
Di dalam kelas, Rein dan Darwin semakin tambah dekat. Keduanya tak segan sering bercanda di waktu jam istirahat.
Rumi menatap kesal ke arah kedua orang itu. Dia ingin sekali memisahkan mereka.
"Bagaimana sih Guen itu? Kenapa dia belum juga berhasil mendekati Rein?" batin. Rumi kesal. Sepertinya harus dia yang melakukannya sendiri.Tanpa terlalu berharap pada pria itu.
Rumi mengirim pesan pada sang ayah. Meminta pria itu untuk segera mendesak ayahnya Darwin. Ayah kandung Darwin tidak mungkin membiarkan perusahaannya hancur hanya karena perjodohan ini gagal.Rumi tersenyum kecil, dia tahu titik kelemahan Darwin.
Rein kembali membuka soal-soal yang kemarin malam di berikan oleh Darwin,ketika gadis itu sudah pulang sekolah.
"Ah kenapa sulit sekali sih!" gerutunya.
Dia mengacak buku-buku yang berisi referensi sesuai mata pelajaran matematika itu. Mencoba mencerna apa yang di jelaskan di dalam buku. Namun otaknya sama sekali tidak mau menerimanya.
Ponsel gadis itu tiba-tiba berbunyi. Ada pesan dari Darwin untuknya. Pria itu tengah bertanya, Rein sedang apa.
Rein segera menjawabnya, memberitahu pria itu bahwa dia tengah mencoba mengerjakan soal yang dia berikan kemarin malam.
Darwin tersenyum kecil melihat balasan pesan dari Rein. Keduanya malah asik berkirim pesan.
Darwin meminta Rein untuk ke rumahnya jika mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal yang dia beri.Dan gadis itu mengiyakannya.
Bel rumah berbunyi, Rein mengernyitkan dahinya. Bertanya-tanya siapa kira-kira yang datang di sore hari seperti ini.
Rein berjalan ke arah pintu, membuka pintu itu lebar-lebar. Seorang perempuan yang sepertinya berusia lebih muda beberapa tahun dari mamanya.
"Ya, anda siapa ya?"tanya Rein ramah pada tamunya.
"Apa benar ini rumahnya Nadia?" tanya wanita itu.
"Ya benar, itu nama mama saya. Siapa anda?" tanya Rein lagi.
"Saya Sukma,dan ini anak ayah kamu!" ucap wanita itu tanpa basa-basi. Rein langsung terdiam, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Anak? Maksud tante?" tubuh Rein mulai gemetar.
"Ayahmu pasti tidak memberitahu mu kan? Jika aku melahirkan adik untukmu?" balas wanita itu.
__ADS_1
Seperti terhantam batu yang besar. Tepat mengenai tubuh Rein.Apa yang dia ucapkan wanita itu membuatnya membeku.
"Ma! Mama!" panggil Rein dengan suara gemetar. Dia sudah berusaha menahan air matanya susah payah.
"Mama!" teriak Rein lagi,kali ini suara gadis itu membuat Faro juga penasaran. Ada apa dengan adiknya itu.
Faro keluar dari kamar dan berjalan ke arah ruang tamu. Rein berdiri di ambang pintu tanpa mempersilahkan tamu meraka masuk ke dalam rumah.
"Kenapa lagi anak itu? Teriak-teriak sore hari begini!", gumam Faro heran pada adiknya.
"Rein ada apa?" tanya Faro dari belakang gadis itu.
"Mama mana kak?" tanya Rein dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Mama lagi pergi ke supermarket untuk membeli sayur. Siapa mereka?" tanya Faro melihat ada wanita dewasa dan juga satu anak kecil berusia tujuh tahun.
"Bolehkah kami masuk?" tanya wanita itu.
"Oh boleh silahkan," ucap Faro pada tamu mereka.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Faro juga mengikuti mereka. Namun dari belakang pria itu, Rein menarik lengannya.
"Dia bilang anak itu anaknya papa!" ucap Rein pelan.
"Apa? Kamu bercanda kan?" tanya Faro.
"Aku gak tahu kak, dia benar atau bohong?" balas Rein dia sudah meneteskan air matanya.Tapi dengan cepat menghapus air mata itu. Hatinya terasa seperti di sayat,jika memang benar yang di ucapkan oleh wanita tadi.
