Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Bakat Tersembunyi


__ADS_3

Semua murid bertepuk tangan setelah Rumi dan pak Ren selesai menampilkan sebuah lagi.Kini gadis itu telah kembali ke tempat duduknya lagi.


Banyak pria yang memuji dirinya. Selain cantik ternyata Rumi memiliki suara yabg bagus.


"Rumi, bolehkah kita lebih dekat sebagai teman? Suaramu benar-benar bagus!" pinta salah satu murid pria di sana.


"Benarkah?Terima kasih. Kita bisa kok berteman," ucap Rumi sambil menyelipkan senyum manisnya.


"Baiklah, siapa yang ingin menampilkan sesuatu. Bisa maju ke depan!" ucap pak Ren.


Semuanya saling memandang ke arah yang lain. Berharap ada yang mau melakukan pertunjukan bakat mereka.


Tiba-tiba Darwin berdiri, semua orang tampak terkejut. Sangat jarang pria itu ikut aktif dalam acara seperti ini.


"Darwin?" para murid bertanya-tanya.


"Iya ada satu murid yang maju. Silahkan Darwin," ucap pak Ren.


Darwin mengambil gitar dari pak Ren. Lalu duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan.Semuanya tampak hening ketika pria itu tengah bersiap memainkan alat gitarnya.


Darwin menatap wajah Rein, semua orang menyadarinya. Rein menjadi canggung,karena Darwin tidak berhenti melihat ke arahnya.


Suara gitar mulai terdengar, Darwin menyanyikan sebuah lagu tentang anak muda yang tengah jatuh cinta. Tidak ada yang menyangka Darwin bisa memainkan gitar dan memiliki suara yang bagus.


Rora menyadari Darwin tidak berhenti menatap Rein. Gadis itu mulai menggoda Rein.


"Ehem, kayaknya dia jatuh cinta sama kamu deh Rein?" bisiknya di telinga Rein.


"Apa sih Ra? Gak mungkin lah!" balas Rein.


"Jangan salah, tatapannya udah kelihatan kali. Dari tadi melihat ke arahmu terus," goda Rora lagi. Wajah Rein mulai merona. Untungnya saat itu masih gelap.Jadi tidak ada orang yang menyadarinya.


Tatapan mata pria itu masih tidak lepas dari Rein. Begitu sebaliknya, entah apa yang tengah mereka rasakan. Rein seperti terjatuh kembali pada pria yang sama meski di dua dunia yang berbeda.


Rasa rindu Rein pada kekasihnya semakin besar. Ketika melihat Darwin membawakan lagu tentang sepasang kekasih itu.


Plok plok plok


Suara tepuk tangan memeriahkan pertunjukan Darwin,ketika pria itu telah selesai menyanyikan sebuah lagu.

__ADS_1


"Wah sangat luar biasa, terima kasih Darwin!" ucap pak Ren.


Darwin kembali ke tempatnya duduk, matanya tak mau lepas dari Rein. Ketika sudah berada di tempatnya. Darwin tersenyum tipis pada Rein.


Gadis itu menjadi salah tingkah. Tapi untungnya dia bisa menahan diri agar tidak terlihat memalukan di hadapan pria itu.


Para gadis banyak yang memuji Darwin. Atas penampilan yang bagus dari pria itu.


"Sekarang ada satu lagi acara yang paling di nantikan oleh kita," pak Ilham kini yang berbicara.


"Apa itu pak?" tanya salah satu muridnya.


"Bapak akan menunjukkan satu permainan. Disini ada dua bola kecil, nanti bapak akan melemparkannya ke sembarang arah sambil kedua mata bapak tertutup. Dan dua orang yang mendapat bola itu. Harus maju ke depan dan menerima tantangan dari kertas di dalam toples ini." Pak Ilham menunjukkan toples bening berisi kertas kecil yang telah di gulung.


"Wah tidak sabar deh!" ucap Rora menantikan acara berikutnya berlangsung.


Pak Ilham mulai menutup matanya dengan kain kecil yang dia ikat di kedua mata. Lalu melempar bola ke sembarang arah.


