Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Cemburu?


__ADS_3

Pangeran Guen tidak ingin menyerah untuk mendekati Rein. Hampir setiap hari dia selalu berkunjung ke istana gadis itu.Seperti hari ini, pria itu membawakan oleh-oleh dari perjalanannya ke negara tetangga.


Pangeran Guen tiba di istana siang hari ketika Rein tengah bersantai.


"Yang mulia Rein," sapa nya ketika melihat Rein berada di taman istana. Gadis itu tengah duduk di bawah pohon.


"Pangeran Guen," balas gadis itu. Dia tampak senang ketika bertemu dengan pangeran Guen. Karena kepribadian pria itu hampir sama dengan kakak seniornya di dunia yang dulu.


"Boleh aku ikut bersantai di sini?" tanyanya. Rein dengan senang hati menganggukkan kepalanya.


Pangeran Guen duduk di samping Rein.Gadis itu segera meminta pelayannya untuk membuatkan teh dan juga camilannya.Keduanya asik mengobrol di bawah pohon itu.


Darwin tengah mengamati keduanya dari atas bangunan tak jauh dari mereka berdua.Tampak di wajahnya dia tidak senang.


Dia melihat pangeran Guen hendak memberikan sesuatu pada Rein.Dan gadis itu tampak begitu menantikannya.


"Rein ini untukmu?" ucap pangeran Guen sambil menyerahkan bingkisannya.


"Apa ini?" tanya Rein ketika menerima bingkisan itu.


"Coba buka saja?" pinta pangeran Guen.Rein yang penasaran segera membukanya,ternyata sebuah kalung mutiara yang sangat cantik.


"Ini untukku?" tanya Rein.


"Ya, bagaimana?apa kamu menyukainya?" tanya pangeran Guen.


"Ya aku menyukainya, terima kasih pangeran Guen. Kamu sangat perhatian padaku," Rein menyimpan kembali kalung itu.


"Kenapa tidak memakainya? Kalung itu sangat cocok denganmu," imbuh pangeran Guen.


"Ah aku tidak terbiasa memakai perhiasan sejak kecil," jawab Rein sambil tersenyum kecil.


Pangeran Guen merasa sedikit kecewa karena Rein tidak memakai kalung pemberiannya.


Tiba-tiba Darwin datang dan merebut bingkisan yang berada di tangan Rein. Pria itu tampak membolak-balikkan bingkisan itu.

__ADS_1


"Memberi seorang ratu hadiah kecil seperti ini? Kamu sedang mengejeknya ya?" ucap Darwin menghina pangeran Guen. Rein menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Darwin jangan tidak sopan. Yang terpenting pangeran Guen tulus memberinya," ucap Rein kesal melihat Darwin yang bersikap tidak sopan pada tamunya.


"Ada masalah apa Darwin?Kenapa selalu menggangguku?" tanya pangeran Guen. Darwin tampak tidak bersahabat dengan pria itu. Terlihat dari caranya menatap pangeran Guen.


"Aku hanya tidak ingin yang mulia malu jika bersama mu, di tambah lagi selera mu yang sangat norak ini," jawab Darwin sambil melemparkan kalung itu pada pangeran Guen.


Pangeran Guen tampak kesal dengan ucapan dan sikap Darwin itu. Kedua tangannya sudah mengepal erat. Namun dia menahannya agar tidak marah di depan Rein.


Melihat keduanya yang tengah beradu pandangan. Rein memutuskan untuk pamit kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin melihat mereka bertengkar.


"Sudahlah, aku lelah. Dan ingin kembali ke kamar. Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian," ucap Rein meninggalkan keduanya.


"Apa tujuan kamu mendekati Rein?" tanya Darwin dengan nada dinginnya.


"Apa urusannya denganmu? Lagi pula siapa kamu sebenarnya? Hubungan apa diantara kalian?" tanya pangeran Guen.


"Siapa aku itu tidaklah penting! Sebaiknya jangan mendekati Rein lagi," ucap Darwin tegas. Dia berbalik badan, hendak pergi meninggalkan pangeran Guen.