Faro dan Rein menatap dua tamu mereka. Keduanya ikut duduk di sofa ruang tamu.
"Siapa sebenarnya kalian? Jangan mengatakan hal-hal yang tidak benar pada adikku!" ucap Faro.
Sukma terkekeh mendengar seorang anak muda menasihatinya. Dia tidak memperdulikan itu. Yang terpenting baginya adalah sebuah status dan pengakuan tentang keberadaan mereka.
"Aku memang benar punya hubungan spesial dengan ayah kalian," ucapnya tidak memperdulikan peringatan dari Faro tadi.
"Maksud tante apa?" tanya Faro.
__ADS_1
"Tujuh tahun yang lalu kami bertemu di sebuah desa ketika dia pergi bekerja diluar kota. Papamu mulai menyukaiku dan kalian pasti tahu kan bagaimana cerita selanjutnya. Aku hamil Naren, sayangnya ayah kalian tidak mau mengakuinya dan memintaku untuk menggugurkan calon bayi kita. Dia pergi begitu saja setelah memberikan uang biaya aborsi. Tapi aku tidak bodoh, anak ini tidak bersalah."
Sukma menceritakan semuanya pada kedua anak laki-laki yang pernah hadir dan membuatnya terluka.
"Gak, gak mungkin papa berbuat seperti itu. Tante pasti salah orang!" ucap Rein tidak terima dengan pengakuan wanita di depannya itu.
"Rein tenang dulu, kita tunggu papa pulang dan menanyakan kebenarannya." Faro mencoba bersikap tenang.
Dari luar pintu,Nadia mendengar semua yang di bicarakan anaknya dengan wanita yang bernama Sukma itu. Hatinya bagai di sayat sembilu. Dia tidak menyangka jika suaminya tega mengkhianatinya selama tujuh tahun lebih.
Nadia masuk ke dalam rumah, meninggalkan barang-barang yang tadi dia beli di depan pintu. Tubuhnya lemas,hatinya bertanya-tanya tentang kebenarannya.
"Mama!" panggil Rein, dia berlari ke arah sang mama untuk memeluknya.
Sukma berdiri ketika melihat Nadia datang. Rein melepaskan pelukannya. Membiarkan sang mama berjalan ke arah wanita itu.
"Siapa kamu? Apa yang tadi kalian bicarakan benar?"tanya Nadia. Wanita itu sudah tahu semuanya.Dia sudah pulang sejak Sukma masuk ke dalam rumah.
"Ma,tenang dulu!" Faro mencoba menenangkan sang mama.
"Mama baik-baik saja nak," jawab Nadia pada putranya.
Wanita itu lalu menatap kembali Sukma dan Naren. Anak berusia tujuh tahun itu memang sekilas mirip suaminya. Jantung Nadia mulai berdetak cepat. Ingin sekali dia memutar waktu ke tujuh tahun yang lalu. Agar bisa mengetahui lebih cepat bahwa suaminya berselingkuh.
"Maaf mbak, aku mengatakan yang sebenarnya. Naren adalah anak dari suami mbak. Hito," jelasnya.
"Apa ada bukti?" tanya Nadia tidak mau begitu saja mempercayai wanita itu.
"Kalian bis melakukan tes DNA pada Naren. Dia lah bukti yang sebenarnya," balas Sukma.
Nadia terdiam, dia bingung harus berbuat apa.
Ketika semuanya mematung, suara langkah dari arah pintu, membuat mereka menengok ke arahnya.
"Ma! Kenapa di luar pintu banyak barang-barang berserakan?"tanya Hito pada istrinya. Sebelum dia menyadari kehadiran dua orang itu.
Wajah Nadia yang marah tak bisa lagi di tahan. Hito merasa ada yang aneh. Ketika semakin dekat dengan anak dan istrinya. Dia melihat ke arah wajah Sukma.
__ADS_1
Hito membelalakkan kedua matanya.Ketika melihat Sukma, dan di samping itu ada anak laki-laki.
Nadia sudah bisa melihat dari ekspresi wajah suaminya. Bahwa pria itu memang mengenal Sukma. Hatinya terpecah belah,sakit yang luar biasa tengah dia rasakan kali ini.