
Pagi hari tiba, para murid bersiap untuk membongkar tenda mereka. Dan kembali ke rumah masing-masing.
"Rein, tunggu aku ya! Kita satu tempat duduk nanti di bus," ucap Rora sambil melipat tendanya.
"Iya-iya Ra."
Rein tak habis pikir dengan teman satu bangkunya itu. Dimana saja dia ingin menempel pada dirinya. Belum pernah Rora pergi dengan teman sekelas yang lain.
Kadang Rein merasa dia seperti mengawal dirinya. Atau mungkin sebaliknya. Dimana ada Rein pasti ada Rora di sana.
"Anak-anak sudah selesai belum?" tanya pak Ilham.
"Sudah pak!" jawab mereka setelah selesai mengemas semua perlengkapan dan peralatan camping mereka.
"Bagus, sebentar lagi bus nya akan sampai. Kalian bisa menunggu sambil sarapan terlebih dahulu," ucap pak Ren pada mereka sambil membagikan roti pada para murid.
"Terima kasih pak," ucap Rein setelah menerima rotinya.
Para murid makan roti itu terlebih dahulu. Sebelum bus mereka sampai. Dari jauh Darwin memperhatikan Rein yang tengah asik dengan Rora.
Ketika Rein menyadari ada yang memperhatikannya. Dia segera menoleh ke segala arah untuk mencari siapa orangnya.
Darwin segera memperhatikan hal lain. Agar tidak ketahuan melihat ke arah Rein. Tapi Rumi mengetahui bahwa Darwin tengah memperhatikan Rein.
"Dia tidak cantik,kenapa Darwin terus memperhatikannya?" Batin Rumi merasa sedikit iri dengan Rein.
Dirinya yang cantik malah tidak bisa mendapat perhatian dari Darwin. Sedangkan dirinya yang biasa saja bisa membuat pria itu melihatnya terus menerus.
Rumi meremas roti yang berada di tangannya. Dia tidak berselera untuk memakannya sama sekali.
Bus sudah tiba, para murid sangat antusias untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Mereka masuk satu persatu ke dalam bus.
Rora terlebih dulu masuk ke dalam bus untuk mencari kursi yang berada ditengah-tengah. Lalu di sebelah kirinya, bagian kursi dekat kaca dia biarkan kosong untuk Rein.
"Dimana sih Rein? Lama banget naiknya!" gerutu Rora sambil mengamati Rein yang yak kunjung naik ke bus.
"Boleh bergeser?" tanya Joi pada Rora. Gadis itu terkejut mendengarnya. Dia sempat terdiam lama hingga akhirnya segera merespon.
"Ah iya!" Rora segera bergeser ke sisi kiri,kursi yang dia siapkan untuk Rein.
"Terima kasih!" ucap Joi. Rora mengangguk saja.
"Duh tumben ni anak nyamperin duluan. Kok aku jadi jedag jedug ya?" batin Rora gugup.
__ADS_1
Semua murid sudah masuk ke dalam bus. Yang paling akhir adalah Rein. Gadis itu melihat ke arah Rora. Di sampingnya sudah ada Joi.
Rora memberi isyarat minta maaf pada Rein. Dia juga tidak bisa keluar dari barisan kursi itu, karena tidak enak jika terlihat keberatan dengan permintaan Joi.
Rein hanya membalasnya dengan senyum santai. Sekarang dia berjalan ke arah bagian belakang bus. Mencari kursi yang masih kosong di sana.
Ada satu kursi yang masih kosong. Tapi di sampingnya ada pria yang tengah tidur sambil menutup wajahnya dengan topi. Rein mencoba mencari kursi yang lain. Namun sudah penuh semua.
"Sudahlah dari pada berdiri!" gumamnya lalu segera duduk di kursi yang tadi.
Suara ponselnya berbunyi, Rein segera membukanya. Ada pesan dari Rora. Gadis itu meminta maaf karena sudah mengambilkan kursi untuk Rein namun di pakai oleh Joi.
Rein membalasnya dengan emoji senyum. Sambil menyemangati Rora. Barangkali Joi bisa menjadi kekasih gadis itu.
Rein sibuk membalas pesan, hingga dia tidak sadar pria di sampingnya tengah membaca isi pesan gadis itu.
Rein tertawa dengan suara pelan. Ketika tengah mengobrol lewat pesan singkat dengan Rein.