Kali ini Rora yang mendapatkan bola itu. Dan satu pria yang berseberangan dengannya. Joi teman satu kelas mereka,pria yang sangat misterius di dalam kelas. Tak pernah ada yang berbicara dengan pria itu.


"Wah siapa yang mendapatkan bolanya?" tanya pak Ilham.


"Saya pak!" jawab Rora.


Joi berdiri, semuanya tampak terdiam ketika pria itu berdiri.


"Wah Joi dan Rora. Silahkan maju ke depan!" pinta pak Ilham.


"Silahkan kalian memilih salah satu kertas di dalam toples yang telah bapak acak ini," pintanya lagi.


Kali ini Rora yang mengambilnya. Dan memberikan kepada pak Ilham.Joi tampak bersikap biasa saja.


Pak Ilham menerima kertas kecil tadi. Lalu segera membukanya. Dia membaca tulisan di dalam kertas itu dengan lantang.


"Wah tantangannya adalah kalian berdua harus berdansa bersama," ucap pak Ilham.


"Wah mereka harus berdansa!" para murid yang lain bersorak ke arah keduanya.


Rora menatap Joi dengan ragu. Gadis itu tampak takut dengan Joi, karena mereka tidak sedekat itu.

__ADS_1


Joi pun jarang berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya termasuk Rora.


Joi menatap Rora dengan wajah dingin. Rora menjadi ketakutan.


"Pak kalau menolak tantangan ini. Apakah ada hukumannya?" tanya Rora.


"Ya jika menolak maka kalian harus di hukum!" jawab pak Ilham.


"Kalua begitu saya memilih di hukum saja pak!" jawab Rora takut.


"Kamu yakin?"


"Tidak, kami akan berdansa!" ucap Joi setelah lama tidak mengeluarkan suaranya.


Semua orang yang mendengar itu terkejut. Mereka menantikan penampilan Rora dan Joi,si pria misterius dalam kelas.


Joi menggenggam jari-jari tangan kanan Rora dengan tangan kirinya. Lagu pengiringnya siap di putar. Tangan kanan Joi berada di punggung Rora.


Joi juga meminta gadis itu untuk meletakkan tangan kirinya di pundak pria itu.


"Joi, aku tidak bisa berdansa!" bisik Rora.


"Ikuti saja langkahku! Jangan tegang!" balas Joi singkat. Rora menganggukkan kepalanya. Rasa takut dan juga gugup tengah dia rasakan.


Rein bersorak untuk Rora, dia sangat menikmati acara malam itu. Di temani hangatnya api unggun di depan mereka.


Lagu sudah diputar, Joi membawa Rora untuk berdansa. Gadis itu mengikuti langkah kaki Joi. Diam-diam ternyata pria itu mahir dalam berdansa.


Semua orang berdecak kagum pada keduanya. Mereka larut dalam lagu yang telah di putar.


Akhirnya lagunya telah habis, Joi dan Rora berhenti berdansa.Keduanya membungkuk kepada para penonton. Sama seperti saat setelah selesai pertunjukan dansa di panggung besar.


Semua orang bertepuk tangan untuk keduanya. Rein juga sangat senang atas penampilan Joi dan Rora.


"Wah terima kasih Joi dan Rora. Ternyata di kelas ini banyak sekali bakat yang terpendam, bapak salut dengan kalian semua!" ucap pak Ilham memuji.


Rora dan Joi kembali ke tempat duduk masing-masing. Rora tampak memperhatikan Joi dari tempatnya duduk.


"Cieh yang tengah senam jantung. Dia lumayan juga loh!" ledek Rein pada Rora.

__ADS_1


"Rein! Jangan gitu dong!" Rora tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Dia baru kali ini berdansa dengan seorang pria. Meski gerakannya kaku, tapi Joi tetap membawanya berdansa dan menikmati lagu yang telah di putar.


Diam-diam Rora kagum pada Joi. Dia ingin mengenal pria itu lebih dekat lagi. Ketika di dalam kelas Joi terlalu tertutup pada siapapun. Alhasil tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan pria itu.


__ADS_2