
Darwin dan Faro pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi tidak untuk Ilham, dia di minta untuk tinggal sementara di rumah papa mertuanya. Sebelum memilih akan tinggal dimana.
Darwin mulai memikirkan kehidupannya setelah sang paman menikah. Dia tidak boleh hanya bergantung pada pria itu saja.
Darwin juga harus belajar mandiri. Dia memutuskan untuk mencari kerja sampingan. Yang bisa di kerjakan sepulang sekolah,atau di waktu malam.
"Sepertinya harus memberi les gadis jelek itu hanya beberapa jam saja," gumam Darwin.
Sebenarnya harta yang di tinggalkan mamanya pada Darwin lumayan banyak. Termasuk perusahaan yang saat ini di kendalikan oleh papanya. Itu adalah perusahaan milik sang mama.
Tapi sepeserpun, Darwin tidak menerima uang dari hasil perusahaan itu. Sang paman lah yang memenuhi kebutuhan hidup Darwin selama ini.
Sekarang sang paman sudah menikah,Darwin tidak mungkin terus-menerus meminta pada pria itu.
Dia memutuskan untuk mencari pekerjaan siang ini. Berhubung tadi dia tidak masuk sekolah karena izin. Darwin menggunakan waktunya itu.
"Sebaiknya aku segera berangkat sekarang," ucap Darwin. Dia lalu bersiap untu pergi mencari pekerjaan.
Rein menatap kursi di belakangnya. Berfikir kenapa Darwin tidak masuk sekolah hari ini.
"Cieh yang merhatiin kursinya dari tadi," ledek Rora pada Rein.
"Apa sih Ra? Orang gak sengaja aja kok," balas Rein.
"Iya juga gak apa-apa kok Rein. Lagi pula Darwin juga tampan, cocok banget sama kamu," ucap Rora lagi, gadis itu belum tahu kalau Rein dan Darwin sudah resmi berpacaran.
"Masak sih? Kalau kamu sama Joi juga cocok kok!" kini giliran Rein yang meledeknya.
"Apa sih kok bawa-bawa Joi?" gumam Rora malu.
"Ya kali masak aku aja Ra. Kamu juga dong, cari cowok!" ucap Rein menggoda Rora.
"Iya deh, ntar kalau udah dapat aku kasih tahu ke kamu," keduanya saling mengobrol bersama di dalam kelas ketika jam kosong. Dua jam lagi mereka akan pulang sekolah.
"Kamu serius mau bekerja di sini?" tanya seorang pria bertubuh tambun pada Darwin. Dia adalah pemilik sebuah toko roti.
"Ya, apakah boleh anda memberi saya kesempatan. Sepulang sekolah saya akan mulai bekerja," ucap Darwin meminta izin.
"Kebetulan memang butuh pekerja untuk jam sore. Kalau kamu mau, boleh dicoba dulu," balas bapak bernama Heru itu.
"Terima kasih pak, saya akan mulai bekerja hari ini. Boleh kan?" tanya Darwin.
__ADS_1
"Apa kamu sudah pulang sekolah?" tanya Heru.
"Tidak pak, saya izin. Tadi paman saya menikah."
Heru menganggukkan kepalanya. Dia tidak mempermasalahkan status pelajar Darwin. Tapi jika sampai pria itu membolos, Heru tidak akan mau mempekerjakannya.
"Baiklah,kamu boleh masuk dan membantu membuat kue nya. Hari ini ada banyak pesanan di toko," ucap Heru.
"Baik pak," balas Darwin. Dia segera masuk ke dalam toko kue itu. Di bimbing oleh pak Heru sendiri. Darwin mulai mengenal semua bahan tentang kue. Dia yang tidak pernah menyentuh makanan seperti itu sekarang harus mulai terbiasa.
Darwin mulai mengaduk bahan-bahan untuk membuat kue pesanan pelanggan. Di bantu seniornya di sana. Sedangkan pak Heru hanya membantunya sebentar. Karena para pelanggan sudah berdatangan. Dia harus berada di meja kasir.
Wajah Darwin penuh dengan tepung. Itu membuat para karyawan wanita di sana memperhatikan dirinya. Tapi tetap fokus pada pekerjaannya.
"Ya ampun, dia tampan sekali ya. Sayangnya masih anak SMA. Coba kalau sudah dewasa, aku mau jadi pacarnya," ucap salah satu diantara mereka.
