
Ilham memarkirkan motor miliknya di depan rumah gadis pujaan hatinya. Dia menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan-lahan.
Ilham berjalan ke arah pintu rumahnya. Berdiri tepat didepan pintu sebelum memencet bel. Sudah lama dia tidak bertemu dengan kekasihnya. Ada rasa gugup yang di rasakan Ilham sekarang.
Suara pintu terbuka, Ilham berdiri mematung ketika yang membukanya adalah wanita pujaannya.Senyum tipis terukir di bibir gadis itu.
"Karin!" panggilnya pada gadis itu. Tampak raut wajah Karin yang menyimpan kesedihan.
"Cepat lah masuk!" pintanya sedikit berwajah dingin. Ilham merasa ada yang tidak beres. Sepertinya Karin tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Ilham masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Karin. Keduanya lalu duduk di kursi ruang tamu. Karin mengambilkan minuman terlebih dahulu untuk Ilham.
Lama tidak bertemu dengan Karin, Ilham sebenarnya ingin sekali memeluk gadis itu. Namun dia merasa Karin sedikit menghindarinya.
"Minumlah!" Karin meletakkan segelas jus jeruk di meja depan Ilham. Dia lalu duduk berseberangan dengan pria itu.
"Karin, kenapa tiba-tiba ingin aku ke sini?" tanya Ilham padanya.
Karin menatap serius wajah Darwin.
"Aku di jodohkan!" ucapnya datar tanpa ekspresi.Tapi getarannya kuat sampai ke hati Ilham.
"Dengan siapa?" tanya Ilham. Karin tidak berharap pertanyaan itu muncul dari bibir Ilham. Dia ingin sekali memukulnya, karena begitu tenang ketika mendengar dirinya akan di jodohkan oleh pria lain.
"Anak rekan kerja papa ku," balas Karin, gadis itu tampak sedih.
"Kamu mau?" tanya Ilham, dia takut jawaban Karin "iya".
Sedangkan Karin sudah bersiap melempar bantal yang berada di atas kursi tamunya ke arah pria itu.
Buk!
"Auh! Kenapa malah melempar ku dengan bantal?" tanya Ilham pada Karin.
"Kalau ada batu bata di sini, aku akan melemparnya ke kamu langsung kok!" balasnya. Ilham hanya bisa terdiam.
"Aku menunggu mu Ilham, tapi kamu seperti tidak mengharapkan hubungan ini berlanjut." Kedua mata Karin mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Di dalam rumah itu hanya ada keduanya. Papa Karin pergi ke perusahaan. Sedangkan mamanya sudah tiada sejak Karin kecil.
"Aku tahu Karin, tapi kamu tahu juga kan bagaimana aku berjuang untuk kita?" balas Ilham.
"Besok papa akan mengadakan pertunangan itu," ucap Karin. Air matanya tak lagi mampu dia tahan.
Ilham merasakan dirinya begitu lemas. Hingga tak tahu harus menjawab apa lagi.Dia sangat mencintai gadis itu.
"Ayo menikah denganku sekarang!" ajak Ilham nekad. Karin mendongakkan kepalanya mengarah pada wajah Ilham. Melihat keyakinan pada pria itu yang begitu kuat.
Tapi Karin menggelengkan kepalanya.Ada hal yang tidak bisa putuskan saat ini. Ayahnya terkena serangan jantung beberapa hari yang lalu. Kini dia memiliki keinginan untuk menjodohkannya dengan laki-laki pilihannya.
Karin tidak bisa menolak begitu saja. Dia takut jantung papanya akan kambuh lagi. Tapi Karin sangat mencintai Ilham. Begitu pula sebaliknya. Keduanya sudah lama ingin menikah dan sama-sama berjuang untuk itu.
Kini Karin dalam dua pilihan berat dalam hidupnya.
"Maaf Ilham,aku tidak bisa melakukannya," balas Karin.
"Kenapa Karin?" tanya Ilham pada wanita itu. Dia tidak percaya bahwa Karin akan menolaknya.
