
Ilham mengurung dirinya dalam kamar sejak semalam. Darwin berkali-kali memanggilnya agar keluar dari kamarnya. Namun pria itu tetap tidak membukakan pintu.
Ilham tidak berangkat mengajar, Darwin semakin bingung dengan apa yang terjadi pada pamannya.
"Kamu kenapa sih paman?" gumamnya ketika baru keluar dari ruang guru.
Sang paman tidak memberi tahu jika tidak masuk mengajar. Alhasil Darwin di panggil guru lain untuk bertanya pada keponakannya itu.
Darwin tidak tahu apapun, dia bilang ke para guru itu. Bahwa pamannya sedang tidak enak badan. Dan tidak sempat meminta izin.
Karin menatap dirinya dalam cermin besar di kamarnya.Wajah gadis itu tampak kusut dan kedua matanya tampak sembab. Semalam dia menangis sepuasnya karena Ilham.
Malam nanti acara pertunangannya akan di adakan. Di lantai bawah semua orang tengah sibuk mendekorasi ruangan. Karin sama sekali tidak berminat untuk ke luar dari kamarnya.
"Ilham, aku berharap orang yang akan bertunangan denganku adalah kamu malam ini," gumamnya. Dia sangat mencintai pria itu. Tapi sang ayah sangat penting juga baginya.
Hantaran lamaran sudah sejak beberapa hari lalu tiba. Karin menatap hantaran itu yang di letakkan di kamarnya.
Semua memang barang mewah, namun Karin tidak sedikitpun merasa senang menerima barang-barang itu.
Darwin pulang ke rumahnya. Ketika memeriksa kamar pamannya.Pria itu tetap mengunci diri di sana.
"Paman!" panggil Darwin khawatir dengan pria itu.
"Paman kenapa? Kalau ada masalah cerita sama Darwin. Jangan seperti ini!" pinta Darwin lagi. Dia masih berdiri di depan pintu. Menunggu pamannya untuk membukanya.
Klek
Suara pintu terbuka terdengar dari kamar Ilham. Pria itu akhirnya mau membuka pintu kamarnya.
"Paman!" Darwin terkejut melihat Ilham yang begitu berantakan seperti tidak terurus.
"Sebenarnya paman kenapa?" tanya Darwin khawatir padanya.
Ilham tiba-tiba memeluk Darwin. Pria itu terkejut melihat pamannya yang biasanya sangat kuat kini tiba-tiba begitu rapuh.
"Paman,jangan buat Darwin bingung? Ada apa sebenarnya?" tanya Darwin dalam kebingungannya.
Pria itu melepaskan pelukannya dari Darwin .Lalu Ilham hendak menceritakan semuanya pada Darwin. Namun belum di mulai, suara bel rumah Ilham berbunyi.
Darwin mengernyitkan keningnya heran. Siapa sore-sore seperti ini bertamu ke rumah mereka.
"Biar Darwin yang buka pintunya paman," ucap Darwin. Pria itu lalu segera melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Menuju ke pintu utama.
Darwin membuka pintunya. Di depan pria itu ada Faro yang tampak panik.
__ADS_1
"Dimana Ilham?" tanya Faro.
"Dia ada di dalam kak," jawab Darwin.
Faro langsung masuk ke dalam rumah Darwin. Melewati Darwin begitu saja.
"Kenapa sih semua orang aneh hari ini?" gumam Darwin sambil mengacak rambutnya.Dia lalu mengikuti Faro menuju kamar Ilham.
"Ilham!" panggil Faro panik.
Ilham tak lagi bersemangat, dia hanya mengarahkan tubuhnya pada Faro.
"Kamu sudah tahu kah? Karin menikah besok pagi!" ucap Faro.
"Bukannya bertunangan saja?" tanya Ilham dengan wajah datar.
"Tidak, aku dengan dari sepupunya. Kalau pertunangan itu di tiadakan. Dia akan menikah langsung besok pagi!" jawab Faro panik.
"Apa?Kamu gak bohong kan?" tanya Ilham. Faro menggelengkan kepalanya.
Darwin mendengar semua pembicaraan mereka. Yang bisa dia tangkap adalah Karin,wanita itu pasti calon tantenya. Namun kenapa harus menikah dengan pria lain.Darwin belum paham semuanya.
"Kamu sudah tahu kalau dia akan bertunangan? Kenapa masih santai di rumah?" tanya Faro.
Ilham menarik napas sebanyak-banyaknya lalu membuangnya perlahan-lahan. Dia ingin menenangkan dirinya saat ini.
"Lalu kamu akan menyerah begitu saja?" tanya Faro.
"Aku harus bagaimana?" Ilham bingung harus berbuat apa.
