
Rein dan Rora masuk ke dalam kelas mereka. Langkah Rein terhenti ketika melihat siapa yang ada di kelasnya saat ini.
Darwin duduk di belakang kursi gadis itu. Dia ternyata satu kelas dengan dirinya.
"Kenapa berhenti Rein? Ayo masuk!" Rora menarik lengan Rein,karena sebentar lagi guru mereka akan datang.
Rein tidak bisa melepas tatapannya dari Darwin. Pria itu hanya membalasnya dengan tatapan dingin. Rein seperti tidak percaya tentang kehadiran pria itu.
Rein duduk dengan ragu di kursinya. Dia menengok ke arah belakang sesekali. Mencuri pandang padanya.
"Bukankah dulu tidak ada Darwin di kelas ini? Sejak kapan dia masuk sebagai siswa di sini?" batin Rein mengingat-ingat siapa saja teman sekelasnya dahulu. Sebelum dia ke dunia vampir.
Rein sempat bingung dengan apa yang dia alami. Semuanya penuh dengan misteri.
Ketika jam pulang tiba, Rein segera membereskan buku-buku ke dalam tasnya. Teman-temannya sudah pulang. Tinggal tersisa Rein dan Darwin di kelas itu.
Rein memberanikan diri menyapa pria itu.
"Darwin!" panggilnya. Ternyata pria itu ketiduran. Dia tidak tahu bahwa jam pulang telah tiba.
"Eh ketiduran! Tapi wajahnya benar-benar mirip dia. Sikapnya juga!" Rein memperhatikan wajah Darwin dari dekat. Tak ada yang berbeda dari Darwin yang dia kenal.Rein begitu merindukan Darwin miliknya.
"Andai saja ini benar-benar kamu Darwin. Aku ingin sekali memelukmu!"batin Rein.
Saat Rein fokus memperhatikan wajah Darwin. Pria itu tiba-tiba terbangun dan menegakkan punggungnya. Rein yang terlalu dekat dengan kepala Darwin. Tidak sengaja terkena kepalanya.
"Auh!" Rein memegang hidungnya yang terkena kepala pria itu.
"Kamu! Kenapa di sini?" Darwin memperhatikan sekitarnya yang sudah sepi. Hanya ada gadis aneh di depannya itu saat ini.
"Sudah waktunya pulang,sampai jumpa!" Rein memegang hidungnya dan segera pergi dari kelasnya.
"Rein!" panggil seorang pria ketika melihat gadis itu sudah keluar dari ruang kelas.
Rein menatapnya sambil mengamati dengan teliti siapa dia.
"Kenapa bengong? Seperti tidak mengenalku saja!" pria itu memukul kepala Rein dengan kertas yang dia gulung di tangannya.
"Kamu?" Rein seperti melupakan sesuatu.
"Astaga, apa benar kamu tadi terkena bola dan sekarang gagar otak?" ucapnya sambil memeriksa luka Rein.
__ADS_1
"Aku Tifo, sepupu kamu!" Dia tidak sabar ingin memukul Rein kembali.Melihat gadis itu masih bengong saja sejak tadi.
"Ah iya Tifo! Aku ingat. Kamu yang sering membully ku!" balas Rein akhirnya ingat tentang siapa pria di depannya itu.
"Haha, lupakan masalah itu. Oh iya ayo pulang!" ajak Tifo. Rein mengerutkan keningnya.
"Pulang?" tanya Rein bingung.
"Iya pulang, kita kan sekarang satu rumah!" jawab Tifo santai.
"Hah sejak kapan?" Rein terkejut dengan kenyataan itu.
"Ayolah, jangan membuatku khawatir lagi Rein. Kenapa kamu hari ini? Tadi pagi baik-baik saja!" Tifo menarik lengan Rein agar segera mengikutinya pulang. Rein hanya bisa menurut pada pria itu. Dia seperti kehilangan banyak memori di dunia modern kali ini.
Darwin yang sejak tadi memperhatikan Rein. Gadis itu tampak tidak asing baginya. Tapi Darwin baru saja masuk di sekolah itu dua hari yang lalu. Lalu bagaimana bisa dia mengenal Rein sebelumnya.
"Kenapa seperti dejavu?" gumam Darwin.