"Aku takut penyakit jantung papa akan kambuh lagi Ham. Kamu tahu kan bagaimana keadaan papa ku?" tanya Karin. Ilham menatap dalam kedua mata Karin. Mencari sedikit celah agar gadis itu juga memikirkan perasaannya.
"Maaf Ilham, aku harus menuruti keinginan papa ku," balas Karin.
"Rin, pikirin lagi. Aku yakin kamu masih sayang sama aku, ayo kita cari cara untuk bisa membujuk papa mu," Ilham tak ingin melepaskan Karim begitu saja.
Karin menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa mempertahankan hubungan mereka.
"Karin, jangan menyerah begini Rin," ucap Ilham.
"Maaf Ham, sebaiknya kamu pulang lah!" ucap Karin tidak tega melihat wajah kecewa kekasihnya itu.
"Rin, lihat aku!" Ilham berjalan ke arah Karin. Namun gadis itu tidak memperdulikannya.
"Pergilah!" sentak nya.
Ilham mematung di tempatnya berdiri. Dia menghela napas dalam. Wanita di hadapannya itu tak lagi perduli dengan hubungan mereka.
__ADS_1
"Baik, aku akan pergi! Semoga kamu bahagia dengan pria itu!" ucap Ilham pada Karin dengan wajah dingin. Karin yang mendengar itu merasa hatinya semakin sakit.
Ilham berbalik badan dan meninggalkan rumah Karin. Dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Karin hanya bisa memperhatikan Ilham dengan perasaan tak karuan lagi. Hatinya benar-benar hancur karena telah melukai pria yang begitu mencintainya dengan tulus.
"Maafkan aku Ilham," kedua pipi Karin penuh dengan air mata.
Sedangkan Ilham, berada di jalanan dengan mengendarai motornya dalam kecepatan tinggi. Dia sangat marah pada dirinya sendiri yang tak bisa secepatnya melamar Karin. Sekarang papanya malah menjodohkan gadis itu pada pria lain.
Ilham sampai di rumahnya tanpa butuh waktu lama. Ketika hendak membuka pintu rumahnya. Darwin dan Ilham saling berpapasan. Darwin tengah membuang sampah di luar sana. Sedangkan Ilham baru saja sampai.
"Paman!" sapa Darwin. Tapi Ilham tak membalasnya, dari wajah pria itu tampak tak bahagia seperti biasanya.
"Kenapa dia?" gumam Darwin. Dia segera membuang sekantong sampah,pada tong sampah di depan rumah pria itu.
Darwin lalu berlari kecil masuk ke dalam rumah. Untuk mengejar pamannya.
"Paman!" panggilnya lagi ketika Ilham hampir sampai di depan pintu kamarnya.
"Iya, kenapa Darwin?" jawab Ilham sambil melihat malas pada Darwin.
"Paman belum makan malam kan? Makanlah dulu," pinta Darwin.
"Kamu saja Win, paman tidak berselera," ucapnya sambil membuka pintu kamarnya. Dia segera masuk ke dalam kamar.
"Tapi paman!" belum juga selesai dia berbicara, pamannya sudah menutup pintu kamar pria itu.
"Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya paman seperti ini?" gumam Darwin penasaran.
"Apa mungkin dia tengah patah hati karena di putusin wanitanya?" tebak Darwin lagi.
Darwin segera melangkah ke kamarnya. Hari sudah malam, dia harus segera tidur agar besok tidak kesiangan ketika berangkat ke sekolah.
Berbeda dari Ilham,dia tidak bisa tidur malam ini. Pria itu tengah sibuk melihat isi galeri di ponselnya. Memeriksa kembali foto-foto dirinya dengan Karin selama mereka bersama.
"Kenapa Rin? Kenapa harus berakhir dengan cara seperti ini?Sia-sia selama ini aku berjuang untuk kita berdua!" gumamnya frustasi.
__ADS_1
Pria itu tak lagi berpenampilan rapi. Rambut dan bajunya sudah terlihat kacau. Sama seperti hatinya saat ini.
Ilham masih berharap,Karin akan menolak pertunangan itu nantinya.Agar dia bisa bersama dengannya hingga ke pelaminan.