Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Kenapa Sama?


__ADS_3

Para gadis di kantin itu menatap heran sekaligus tidak rela. Melihat pujaan hati mereka mendekati salah satu meja di dalam kantin itu.Melewati mereka begitu saja, tanpa membalas sapaan dari mereka.


"Ah kenapa dia ke sana?" protes mereka kecewa.


Ternyata pria itu berjalan ke arah meja Rein dan Rora. Tiba-tiba Rora menarik baju Rein agar melihat siapa yang mendatangi meja mereka.


"Rein lihat itu!" bisik Rora.


"Apa sih Ra?" Rein tampak tidak tertarik, selain pada makanan di depannya. Kantin itu bagaikan pilihan terakhir tempat yang harus dia datangi di sekolah.


Rein mendongakkan wajahnya, melihat siapa yang di maksud oleh Rora. Dia terkejut karena pria yang saat ini berada di depan mejanya adalah Guen. Kakak kelas yang dulu pernah dia sukai.


"Hai Rein,boleh aku duduk di sini?" tanya Guen pada Rein.


"Hah,duduk aja. Ini kan milik sekolahan juga!" jawab Rein canggung. Dia melihat ke sekelilingnya. Para gadis-gadis tadi memperhatikan Rein dengan tatapan tidak bersahabat.


"Lama tidak bertemu Rein," ucap Guen.


"Hah iya kak," Rein tertawa kecil untuk menanggapi ucapan Guen. Rasanya begitu canggung diantara ketiga orang itu.


"Rein ayo pergi!" bisik Rora tidak nyaman berada di sana.


"Kenapa memangnya?" tanya Rein dengan suara pelan.


"Banyak gadis-gadis melihat ke arah kita!" ucap Rora semakin tidak nyaman makan di sana. Dia segera menghabiskan makannya. Begitu pula dengan Rein.


"Ah sudah selesai. Kami duluan ya kak Guen!" Rein akhirnya harus segera pergi.


"Kenapa buru-buru?" tanya Guen.


"Itu ada hal penting yang harus di lakukan!" Rein tidak tahu alasan apa yang harus dia ucapkan.


Dia dan Rora segera berdiri dan meninggalkan kursi mereka.


"Rein!" panggil Guen pada gadis itu.Rein kembali menoleh ke arahnya.


"Ya kenapa kak?" tanya Rein.


"Pulang sekolah, aku antar ya?" tawarnya pada Rein.


Rein terdiam sejenak, mencerna perkataan Guen. Lalu melihat ekspresi wajah para gadis di sekitarnya yang semakin tidak menyukai Rein.


"Maaf kak, aku sudah di jemput nanti," tolak Rein.


"Oh sayang sekali," Guen tampak kecewa. Tapi dia tidak ingin memaksa Rein.


"Maaf ya kak, kita pergi dulu!" ucap Rein segera pergi meninggalkan kantin itu.

__ADS_1


Rora bersandar pada dinding depan kelas mereka. Rein tengah mengatur napas gadis itu yang terengah-engah karena Rora mengajaknya berlari.


"Kenapa sih Ra harus lari?" tanya Rein pada gadis itu.


"Gawat Rein,ini pertanda gawat. Perang segera terjadi!" ucapnya sambil terus menata napasnya agar tenang.


"Apa? Perang? Maksud kamu apa sih?" Rein semakin bingung dengan tingkah sahabatnya itu.


"Kamu lupa ya?Kalau kamu itu pengagum paling gila kak Guen. Dan sekarang, secara tiba-tiba dia datang ke kamu. Yang biasanya kamu mendatangi dia, kemana saja kamu mengikutinya. Sekarang pria itu malah berbalik mengikuti mu? Coba bukan kah ini aneh? Kamu harus siap jika banyak gadis yang memusuhi mu!" jelas Rora. Dia lalu kembali menghela napasnya.


"Apa aku seburuk itu? Mengejar kak Guen?" tanya Rein tidak mengingat kehidupannya yang dulu. Rora menganggukkan kepala.


"Rein, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa setelah hari itu kamu seperti melupakan banyak hal?" tanya Rora.


"Hah, masak sih? Aku juga tidak tahu.Mungkin karena aku terkena bola waktu itu. Jadi banyak ingatan yang terlupakan." Rein mencoba mencari alasan yang logis.


Padahal dia memang lupa akan ingatannya yang dulu. Malah ingatan di dunia vampir yang paling dia ingat saat ini.


"Gawat-gawat. Sebaiknya kamu jangan mendekati kak Guen lagi. Bakan banyak sekali musuh yang mencari mu nanti Rein," peringat Rora pada Rein.