Ketika menyadari seseorang tengah mengintip pesan dari ponselnya. Rein menengok ke arah pria di sampingnya. Dan betapa dia terkejut ternyata Darwin yang duduk di sana.
"Ka,kamu?" ucap Rein dengan wajah gugup sekaligus terkejut.Dia segera menyembunyikan ponselnya.
"Ini emang aku, memang kenapa?"tanya Darwin dia mencoba setenang mungkin.
Darwin melihat ke seluruh kursi di dalam bus itu. Memang sudah tidak ada kursi lagi yang kosong.
Keduanya terdiam, sama-sama mengingat kejadian malam api unggun tadi malam. Rasa canggung tiba-tiba hadir di antara mereka.
Rein tiba-tiba merasa mengantuk. Dia menutup wajahnya dengan jaket miliknya. Mencoba tidur di dalam bus sampai mereka tiba di sekolah nanti.
Rein benar-benar bisa tidur,tapi kepalanya terombang-ambing ke kanan dan kiri. Darwin melihat itu dan merasa iba pada Rein.
Dia lalu memegang pelan kepala Rein. Dan menyandarkannya di pundak pria itu.Agar Rein nyaman saat tidur, dan juga kepala gadis itu akan baik-baik saja.
Selama hampir dua jam, Rein tidur bersandar pada pundak Darwin. Gadis itu terbangun ketika bus melewati jalanan berlubang.
"Eh, sudah sampai kah?" gumam Rein. Gadis itu lalu melihat ke arah Darwin.
"Astaga, aku menyandar pada pundaknya?" gumam Rein. Dia segera duduk dengan tegap. Rein kira Darwin tengah tertidur. Padahal pria itu hanya pura-pura menutup mata saja.Agar Rein tidak merasa canggung ketika gadis itu terbangun.
Rora tidak berbeda jauh dengan Rein. Dia sangat gugup duduk di samping Joi. Pria itu hanya diam selama perjalanan.
"Namamu Rora kan?" tanya Joi setelah satu jam lebih tidak berbicara.
__ADS_1
"Iya, aku Rora."
"Boleh meminta nomor ponselmu?" tanya Joi.
"Hah, nomor ponsel?" Rora seperti gadis bodoh yang lama merespon ucapan pria di sampingnya itu.
"Haha, boleh kok! Kan ada di grub kelas!" balas Rora.
"Benarkah? Sayangnya aku tidak ikut grup kelas," balas Joi.
"Ah begitu ya, baiklah. Coba pinjam ponselmu," ucap Rora.
Joi memberikan ponselnya, lalu gadis itu menulis nomor miliknya di ponsel Joi.
"Ini," lalu memberikan kembali ponsel itu pada pemiliknya.
"Baiklah, terima kasih," ucap Joi.
"Sama-sama," mereka kembali diam. Hingga bus yang mereka tumpangi sampai di depan sekolah.
Para murid satu persatu turun dari bus.Rein melihat Darwin yang belum bangun juga. Dia hendak membangunkannya, namun Rora sudah menarik lengannya untuk segera turun.
"Rein ayo cepat turun!" ajak Rora, tangan gadis itu teras begitu dingin.
"Ra kenapa tanganmu sangat dingin?" tanya Rein ketika mereka sudah turun dari bus.
"Ssst," Rora memperhatikan sekitarnya, mencari dimana Joi berada.
"Kenapa sih?" tanya Rein penasaran.
"Aku sangat gugup, Joi tiba-tiba meminta nomor ponselku,gimana nih? Aku takut?" jelas Rora.
"Apanya yang takut? Dia mungkin ingin lebih kenal denganmu, setelah malam itu. Dia mungkin menyukaimu?" ucap Rein penuh harapan.
"Tapi dia kan biasanya bersikap tertutup. Tiba-tiba sekali mendekati ku, aku harus bagaimana?" tanya Rora.
"Gimana lagi, biarkan berjalan apa adanya saja Ra." Rein menggendong tas ranselnya.
Dari arah gerbang, sepupunya sudah menjemput Rein.
"Rein cepatlah!" panggilnya.
"Iya!"
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya Ra?" pamit Rein. Dia segera berlari ke arah sang sepupu. Rora hanya bisa diam di tempat sambil menunggu ayahnya datang menjemput dia.