Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Sakit Hati


__ADS_3

Rein merasa tak tenang, sudah beberapa hari Darwin belum juga kembali. Rein takut jika terjadi sesuatu padanya.


Sayangnya Rein tidak bisa melakukan telepati pada Darwin. Sehari ini dia hanya merenung di kamar.


"Kenapa belum juga kembali sih? Apa terjadi sesuatu padamu?" gumam Rein khawatir.


"Sebaiknya aku ke sana saja.", Rein memutuskan untuk menyusul Darwin dengan berteleportasi seperti sebelumnya.


Rein mencoba memfokuskan dirinya. Mengingat wajah Darwin, entah pria itu dimana. Jika Rein bisa mengingatnya dia akan ada di dekat Darwin.


Fokus Rein terganggu ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Rein mendesah kesal,dia batal melakukan teleportasi.


"Masuk lah!" ucapnya dengan nada sedikit kesal.


"Hai Rein, maaf mengganggumu!" ucap pangeran Guen. Pria itu sering sekali mengunjungi Rein ketika Darwin tidak ada bersamanya.


Lama-lama Rein merasa risih dengan kehadiran pria itu. meski dia sangat menyukai wajahnya. Namun perhatian yang berlebih dari pria itu membuatnya tidak nyaman.


"Ada apa pangeran Guen?" tanya Rein malas.


"Malam ini ada pesta lampion. Mau kah yang mulia saya ajak menontonnya," pinta pangeran Guen.


Rein tampak berfikir terlebih dahulu. Dia harus menemui Darwin sekarang.Jika harus pergi ke pesta lampion. Maka dia tidak akan merasa tenang.


"Maaf pangeran, sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu," ucap Rein menolaknya.


"Ah begitu ya. Baiklah tidak masalah yang mulia." Pangeran Guen merasa kecewa. Karena setelah kepergian Darwin, Rein lebih sulit di temui.

__ADS_1


"Pangeran Guen, bisa kah kamu keluar, aku sangat lelah. Ingin tidur lebih awal," ucap Rein mencari alasan untuk mengusir pangeran itu.


"Oh, baiklah. Aku akan kembali ke kediamanku, selamat beristirahat yang mulia," pangeran Guen akhirnya pergi juga.


Rein menghela napas lega,karena pria itu sudah pergi. Dia segera kembali melanjutkan teleportasinya.


Sedetik kemudian Rein berhasil berpindah ke tempat dimana Darwin berada. Tapi hanya hamparan ilalang yang ada di depan Rein saat ini.


"Yang benar saja? Mengapa Darwin berada di tempat seperti ini?" gumam Rein sambil berjalan menyusuri ilalang itu.


Ketika menyibak ilalang yang tingginya lebih dari tinggi tubuh Rein. Mata gadis itu terbelalak karena dia melihat Darwin tengah bersama seorang gadis.


Yang lebih mengejutkan lagi, Rein melihat sesuatu yang membuat hatinya sakit sekali.


Darwin tengah berpelukan dengan seorang gadis yang Rein tidak kenal. Gadis itu sangat cantik, mereka hampir berciuman.


Darwin terkejut melihat Rein yang tiba-tiba ada di sana. Dia segera melepas pelukan dari Rumi.


Gadis itu adalah Rumi, untuk kedua kalinya Darwin bertemu di tempat yang sama.Sudut mata Rein berembun, dia mencoba menahannya.


"Rein!" panggil Darwin, ketika gadis itu berlari menjauh dari keduanya.


"Darwin tunggu!" Rumi mencoba mencegah Darwin agar pria itu tidak pergi darinya.


"Lepas!" ucap Darwin dengan sikap dinginnya. Dia ingin mengejar Rein, ingin menjelaskan pada gadis itu apa yang sebenarnya terjadi.


Dia menghempaskan tangan Rumi begitu saja. Lalu mengejar Rein yang sudah cukup jauh berlari.

__ADS_1


Rein yang berlari di antara ilalang yang tinggi,tak lagi bisa menahan air matanya. Kedua pipinya mulai basah karena air dari mata gadis itu keluar dengan cepat.


"Sia-sia aku mengkhawatirkannya, ternyata di sini dia tengah bermesraan dengan gadis lain. Benarkah yang hari itu kamu katakan pada Guen?" gumam Rein. Hatinya terasa hancur,dia tidak ingin mempercayai Darwin lagi.


"Semua pria memang brengsek!" umpatnya. Rein sudah sampai di sebuah bangunan kota. Kakinya berlari tanpa tujuan.


Darwin mengejar Rein, dia mencari ke segala arah gadis itu. Tapi karena cukup jauh dia akhirnya kehilangan jejaknya.


"Rein, jangan salah paham!" gumamnya khawatir dengan keadaan Rein. Dia menyalahkan dirinya karena tidak memberitahu Rein tentang Rumi.


Karena kelelahan Rein berhenti di sebuah gang sempit di dalam kota. Dia terduduk di tanah dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Dia tengah menangis, mengingat selama ini ketika gadis itu bersama Darwin.


"Kenapa aku harus jatuh cinta kepadanya?" batin Rein menyadari kesalahan yang dia lakukan adalah membiarkan hatinya jatuh pada Darwin.


"Sesakit itu kah?" suara seseorang membuat Rein waspada. Dia segera berdiri dan menghapus air mata di kedua pipinya.


"Kamu siapa?" tanya Rein takut.


"Jangan takut, aku tidak akan mengganggumu. Namaku Zeun, siapa namamu?" tanyanya.


"Zeun, aku tidak peduli siapa kamu? Tolong pergilah, jangan menggangguku!" ucap Rein dingin. Dia tidak mau mempercayai pria lagi.


Zeun mendekati Rein, gadis itu tidak bisa menggerakkan badannya. Seperti tengah di kendalikan oleh Zeun.


"Mau apa kamu?" tanya Rein semakin ketakutan.

__ADS_1


Zeun menyentuhkan jari telunjuknya pada dahi Rein. Tiba-tiba pandangan Rein menjadi gelap. Dia jatuh pingsan setelah pria itu menaruh sesuatu di dalam kepala Rein.


__ADS_2