
Darwin menurunkan anak vampir itu ke tanah tak jauh dari penginapannya. Keduanya sudah aman dari para penduduk itu.
"Wah kakak hebat sekali!" puji anak itu pada penyelamatnya.
"Kamu kenapa bisa bersama mereka?" tanya Darwin.
"Aku kehilangan jejak kedua orang tuaku kak," ucapnya dengan penuh kasihan
"Kedua orang tuamu juga vampir?" tanya Darwin.
Anak itu menggelengkan kepalanya. Kedua orang tuanya manusia biasa. Hanya dirinya yang vampir karena suatu hari saat mereka tengah berjalan-jalan di kota. Anak itu tertinggal dari kedua orang tuanya, dan seorang perempuan muda telah menggigit dirinya.
"Setelah itu aku menjadi vampir kak," jelasnya, mengingat kembali terakhir dia bertemu dengan wanita itu.
"Siapa namamu?" tanya Darwin.
"Aku Alex kak, siapa nama kakak?" tanyanya.
"Panggil aku Darwin. Kamu tidak mungkin kembali ke rumah kedua orang tuamu saat ini," jelas Darwin.
"Kenapa kak?Kenapa Alex tidak bisa kembali?" tanya Alex sedih.
"Karena kamu sudah tak lagi sama dengan mereka Alex. Kamu adalah vampir dan mereka adalah manusia. Kamu bisa membahayakan mereka nantinya," jawab Darwin.Alex menangis tanpa suara.
"Sudahlah, jika suatu saat kamu rindu mereka. Kamu bisa kembali, asal jangan melukai mereka. Apalagi menggigit manusia. Kamu tidak boleh melakukannya," pinta Darwin.Alex menganggukkan kepalanya.
"Siapa wanita yang di maksud oleh Alex ini?" batin Darwin penasaran.
Darwin kembali ke penginapan, Alex mengikutinya dari belakang.
"Kenapa kamu mengikuti ku? Kamu sudah bebas, pergilah kemana pun yang kamu suka?" ucap Darwin dengan wajah dinginnya.
"Alex gak tahu harus kemana kak, bolehkan aku mengikuti kak Darwin?" mohon Alex.
Darwin hanya bisa menghela napas panjang. Akhirnya dia membawa Alex bersamanya.
Rein meregangkan tubuhnya di atas ranjang, tidurnya sedikit terganggu karena suara berisik dari luar penginapan. Yang membuatnya harus terjaga kembali di tengah malam seperti ini.
"Kemana Darwin pergi?" gumamnya mencari Darwin di dalam kamar, namun tidak ada.
Tiba-tiba jendela terbuka dari luar, Darwin masuk ke dalam kamar lewat jendela lagi.
"Darwin, dari mana kamu?" tanya Rein.
"Rein, kenapa bangun?" tanya Darwin balik.
"Di luar sangat berisik, jadi aku terbangun," jawan Rein sambil menguap. Dia merasa masih sangat mengantuk.
Alex tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Darwin. Rein terkejut melihatnya.
"Siapa dia? Anakmu?" tanya Rein.
__ADS_1
"Sembarangan, dia bukan anakku! Namanya Alex, manusia yang berubah menjadi vampir," jawab Darwin.
Rein mendekati Alex,memeriksa anak itu.
"Apa dia menjadi vampir karena ulah mu?" tiba-tiba Rein menarik telinga Darwin.
"Ah lepaskan Rein, sakit!" ucap Darwin merasa kesakitan.
"Siapa yang melakukannya?"
"Bukan aku Rein, tanya saja padanya!" jawab Darwin. Rein akhirnya melepaskan tangannya dari telinga Darwin.
"Siapa yang menggigit mu?" tanya Rein pada Alex.
Alex merasa sedikit ketakutan karena pertanyaan Rein. Gadis bertanya namun seperti tengah menginterogasi Alex.
"Hei, dia ketakutan Rein?" Darwin mencoba mengingatkan Rein agar tidak terlalu galak pada anak kecil.
Rein langsung menatap ke arah Darwin dengan tatapan membunuh.
"Oke-oke, terserah kamu!" Darwin akhirnya membiarkan Rein sesuka hatinya. Gadis itu dalam mode ganas. Darwin tidak mau menjadi tempat pelampiasannya.
"Bukan kak Rein, kak Darwin yang menolongku tadi," jawab Alex dengan sambil bersembunyi di belakang tubuh Darwin kembali.
