
Esok paginya satu sekolah gempar karena foto-foto yang di ambil oleh Rumi kemarin.
Foto-foto itu di tempel di papan pengumuman. Rein dan Darwin belum mengetahui berita tentang mereka itu.
Rein berjalan ke arah kelasnya, namun dia bingung melihat banyak murid yang mengarahkan pandangan mereka ke arah dirinya. Sambil berbisik-bisik dengan murid yang lainnya.
"Bukannya dia ya,yang bernama Rein itu? Gadis yang di rangkul oleh Darwin. Apa benar mereka berpacaran?" tanya murid perempuan itu pada temannya.
Rein mendengarnya meski tidak terlalu jelas. Gadis itu mempercepat langkahnya. Ketika sampai di depan papan pengumuman. Dia melihat foto-foto dirinya dan Darwin yang di ambil secara diam-diam. Tertempel di sana.
"Ya ampun siapa yang melakukannya?" ucap Rein sambil melepas foto-foto itu dari papan pengumuman.
Rein berlari ke ruang kelasnya. Di sana Darwin sudah duduk dengan tenang. Rein mendapatkan tatapan tajam dari beberapa gadis yang merupakan fans dari suaminya itu.
"Rein!" panggil Rora dia melangkah ke arah Rein.
"Gawat Rein,gawat satu sekolah gempar karena kamu dan Darwin! Mereka mengira kamu pacarnya Darwin," bisik Rora di telinga gadis itu.
"Baru foto seperti ini saja sudah gempar, bagaimana kalau mereka tahu aku dan Darwin sudah menikah?" batin Rein sambil menatap Darwin di tempatnya duduk. Pria itu hanya tersenyum kecil ke arahnya.
"Biarkan saja, nanti juga mereda," ucap Rein santai.
Rora mengernyitkan dahinya. Melihat Rein yang tidak khawatir sama sekali. Gadis itu berjalan ke arah kursinya. Duduk di sana sebelum jam pelajaran di mulai.
Seorang pengurus organisasi siswa datang ke kelas itu. Seketika ruangan kelas yang tadinya ramai berubah senyap.
"Siapa yang bernama Rein dan Darwin di kelas ini?" tanyanya di balik pintu.
Semua murid yang berada di kelas itu menatap ke arah Rein dan Darwin.
"Aku Darwin, dan dia Rein! Ada hal apa?" tanya Darwin angkat bicara.
"Kalian berdua di panggil ke ruang guru sekarang!" ucapnya.
Rein berbalik badan ke belakang. Dia menatap Darwin dengan khawatir.
"Tidak masalah, ayo ke sana!" ucap Darwin.
Rein takut kalau mereka berdua ketahuan menikah ketika masih sekolah di sana.
"Ayo!" ajak Darwin. Rein menganggukkan kepalanya.Dia lalu mengikuti langkah Darwin menuju ke ruang guru.
Keduanya menjadi pusat perhatian sepanjang melangkah ke ruang guru. Bagi Darwin itu hal biasa baginya. Sedangkan Rein dia merasa sedikit risih ketika banyak orang yang memperhatikannya.
__ADS_1
Keduanya sampai di depan ruang guru.Rein dan Darwin segera masuk ke sana. Mereka telah di sambut oleh pak Ilham.
"Rein,Darwin. Hati-hati ada yang sedang ingin memisahkan kalian," ucap pak Ilham.
"Aku tahu itu paman," jawab Darwin. Ilham memukul kepala pria itu dengan penggaris yang dia bawa.
"Panggil bapak kalau di sekolah!" ucapnya dengan suara tegas.
"Iya bapak!" ucap Darwin.
Rein menahan tawanya,dia sangat senang melihat Darwin dan pamannya begitu akrab.
"Selama di sekolah jangan terlalu dekat. Kalian masih satu tahun lagi untuk menyelesaikan sekolah di sini," ucap Ilham serius. Dia sangat khawatir dengan masa depan keduanya.
"Iya pak, setelah ini kami akan berhati-hati," balas Rein.
"Kalian tahu siapa orang yang menempel foto-foto itu?" tanya Ilham.
Rein menggelengkan kepalanya sedangkan Darwin mengangguk.
"Siapa Darwin?" tanya Ilham.
