darahnya.


Perlahan Darwin mulai tenang, dia berubah ke semula. Taring dan bola matanya kembali seperti biasa.


"Kamu sudah kenyang?" tanya Rein sambil memegang dagu Darwin.


"Ya, aku sudah kenyang."


Rein tersenyum tipis, lalu jatuh pingsan di pelukan Darwin.


"Maafkan aku Rein, aku terlalu banyak menghisap darahmu," ucap Darwin menyesal.


Darwin segera menyembuhkan luka di lengan Rein.


Seorang pria yang tidak sengaja melihat keduanya ketakutan di tempat. Dia melihat wujud asli Darwin.


"Dia vampir? Putri Rein dengan seorang vampir," batinnya. Tubuhnya gemetar karena rasa takut yang luar biasa.


Selama ini orang-orang selalu mengira bahwa kaum vampir telah sirna. Tapi di depan matanya dia melihat sendiri. Putri Rein yang sering memanggil pria itu Darwin adalah seorang vampir.


Shio,pemuda yang berdiri di balik tembok salah satu bilik di istana. Dia ingin segera memberitahu kepada para tetua tentang masalah ini.

__ADS_1


Kaki kirinya melangkah ke belakang, namun sayangnya ketika dia hendak pergi. Kaki kirinya tidak sengaja menyenggol vas bunga. Dan vas itu jatuh.


Darwin yang mendengarnya segera menuju ke tempat Shio berada.Berdiri tepat di depan pria itu.


"Ka-kamu!" ucapnya gemetar.


"Kamu melihat semuanya?" tanya Darwin dengan wajah dingin.


"Ti,tidak!" Shio ketakutan.


Tiba-tiba Darwin memegang dahinya. Dia tengah menghapus ingatan Shio beberapa detik yang lalu. Pria itu tidak akan mengingat tentang dia yang melihat Darwin sebagai vampir.


"Eh kakak, kenapa ada di sini?" tanyanya.Pemuda berusia dua puluh tahun itu bertanya pada Darwin.


"Ah kebetulan sedang lewat sini saja. Kamu mau kemana?" tanya Darwin.


"Aku mau ke- Eh kemana ya? Kok tiba-tiba tidak ingat," gumamnya. Darwin tersenyum kecil.


"Ah benar kak, hari ini ada penobatan sang putri. Sebaiknya kita segera ke sana sekarang," ucap Shio.


Shio adalah anak dari salah satu tetua yang menjaga istana. Dia mengikuti sang ayah untuk mengabdi pada ayah Rein.


"Benar, cepat kamu ke sana dulu. Aku masih ada sedikit urusan," ucap Darwin.


"Baik," Shio seperti anak kecil polos. Dia sangat menurut pada Darwin. Dia juga lupa tentang apa yang tadi terjadi.


"Eh kenapa sepertinya ada yang kurang ya?" gumam Shio ketika Darwin sudah pergi. Tapi dia tetap tidak mengingatnya.


"Ah sudahlah mungkin hanya perasaanku saja!" Shio segera pergi dari tempat itu.


Sedangkan Darwin kembali ke tempat dimana Rein masih pingsan. Pria itu segera menyembuhkannya dengan kekuatan yang dia miliki.

__ADS_1


"Umm," Rein sudah membuka matanya. Dia memperhatikan sekitar di depan wajahnya tampak wajah Darwin yang hanya berjarak dua puluh senti saja darinya.


"Hei! Kenapa sedekat ini?" ucapnya sambil mendorong wajah Darwin dengan kedua telapak tangannya.


Rein bangun dan membenarkan duduknya. Darwin duduk di depan gadis itu.


"Aku pikir kamu tidak akan hidup lagi!" ucapnya sarkas.


"Tentu saja aku akan hidup. Lagi pula ini hidup kedua ku!" ucap Rein keceplosan.Dia tidak sadar mengucapkan hal itu.Darwin mengerutkan dahinya.


"Hidup kedua?" tanya Darwin.


Mata Rein membelalak, dia baru menyadari sesuatu.


"Ah itu, bukan apa-apa hanya salah bicara saja!" ucap Rein.


"Benarkah?" Darwin tidak mudah percaya. Meski dia tak menyangkal bahwa Rein sudah pernah meninggal sebelumnya waktu itu. Tapi Darwin bisa yakin bahwa dia tidak mengetahuinya.


"Seharusnya dia tidak tahu pernah meninggal kan?" batin Darwin.


Melihat raut wajah Darwin yang penuh curiga. Rein segera mengalihkan pembicaraan.


"Sebaiknya kita segera kembali ke sana. Mereka pasti tengah menunggu kita."


Rein menyelipkan senyum di setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Meskipun canggung, Rein segera kabur dari hadapan Darwin.


Para tetua kembali menyambut kedatangan Rein. Mereka melakukan ritualnya kembali. Kali ini tidak ada yang mengganggu mereka.


Salah satu tetua memberikan mahkota kerajaan ke atas kepala Rein. Gadis itu tampak anggun sekaligus berkarisma. Aura darah biru keluar dari dirinya.


"Selamat putri Rein, sekarang anda adalah ratu di istana ini." Ucap salah satu diantara tetua itu.

__ADS_1


Semua orang yang melihatnya juga memberi selamat kepada Rein. Mereka membungkukkan badannya di hadapan Rein.


__ADS_2