"Iya ya, gimana ya bisa punya anak setampan itu?" gumam yang lainnya.
"Darwin! Kamu di panggil pak Heru!" ucap seorang pria yang baru masuk ke dalam dapur toko itu.
"Ah baik kak!" balas Darwin. Dia segera membersihkan tangan dan wajahnya yang terkena tepung.
"Iya, kamu bantu di sini saja. Banyak sekali pelanggannya. Bram sepertinya kewalahan." Tunjuk Heru pada Bram yang sibuk menyiapkan pesanan para pelanggan.
"Baik pak," ucap Darwin.
"Tolong bantu bungkus ini ya Darwin," pinta Bram kewalahan.
"Baik kak!" Darwin akhirnya membantu Bram membungkus kue yang di pesan para pembeli.
Hingga tak terasa, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Waktunya untuk pulang kerja.Para karyawan yang masuk pagi sudah pulang sejak pukul satu siang. Lalu di ganti karyawan lain yang masuk pukul satu siang hingga jam tujuh malam.
Untungnya Darwin pulang sekolah jam satu siang. Dia bisa bekerja setelah sekolah.
"Darwin, sampai jumpa besok siang ya!" ucap Bram sebelum pria itu menyalakan motornya dan melaju ke jalan raya.
"Iya kak!" Darwin juga bersiap untuk pulang.Dia teringat dengan Rein. Pasti gadis itu tengah mencarinya. Darwin mengecek ponselnya, apakah ada pesan atau panggilan dari Rein.
Ternyata ada beberapa pesan dan panggilan darinya. Sudut bibir Darwin terangkat ketika membaca pesan dari gadis itu.
Rein tengah mengkhawatirkannya karena tidak menemukan pria itu sehari ini.
__ADS_1
"Apa dia tengah merindukanku?" gumam Darwin sambil tersenyum membaca pesan dari Rein.
"Darwin kenapa belum pulang?" tanya Yeti, salah satu teman kerja Darwin.
"Eh kak Yeti, ini mau pulang kok kak," balas Darwin.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya," Yeti menghidupkan motor miliknya dan segera pulang. Di susul Darwin. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Rein.
Rein yang berada di depan rumah tengah mengawasi rumah milik Darwin. Lampu rumah pria itu bahkan belum dinyalakan. Dimana dia sebenarnya.Dari Faro,Rein tahu bahwa pak Ilham telah menikah hari ini. Itu alasannya Darwin izin tidak masuk sekolah.
"Kakak bilang dia sudah pulang tadi? Kenapa di rumah kelihatannya sepi? Motornya pun tidak ada di garasi," gumam Rein setelah tadi melihat motor Darwin dari pintu gerbang.
Brum
Brum
Brum
Suara motor milik Darwin terdengar mendekati rumah pria itu. Rein yang berada di teras rumahnya segera keluar dari saja.Mendekati pria itu yang berhenti di depan gerbangnya.
"Kamu dari mana?" tanya Rein penasaran.
"Aku mencari pekerjaan Rein. Mungkin akhir-akhir ini aku hanya bisa membantumu belajar di malam hari saja. Tidak apa-apa kan?" tanya Darwin.
"Hah kamu mencari pekerjaan dimana? Terus sekolah kamu gimana?" tanya gadis itu khawatir.
"Jangan khawatir. Aku tetap sekolah. Karena sepulang sekolah baru bekerja," balasnya.
"Oh gitu, ya udah sana masuk ke rumah dulu," Rein hendak berbalik untuk kembali ke rumahnya. Namun tangan Darwin menahan sebentar dirinya.
"Eh kenapa?" tanya Rein.
"Kamu kangen ya sama aku?" tanya Darwin sambil menggoda gadis itu.
"Siapa juga yang kangen!Udah sana masuk, mandi. Bau tahu! Nanti aku akan ke sana!" ucap Rein sambil berlari kecil ke arah rumahnya.
"Dasar!" Darwin hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Dia segera masuk ke dalam rumahnya.
Sedangkan Rein tengah mengatur nafasnya dibalik pintu kamarnya. Dia memegang jantungnya yang tidak beraturan dalam berdetak.
"Rein,Rein, kenapa masih saja gugup jika melihat matanya?" gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1