"Sudah sangat jelas Rumi, hanya dia yang bisa melakukannya."
"Baik."
"Kalian kembalilah, tapi jangan bersamaan!Rein saja dulu!" pinta Ilham.
"Baik pak," Rein lalu meninggalkan Darwin bersama dengan Ilham di ruang guru itu.
Langkah kaki Rein melambat ketika dia lumayan jauh dari ruang guru. Ada Rumi yang tengah menunggunya di depan ruang lab.
Rein berjalan begitu saja di depan gadis itu. Seolah tidak melihatnya. Rumi menjadi kesal karena sikap Rein pada dirinya.
"Kamu jangan mendekati Rein pagi!"ucapnya ketika Rein belum jauh darinya.
Langkah kaki gadis itu terhenti. Dia membalikkan badan ke arah Rumi. Menatapnya enggan sambil tersenyum mengejek.
"Jadi kamu yang melakukannya kan?" tuduh Rein.
"Ya itu memang aku! Kamu tidak pantas bersama dengan Darwin," balas Rumi.
"Lalu siapa yang pantas? Kamu?" tanya Rein dengan nada bicara mengejek.
__ADS_1
"Tentu saja aku!"
"Tsk menggandeng tangannya saja kamu tidak bisa. Apa lagi memilikinya! Bangunlah Rumi!" balas Rein menohok.
"Kamu!" Rumi kesal mendengar Rein.
"Sudahlah, sia-sia membuang waktu di sini!" Rein membalikkan badannya untuk meninggalkan Rumi sendirian.
"Oh iya, terima kasih loh. Berkat foto-foto yang kamu sebar. Sekarang aku dan Darwin bisa lebih mudah menunjukkan kalau kami berpacaran!" Imbuh Rein sebelum pergi sambil menatap tajam Rumi. Tidak lupa dia menyelingi senyuman di akhir ucapannya.
"Sialan!" gumam Rumi ketika Rein sudah pergi.
Dia juga harus segera kembali ke dalam kelas. Namun dia curiga kenapa Darwin belum juga keluar dari ruang guru saat ini.
"Kenapa Darwin belum keluar juga?" gumamnya. Rumi berjalan ke arah ruang guru. Dia pelan-pelan mendekati pintu utamanya. Berdiri di sana untuk mencuri dengar pembicaraan Darwin dan pak Ilham.
"Darwin,sejak kapan kamu kerja di toko itu?" tanya Ilham secara langsung.
"Jadi paman sudah tahu aku bekerja?" Darwin malah bertanya balik.
"Darwin bekerja?" batin Rumi yang mendengarnya.
"Ya paman tahu dari Rein, kenapa?Apa uang dari paman tidak cukup?" tanya Ilham.
"Cukup, hanya saja aku ingin meringankan beban paman. Bukankah sekarang kita punya tanggung jawab yang sama.Menghidupi anak orang?" balas Darwin.
"Ya memang benar, tapi kamu masih sekolah. Paman takut pekerjaanmu akan mengganggu sekolahmu nanti."
"Tenanglah paman, keponakan mu ini sudah pintar sejak lahir. Jangan terlalu khawatir!" balas Darwin.
"Baiklah, kembalilah ke ruang kelas mu!" pinta Ilham. Rein mengangguk dan segera pergi dari ruang guru.
Rumi terburu-buru menjauh dari pintu ruang guru. Dia bersembunyi di balik tembok di samping ruangan itu.
"Apa maksud Darwin menghidupi anak orang?" gumamnya bertanya-tanya. Dia heran karena hal itu Darwin juga harus mencari kerja sampingan.
Setahu Rumi, perusahaan yang di kelola ayah pria itu lumayan besar.Darwin tidak perlu bekerja saja sudah bisa memakai uang dari hasil perusahaan itu. Tapi ini malah sebaliknya.
Rumi mulai mencurigai ketidak beresan papanya Darwin. Dia segera kembali ke kelasnya. Berhenti mencari tahu untuk sejenak.
Siangnya, setelah pulang sekolah. Seperti biasa Darwin pergi ke toko roti. Dia harus kembali bekerja setelah lama libur.
Rumi mengikuti pria itu dari jauh. Untuk melihat dimana Darwin bekerja. Ternyata tak jauh dari rumah Darwin.
__ADS_1