
Permainan kembali di mulai, pak Ilham mencari murid lainnya untuk melakukan tantangan lagi. Kali ini bola di jatuhkan ke segala arah sambil pak Ilham berputar di tempat dengan mata tertutup.
Satu bola mengenai Rein, dan bola yang lain mengenai Darwin. Seperti kebetulan yang berulang. Mereka kembali di pertemukan.
"Jadi siapa yang menerima bolanya?Silahkan langsung berdiri?"ucap pak Ilham.
Rein dan Darwin berdiri bersamaan. Para murid yang lain tampak antusias dengan keduanya. Terlebih lagi Rora, dia sangat senang melihat Rein dan Darwin bersama.
"Ayo Rein! Semangat!" teriaknya pada Rein. Gadis itu maju mendekat di samping pak Ilham. Darwin juga begitu.
"Baiklah, kali ini siapa yang akan mengambil kertas di dalam toples ini?" tanya pak Ilham.
"Aku!" Rein dan Darwin bersamaan melangkah maju untuk mengambil kertas. Tangan keduanya sudah siap masuk ke dalam toples.
"Wah-wah kalian sangat bersemangat sekali!" ledek pak Ilham,Darwin semakin kesal dengan pamannya itu.
"Baiklah, biarkan Rein saja yang mengambilnya," ucap pak Ilham menengahi.
"Baiklah," Darwin akhirnya mengalah juga.
Rein segera mengambil kertas dari dalam toples itu. Lalu memberikannya pada pak Ilham. Pria itu segera membukanya dan membaca. Dia tampak tersenyum ke arah Darwin.
Darwin merasakan firasat buruk dari senyum pamannya itu. Semua murid juga menantikannya.
"Tantangannya adalah memecahkan balon dengan kedua dahi kalian!" ucap pak Ilham, semua murid bersorak menyemangati. Darwin tampak menatap dingin pamannya itu.
Pak Ilham mengambil balon yang sudah di tiup tadi. Rein merasa masuk ke dalam perangkap begitu pula dengan Darwin. Dia mengumpat dalam hati sang paman.
Dari jauh, Rumi tampak tidak menyukai tantangan itu. Sudah sejak pertama melihat Darwin, Rumi mulai menyukai pria itu. Tapi selalu Rein yang mendapatkan kesempatan untuk dekat dengannya.
"Kalian berdua siap?" tanya pak Ilham.
"Tunggu pak, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Rein takut jika terjadi hal yang membuat keduanya malu.
"Tidak, hanya memecahkan balon saja! Ayo kalian bersiap di tempatnya!" pinta pak Ilham sambil mencubit kecil lengan Darwin. Tanpa orang lain tahu.
Darwin ingin sekali menendang pamannya itu. Sayang sekali di sekolah dia adalah wali kelas sekaligus gurunya. Dia tidak bisa melawannya.
Keduanya mengangguk, lalu berdiri berhadapan. Pak Ilham meletakkan balon diantara dahi keduanya. Darwin harus sedikit membungkuk untuk mensejajarkan dahi keduanya.
__ADS_1
"Satu,dua,tiga!" pak Ilham memberi aba-aba. Para murid saling bersorak menyemangati keduanya.
Balon itu berada di tengah-tengah dahi Rein dan Darwin. Jika benar-benar meletus, wajah keduanya bisa saja saling bertabrakan.
Rein merasa jantungnya berdegup lebih cepat.Begitu pula dengan Darwin. Pria itu sangat gugup, tapi dia menikmati acara ini. Dia sangat berterima kasih pada sang paman.
Lama balon itu di tekan keduanya dengan dahi, namun belum juga meletus.
"Rein tekan lebih kuat lagi!" pinta Darwin.
"Tapi, gimana kalau nanti kita," Rein takut jika keduanya saling berciuman karena tidak sempat menghindar ketika balon itu meletus.
"Tekan!" ucap Darwin tegas.
"Iya-iya!" Akhirnya Rein menuruti ucapan pria itu. Suara sorakan para temannya tak lagi keduanya hiraukan. Mereka fokus pada balon di dahinya.
Door! Balon itu meletus dan dahi keduanya menyatu. Bibir Rein tidak sengaja mengenai bibir Darwin. Gadis itu segera menghindar,sebelum orang lain tahu.
Kejadian itu sangat cepat, tidak ada yang menyadarinya. Hanya keduanya saja yang tahu.