"Tentu saja," jawabnya. Pangeran Guen kesan dengan jawaban dari Darwin. Kini dia memiliki saingan baru dalam mendapatkan hati Rein.


Berbeda dengan Rein, gadis itu tengah menguping pembicaraan mereka. Dia terkejut sekaligus senang karena ternyata Darwin memiliki perasaan pada dirinya.


Rein buru-buru menuju ke kamarnya. Ketika Darwin pergi meninggalkan pangeran Geun.


"Sial,kenapa harus ada pria lain yang mengejarnya," gumam pangeran Guen kesal. Dia memilih untuk kembali ke kediamannya terlebih dahulu.


Sedangkan Darwin kini tengah berada di depan kamar Rein.Dia menoleh ke segala arah, setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Darwin segera masuk ke dalam kamar gadis itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Dari arah Rein duduk,sebuah belati kecil menuju ke arah Darwin. Rein lah yang melemparnya. Untung saja pria itu dengan mudah bisa menangkapnya tanpa melukai sedikit pun.


"Kamu berniat membunuhku?" tanya Darwin setelah menutup pintu kamar itu terlebih dahulu.


"Itu tujuanku sekarang! Kenapa masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu?" tanya Rein.

__ADS_1


Darwin menuju ke ranjang dan duduk di samping Rein. Gadis itu tiba-tiba waspada. Karena dia teringat situasi canggung bersama Darwin kemarin.


"Untuk apa datang kesini? sebentar lagi akan malam. Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu!" pinta Rein.


"Bisa kah kamu menjauhi pangeran itu?" bisik Darwin di telinga Rein. Membuat gadis itu kegelian.


"Siapa yang kamu maksud? Guen?" tanya Rein.


"Siapa lagi?" Darwin memainkan ujung rambut milik Rein dengan jari-jarinya.


"Kenapa harus menjauhinya? Dia sahabatku dari kecil. Kami terbiasa bersama," jawab Rein tenang.


"Aku tidak suka melihatnya mendekatimu," ucap Darwin.Sudut bibir Rein terangkat kecil. Di dalam hatinya dia sangat senang.


"Lihatlah dirimu sekarang? Mungkinkah kamu sedang cemburu pada nya?" tanya Rein menggoda sambil menatap kedua wajah Rein yang duduk di sampingnya.


"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu? Aku hanya tidak suka dia, sepertinya dia tidak sesederhana yang terlihat dan kamu pikirkan," jelas Darwin. Namun Rein tidak percaya. Karena baru beberapa menit yang lalu dia mengakui bahwa dia mencintai Rein pada pangeran Guen. Sekarang dia malah membantah untuk cemburu.


"Kalau begitu, biar saja dia mendekatiku. Lagi pula dia cukup tampan. Apa salahnya menerima dia sebagai calon selir ku, istana ini juga membutuhkan harem untuk bisa berlanjut nantinya," ucap Rein sengaja membuat Darwin terpancing emosinya.


Darwin menurun jari-jarinya dari rambut Rein.


"Apa kamu sangat ingin membangun harem mu?" tanya Darwin serius.


"Tentu saja. Harus ada pangeran kecil yang akan menggantikan posisiku kelak. Bukankah begitu?" tanya Rein.


"Pria lain boleh saja, asal bukan dia," ucap Darwin, lalu pria itu melompat ke arah jendela di kamar itu. Dia segera pergi meninggalkan Rein.


"Tsk bilang cemburu saja susah sekali!" gumam Rein ketika Darwin pergi.


Di atas bangunan itu, Darwin tengah mempertanyakan isi hatinya. Benarkah dia tengah cemburu pada pangeran Guen karena dia mendekati Rein.


"Apa benar aku mulai jatuh cinta pada Rein?" batin Darwin.


Tapi dia membantahnya, selama ini dia hanya mencintai satu wanita saja. Dan dia adalah Rumi.

__ADS_1


Darwin terjebak masa lalu, dia sulit untuk jatuh cinta kembali. Meski sering bersama dengan Rein. Dia masih belum bisa menerima gadis itu sepenuhnya. Dia hanya menganggap Rein sebagai makanannya saja.Tidak lebih dari itu.


__ADS_2