"Iya-iya, ya sudah ayo masuk ke kelas!" ajak Rein.Ketika gadis itu berbalik badan untuk masuk ke dalam kelas.Dia tidak tahu bahwa ada pria yang keluar dari kelas itu. Akhirnya keduanya bertabrakan tepat di ambang pintu.


"Aduh!" Rein jatuh ke lantai. Begitu pula dengan Darwin. Pria itu juga jatuh.


"Kamu!" Rein dan Darwin saling menunjuk bersamaan. Keduanya segera berdiri kembali.


"Kamu itu yang ngalangin jalan! Ngapain berdiri di sini?" Darwin tidak mau kalah.


"Eh sudah-sudah jangan bertengkar lagi!" Rora mencoba menenangkan keduanya.


"Jangan ikut campur!" Rein dan Darwin malah serentak menggertak Rora.


"Astaga kenapa kalian ini? Jangan sampai benci bilang cinta loh!" ledek Rora.


"Tidak akan!" Keduanya sama-sama menjawab serentak.


"Tuh kan? Tanda-tandanya bakalan jodoh!" Rora segera masuk ke dalam kelas. Meninggalkan Rein dan Darwin yang masih memanas. Dahi Rein yang belum sembuh akhirnya luka kembali karena menabrak tubuh Darwin.


"Dahi mu mengeluarkan darah lagi!" ucap Darwin memberi tahu Rein.


"Masak?" Rein memegang dahinya. Benar saja darah segar keluar dari luka lama,menjadi luka baru lagi.


"Ini semua salah kamu!" Rein memukul bahu Darwin sekuat tenaga. Pria itu harus segera menghindar agar tidak mendapat pukulan yang banyak dari Rein.


"Sudah cukup!" Darwin memegang kedua tangan Rein dan mendorong tubuh gadis itu ke tembok.


"Kamu mau apa?" tanya Rein panik karena wajah Darwin mendekati wajahnya.

__ADS_1


"Jangan buat masalah denganku lagi! Menjauh lah dari ku!" ucap Darwin tegas.


"Kamu yang buat masalah, bukan aku!" gumam Rein dengan suara pelan.


"Apa?" Darwin tidak terima dengan ucapan Rein.


"Hei kalian! Sedang apa?" teriak wali kelas mereka. Pak Ilham.


Darwin segera melepaskan tangan Rein. Dia bersikap sopan kembali, tersenyum pada pak Ilham.


"Ah ini pak cuma bercanda kok pak!"


"Bohong pak dia hendak,," ucapan Rein terpotong karena Darwin menutup mulutnya.


"Kalian ini! Cepat masuk ke dalam kelas sana!" perintah pak Ilham, lalu dia segera masuk ke dalam kelas.


"Baik pak," ucap Darwin dan Rein bersamaan lagi.


"Awas kamu!" ucap Rein kesal. Dia menginjak kaki Darwin sebelum masuk ke dalam kelas.


"Ah dasar gadis jelek!" gerutu Darwin merasakan sakit di kakinya. Injakan gadis itu lumayan kuat.


Ketika di dalam kelas, Darwin tidak berhenti melihat Rein dari belakang. Membuat gadis itu tidak nyaman.


"Ngapain sih ngelihatin mulu?" batin Rein kesal.


"Anak-anak,tolong perhatikan sebentar!" ucap pak Ilham. Seketika ruang kelas yang tadi ramai kini sudah tenang kembali.


"Bapak akan memperkenalkan murid baru untuk kelas ini," ucapnya.


"Ayo silahkan masuk!" imbuh pak Ilham sambil mengarahkan pandangannya ke pintu kelas. Semua mata tertuju ke sana.


Seorang gadis masuk dari pintu kelas. Gadis yang sangat cantik, Rein terkejut melihat wajah gadis itu.


"Kenapa wajahnya sangat mirip dengan dia?" batin Rein heran.


Gadis itu berjalan ke samping pak Ilham. Lalu wali kelas itu memintanya untuk memperkenalkan diri.


"Hai semua! Perkenalkan nama saya Rumi. Semoga bisa berteman dengan kalian," ucapnya memperkenalkan diri.


"Selamat datang Rumi, silahkan duduk di sana!" pak Ilham meminta Rumi untuk duduk di bangku tak jauh dari Darwin.


"Nama pun juga sama, sebenarnya apa yang terjadi? Jika saat itu mimpi? Kenapa mimpi itu bisa ikut ke dunia ini?" batin Rein bingung memikirkan semua yang terjadi di dalam hidupnya.


Rein memperhatikan wajah Rumi. Sangat mirip dengan Rumi yang ada di dunia vampir saat itu. Ketika pandangan mereka bertemu, Rumi tersenyum manis ke arah Rein.


Gadis itu tidak membalasnya. Dia segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Menyibukkan dirinya membuka buku pelajaran yang akan di ajarkan oleh guru berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2