Dia segera mengikuti keduanya keluar dari lorong kelas lantai tiga menuju ke lantai dasar.
"Cepat pakai!" Tifo memberikan satu helm pada Rein ketika mereka sampai di parkiran sekolah.
"Naik ini?" tanya Rein menunjuk motor butut milik Tifo.
"Normal kok. Tapi kenapa aneh hari ini?" gumamnya.
"Apa yang kamu bilang?" tanya Rein.
"Ah tidak hanya memeriksa saja!" balas Tifo, dia segera memakaikan helm ke kepala gadis itu.
"Aduh! Pelan-pelan dong. Sakit tahu!" Rein menggerutu, tapi Tifo tidak memperdulikannya.
Dia segera menghidupkan motor bututnya dan Rein naik ke belakang motor itu. Mereka segera melaju pulang ke rumah.
Ketika sampai di rumah,Tifo segera membuka pintu rumah milik Rein. Di dalam ruang tamu ada kedua orang tua Rein.
Rein memandang mereka dengan penuh kerinduan. Sudah lama dia tidak bertemu dengan mereka.
Rein berlari dan memeluk tubuh mamanya. Sambil terisak dia tidak melepaskan pelukan itu.
"Hei kamu kenapa Rein?" tanya sang mama.
__ADS_1
"Maaaa Rein kangen sekali sama mama, papa!" Rein bergantian memeluk ketiganya. Tifo yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya heran.
"Kamu kenapa?" tanya sang papa kali ini.
"Dia emang aneh om sejak kepalanya terkena bola tadi pagi!" Tifo ikut duduk di atas sofa ruang tamu.
"Hah, kena bola? Parah kah?" tanya mamanya. Dia memeriksa dahi Rein yang telah di perban.
"Tidak apa-apa ma. Rein hanya sangat kangen dengan kalian saja," ucap Rein.
"Kangen? Baru tadi pagi kita bertemu Rein. Kenapa bisa kangen!"
"Pokoknya kangen ya kangen ma!" Rein bergelayut manja pada wanita itu.
"Aduh! Sakit kak! Tifo memukul kepala Rein.
"Biar bener itu isi di kepala kamu!" ucap Tifo pada adik sepupunya itu.
Rein hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal pada kakak sepupunya. Tapi di dalam hati gadis itu dia sangat bahagia karena bisa bertemu dengan keluarganya lagi.Mereka lalu tertawa bersama. Bersenda gurau satu sama lain.
Sudut bibir Darwin terangkat kecil. Dia berada di depan gerbang rumahnya. Tanpa sengaja dia mendengarkan gurauan dari tetangga rumah pria itu.
Rumah Rein ternyata berada tepat di samping rumah Darwin.Pria itu baru saja pindah ke sana.
Rein masuk ke dalam kamarnya. Suasana yang sangat dia rindukan.
Rein melemparkan tubuhnya ke atas ranjang gadis itu. Menggerakkan kedua tangan dan kakinya sesuka hati.
"Ah ranjang lembut ku, u sangat merindukanmu." Rein berguling ke sana kemari di atas ranjang.
Dia lalu berdiri dan melangkah menuju ke jendela kamarnya. Membuka tirai dan kaca jendela itu.
"Akhirnya aku kembali!" teriak Rein dengan wajah bahagianya. Dia mengangkat kedua tangan sambil menarik tubuhnya.
Tanpa dia sadari, dari jendela depan kamar Rein. Seorang pria melihat semua tingkah gadis itu sejak tadi. Dia menahan tawanya, namun tetap harus bersikap dingin.
Rein membelalak kan kedua mata gadis itu. Dia segera menutup tirai di jendelanya. Pasalnya gadis itu hanya menggunakan pakaian crop saja. Terlalu seksi jika di lihat oleh pria.
"Astaga!Kenapa pria itu ada di rumah sebelah? Jangan-jangan dia melihat ku dari tadi?" tebak Rein khawatir dan juga malu.
"Bagaimana ini? Bagaimana?" Rein berjalan bolak-balik di dalam kamar itu.
__ADS_1
"Di taruh dimana wajahku besok jika bertemu dengan dia?" batin Rein merasa malu. Dia tidak sanggup membayangkan hari esok.