"Kalau paman cinta dia. Seharusnya paman tetap mengejarnya. Buktikan paman itu pantas buat wanita itu!" ucap Darwin memberi semangat pada pamannya.
"Ayolah Ilham, hari ini kesempatan terakhir kamu. Jika kamu rela dia bersama orang lain. Kamu pasti akan menyesal," tambah Faro.
Ilham memandang dua odang di depannya itu. Mereka memberinya semangat dan harapan. Ilham tahu apa yang harus dia lakukan.
"Karin, tunggu aku!"batin Ilham.
"Terima kasih Faro,sudah memberi tahu ku. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Ilham.
Waktu berlalu dengan cepat. Karin menatap dirinya tanpa sedikitpun bisa tersenyum. Semalam dia bertengkar hebat dengan papanya. Karena Karin dipaksa untuk menikah dengan pria pilihan papanya hari ini.
Sebelumnya dia hanya akan bertunangan.Namun tiba-tiba berubah. Hari ini dia harus menikah dengan pria yang tidak dia kenal itu.
Karin berusaha menghubungi Ilham namun papanya telah menyita ponsel gadis itu. Dia di kurung dalam kamarnya.
__ADS_1
Dan sekarang para penata rias datang untuk merias gadis itu. Karin hanya bisa diam mematung dalam kursi di depan cermin. Tangan-tangan terampil entah tengah melakukan apa pada wajahnya.
Karin tak bisa lagi melawan, dia harus menerima pernikahan ini.
"Aduh kakak, jangan menangis terus dong!" ucap salah satu perias itu pada Karin.Tapi dia tidak peduli.
"Duh gimana nih, pengantinnya menangis terus. Padahal sebentar lagi akan di mulai acaranya," ucap perias itu pada temannya.
"Kita bilang ke papanya saja, mungkin bisa menenangkan putrinya itu," balasnya.
Mereka akhirnya memilih melaporkan hal itu pada papanya Karin. Setelah beberapa menit sang papa datang ke kamar Karin.Dia melihat putrinya tidak berhenti menangis.
"Kalian, keluarlah sebentar!" pinta Dedi, papa dari Karin.
"Baik tuan," para perias itu akhirnya keluar dari kamar Karin.
Dedi menatap putrinya dengan perasaan kesal.
"Karin, jangan menangis lagi! Kamu akan segera menikah!" ucap Dedi pada putrinya.
"Karin gak mau pa, menikah sama dia!Karin punya pilihan sendiri," balasnya.
"Tapi dia tidak akan bisa membuatmu bahagia Karin," Dedi tetap pada pilihannya. Dia sudah tahu hubungan Ilham dengan putrinya. Namun Dedi memandang rendah pria itu.
"Papa kenapa selalu bilang bahwa Ilham gak akan bisa membuat Karin bahagia. Apa karena harta?" tanya Karin.
"Kamu tidak mengerti Karin, hidup itu tidak harus dengan cinta saja. Kalau kamu mendapatkan pria yang mapan. Setidaknya akan hidup enak," Dedi tidak mau anaknya hidup susah dengan Ilham yang hanya seorang dosen. Bukan pengusaha kaya.
"Tapi pa, kaya pun belum tentu bisa membuat Karin bahagia.Gimana bisa hidup jika tanpa cinta pa!" Karin tak mau hidup dengan pria yang tidak dia cintai dan mencintai dirinya.
"Cinta itu akan muncul Karin. Setelah kalian sering bersama!" Dedi tetap kukuh.
"Papa jahat!" Karin berlari ke arah jendela. Dia ingin melompat saja dari jendela itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Dedi panik melihat Karin yang tiba-tiba naik ke atas jendela kamarnya.
Kamar dilantai tiga itu cukup tinggi. Jika jatuh bisa saja membuat patah tulang atau mungkin bisa terbentur benda keras di bawah sana.
"Papa jangan mendekat! Kalau mendekat, Karin benar-benar akan melompat sekarang!" Karin tak bisa lagi memiliki pilihan selain menggertak papanya.
"Karin jangan lakukan itu!" ucap Dedi khawatir.
"Jangan mendekat pa!" Karin melihat papanya yang melangkah semakin dekat dengannya.
Kaki Karin tanpa sengaja bergerak ke belakang. Tapi tanpa dia duga, kakinya terpeleset. Dan membuatnya benar-benar terjatuh.
__ADS_1
"Karin!" teriak Dedi histeris melihat putrinya terjatuh dari jendela kamarnya. Gadis itu juga terkejut karena tiba-tiba terpeleset tanpa dia sengaja. Dia memejamkan matanya karena takut.
"Selamat tinggal Ilham, jika aku meninggal semoga di pertemukan dalam kehidupan berikutnya."