"Lalu siapa yang membuatmu menjadi vampir seperti ini?" tanya Rein lagi.
"Dia seorang wanita cantik kak, seumuran kakak!" jawabnya lagi.
Darwin mengangkat kedua bahunya, dia tidak tahu dari jenis apa vampir yang menggigit Alex. Yang jelas bukan dari vampir penguasa seperti dirinya.
Karena penguasa seperti Darwin harus sangat memilih jika menggigit manusia. Tidak boleh sembarangan.
"Sudahlah, aku akan keluar sebentar. Kamu istirahat dulu saja di kamar ini," perintah Rein pada Alex.
"Baik kak," Alex segera berbaring di atas ranjang. Dia sangat lelah karena di siksa oleh orang-orang tadi.
Rein segera keluar dari jendela. Melompat ke atap bangunan di samping penginapan yang dia tempati. Di belakang gadis itu Darwin mengikutinya.Keduanya duduk di atas genting seperti biasa mereka lakukan.
"Apa Alex harus mengikuti kita?" tanya Rein.
"Entah lah, sepertinya akan sulit untuk kita bergerak. Karena dia belum bisa menyembunyikan aura vampirnya," jawab Darwin.
"Aku kira hanya kamu vampir yang tersisa. Ternyata di luar sana masih ada juga," gumam Rein.
"Mungkin mereka hanyalah vampir persilangan saja. Bukan vampir yang murni," jelas Darwin.
"Alex sepertinya hanyalah vampir tanpa memiliki kekuatan. Karena yang menggigitnya hanya lah vampir persilangan saja," imbuhnya lagi.
"Jadi Alex tidak akan membahayakan jika hidup di antara manusia?" tanya Rein.
"Kurasa begitu."
__ADS_1
Darwin merasakan ada yang salah fari pembicaraan keduanya.
"Hei tunggu Rein, kamu bilang vampir membahayakan bagi kaum manusia?" tanya Darwin.
"Ya begitulah!"
Darwin tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada wajah Rein. Gadis itu sedikit terkejut karena Darwin melakukannya dengan tiba-tiba.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Rein gugup. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Apa aku juga begitu?" tanyanya.
"Ka-kamu, entahlah. Saat ini mungkin kamu belum berbahaya saja," ucapnya jujur.
"Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah?" tanya Darwin.
"Hah benarkah?" Rein semakin gugup,dia memegang kedua pipinya.
"Kamu tidak sedang demam kan?" Darwin memegang dahi Rein.
"Tidak kok!" Rein segera menepisnya. Lalu menghindari tatapan mata dari Darwin.
"Baguslah kapau baik-baik saja."
Keduanya terdiam, namun baru beberapa saat kemudian. Darwin merasakan hawa membunuh dari sekitar mereka.Darwin segera bersiap.
"Ada apa Darwin?" tanya Rein yang melihat Darwin tiba-tiba berdiri.
"Ada seseorang yang datang dengan kekuatan yang lumayan besar," jawab Darwin.
Traang! Suara pedang mengenai ganting bangunan di tempat Rein dan Darwin berada.
Darwin dengan cepat menghindari serangan itu. Begitu pula dengan Rein.
"Siapa kamu?" tanya Darwin pada pria yang berada di depan mereka saat ini.
"Pria berjubah putih dengan pedang panjang di tangannya. Kembali menyerang Darwin dan Rein. Ketiganya terlibat perkelahian. Rein dengan belati kembar di kedua tangannya dengan cepat bisa menangkis serangan dari pria itu.
Sedangkan Darwin masih menyembunyikan aura vampirnya. Dia tidak mau ada yang mengetahuinya untuk saat ini.
"Lumayan!Kamu bisa menahan serangan ku!" ucap pria itu.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rein. Karena pria itu juga menggunakan topeng seperti dirinya dan Darwin. Mereka tidak bisa mengenalinya.
"Tidak penting siapa aku, yang terpenting adalah pria itu harus mati!" Darwin menjadi sasaran utama pria berjubah putih itu.
Rein terhempas oleh serangan cepat dari pria itu. Darwin segera menyelamatkan Rein dan menaruhnya di tempat teraman di sana.
"Kamu pulihkan dirimu dahulu, aku yang akan melawannya."
"Darwin, hati-hati. Dia sangat kuat!" pesan Rein pada Darwin.
__ADS_1
Darwin menganggukkan kepalanya. Dan mengeluarkan pedang miliknya yang tersembunyi.Dia yang akan menghadapi pria itu.