"Akhirnya berhasil juga!Kalian boleh kembali ke tempat masing-masing." Ucap pak Ilham.
Setelah duduk Rein menyentuh bibirnya. Darwin juga begitu, dia memainkan bibirnya yang tadi sempat menyentuh bibir Rein. Keduanya saling masuk dalam pikiran masing-masing.
Acara malam itu berakhir dengan gembira. Para murid akhirnya kembali ke tenda masing-masing. Rein pun begitu, dia kembali ke tenda dan segera berbaring di sana.
Di belakangnya Rumi masuk ke dalam tenda juga.
"Rein!" sapa Rumi.
"Ya,cepatlah tidur besok kita akan kembali ke rumah!" ucap Rein tidak ingin di ajak ngobrol oleh Rumi malam ini.
"Kamu menyukai Darwin ya?" tanya Rumi tiba-tiba. Rein segera membalikkan badannya menghadap ke Rumi.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Rein.
"Ya, kamu terlihat menatapnya dengan tatapan berbeda saja," jawab Rumi.
"Jangan terlalu ingin tahu urusan orang lain,kita tidak sedekat itu kan?" jawab Rein dingin.
__ADS_1
"Oh maaf Rein, aku hanya menebak saja," Rumi takut membuat Rein kesal.
"Sudahlah, ayo kita tidur." Ajak Rein, gadis itu segera menarik selimutnya dan tidur. Dia ingin melupakan kejadian yang tadi tidak sengaja berciuman.
Darwin mencoba memejamkan kedua matanya. Namun begitu sulit untuk tidur malam ini. Dia teringat dengan kecupan tidak sengaja dia dan Rein tadi.
"Darwin,apa yang kamu pikirkan?" batin Darwin frustasi.
Dia akhirnya memilih untuk keluar dari tenda. Pria itu berjalan-jalan disekitar tenda itu. Lalu duduk di dekat perapian tadi.
"Kenapa tidak tidur?" pak Ilham berdiri di belakang pria itu.
"Tidak bisa tidur!" jawab Darwin dingin.
Pak Ilham lalu duduk di samping Darwin. Memberinya sebotol kopi yang dia bawa dari rumah.
"Kenapa?Memikirkan dia?" tanya pak Ilham.
"Kamu terlalu banyak mengurusi urusan orang lain!" jawab Darwin dengan nada dingin lagi.
"Kamu ini Win, terlalu menutup dirimu. Ayolah buka hatimu untuk gadis itu. Atau buat paman saja? Dia lumayan masuk dalam kriteria paman kok!" goda pak Ilham pada keponakannya itu.
"Jika dia mau, ambil saja!" ucap Darwin,namun di dalam hatinya ingin mengatakan yang berlawanan dari apa yang dia ucapkan barusan.
"Kamu yakin? Paman lumayan tampan loh!" puji Ilham pada dirinya sendiri. Darwin merasa mual mendengarnya. Dia ingin sekali memukul wajah pria di sampingnya itu.
"Aku perhatikan,sebenarnya banyak juga yang mendekati dia. Namun karena dia gadis yang cuek, mungkin dia belum menyadarinya saja," ucapnya lagi.
"Siapa juga yang mendekati gadis jelek seperti dia? Paman terlalu melebihkan saja!" Darwin meneguk kopinya dalam sekali teguk.
"Banyak, kamu tahu Guen, kakak kelas di jurusan yang sama denganmu? Dia salah satunya. Beberapa hari ini dia terus mendekati Rein. Dan ada dua orang lagi yang mencoba mendekati gadis itu. Tapi Rein terlalu cuek saja pada mereka.Paman lihat dia berbeda saat bersamamu, mungkin dia juga ada rasa padamu kan?" ucapnya.
Darwin hanya mendengarkan saja celotehan sang paman.Tanpa menanggapi apun. Yang dia ingat Guen, kakak kelasnya.Besok di akan mencari tahu tentang pria itu.
Hingga pukul dua pagi keduanya baru kembali ke tenda masing-masing.Di dalam tenda Darwin memikirkan perkataan sang paman barusan. Dia mungkin saja jatuh cinta dengan Rein. Tapi Darwin masih ragu.
Wajah Rein terbayang terus di pikiran Darwin.Setiap dia berusaha menutup kedua matanya.
"Sial!Tidurlah!" batin Darwin kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1