
Beberapa bulan cepat berlalu. Rein sudah mengalami banyak pengembangan dalam pelatihannya.Karena Darwin dengan sabar membantu gadis itu.
"Sekarang kamu siap untuk kembali ke kota?" tanya Darwin.
"Ya aku siap!" keduanya kini tengah berada di tepi tebing. Memandang hamparan lampu yang jauh di sana. Di kota dari bagian kerajaan milik ayah Rein.
"Ayahanda, Rein akan merebut kembali hak milik kita!" ucapnya dengan penuh semangat.
"Bagus,hancurkan mereka yang hendak membunuhmu!" Darwin memberi semangat padanya.
"Baik!" Rein sudah memiliki daftar hitam orang-orang yang akan menjadi targetnya.
Mereka berangkat ke kota hari ini. Masih dengan tampilan yang sama. Memakai jubah dan juga topeng. Keduanya berangkat ke sana.
Darwin harus sekalu menyembunyikan aura vampirnya. Agar tak menimbulkan hal-hal yang tidak di inginkan.
Mereka dengan cepat sudah sampai di kota. Keduanya tengah berada di kerumunan para warga setempat. Rein merasa lapar, meminta Darwin untuk berhenti sebentar di salah satu rumah makan di kota.
"Kalian dengar tidak, ada kabar buruk?" ucap salah seorang warga yang tengah memesan makanan. Meja mereka tak jauh dari meja Rein dan Darwin berada. Dia bersama teman-temannya.
"Kabarnya, penguasa vampir hilang dari tempatnya tersegel!" beritahu pria itu.
"Apakah itu benar?Kamu dapat berita dari siapa?" tanya salah seorang dari mereka.
Darwin dan Rein mendengar dengan jelas ucapan mereka.
"Orang yang bisa keluar dari hutan terlarang itu. Vampir itu tersegel di sana. Namun tidak ada di peti matinya," jelasnya lagi.
"Halah,kamu kira kami percaya, kalau benar orang itu bisa keluar dari hutan terlarang dalam keadaan hidup. Dia pasti sangat hebat!"
"Tapi nyatanya selama ini tidak ada orang yang masuk ke sana dalam keadaan hidup bisa keluar kan?" yang lain menimpali.
"Benar, pasti kabar itu hanya kabar burung saja!" ucap yang lain. Tidak ingin mempercayai berita bohong.
"Tapi jika benar, pasti guru besar akan menangkapnya kan? Dia kan sangat hebat di negeri ini," mereka belum juga selesai membicarakan tentang vampir.
"Benar, jangan khawatir kan tentang hal itu."
Darwin yang mendengar mereka merasa jengkel. Ternyata dimata mereka vampir sangatlah buruk. Kedua tangannya sudah mengepal erat.Rein yang menyadarinya segera memegang tangan Darwin.
"Tenanglah, mereka akan curiga jika kamu memperlihatkan aura vampir mu," bisik Rein.
Darwin akhirnya tenang kembali. Dia tahu harus bisa menahan dirinya untuk sementara. Sambil mencari inti batu biru miliknya. Agar kekuatan yang dia miliki bisa kembali sepenuhnya.
Brak!
Suara seseorang memukul pintu terdengar di ruang rumah makan itu. Semua mata tertuju pada pria dengan pakaian mewah yang duduk di meja bagian tengah.
"Kamu ini pelayan kurang ajar! Begini ya cara melayani tamu!" teriaknya pada seorang wanita yang menjadi pelayan. Sepertinya pria itu sedikit mabuk.
Rein memperhatikan pria itu, ternyata dunia memang sempit. Rein mengenalnya, dia hanya bisa tersenyum sinis melihat kelakuannya.
__ADS_1
"Dasar pria brengsek!" umpatnya dengan suara pelan. Darwin mengerutkan keningnya mendengar umpatan dari Rein. Gadis itu bahkan tidak terbiasa mengatakan hal seperti tadi.
"Kamu mengenalnya?" tanya Darwin.
"Dia adalah anak dari paman kedua ku!" balas Rein,tatapan matanya penuh dengan kebencian.
"Bagaimana kalau dia menjadi target pertama kita?" usul Darwin.
Rein tampak berpikir sejenak. Tatapan mata keduanya bertemu. Seolah sedang saling menginginkan jawaban yang sama.
"Baiklah! Biar paman baikku itu terkejut. Kita serang secara diam tanpa melukainya. Namun bisa langsung membunuhnya, dan kita kirimkan mayatnya ke kediaman paman keduaku itu!" Rein tampak serius dengan ucapannya.
Darwin merasa puas telah melihat Rein yang penuh gairah memburunya. Bagi kehidupan di dunia ini, jika tidak kuat maka hanya akan di injak-injak saja.Darwin ingin Rein bisa menjadi kuat.
Setelah pelayan itu meminta maaf,pria bernama Dion pergi meninggal restoran itu. Rein dan Darwin juga segera membayar makanan dan pergi mengikuti Dion.
Dengan langkah terhuyung, Dion yang mabuk mulai berjalan ke jalanan sepi di persimpangan rumah penduduk.
"Hei siapa kalian?" tanyanya sambil menyeimbangkan diri agar tidak jatuh.
Rein berada di depan pria itu.Sedangkan Darwin tengah berada di atas genting salah satu bangunan di sana. Dia ingin menikmati cara Rein membunuh Dion.
Gadis itu mengeluarkan belati transparan dari tangan kanannya. Terlihat dengan jelas oleh Darwin. Namun tidak dengan Dion. Dia tidak bisa melihatnya karena kemampuan pria itu jauh di bawah Rein.
"Gadis yang sangat berbahaya!" batin Darwin.
"Kamu ini siapa?" tanya Dion lagi dengan nada setengah mabuk.
"Ke-kenapa tiba-tiba sakit sekali? Si-siapa kamu?" Dion perlahan terkapar ke tanah hingga nyawanya tak lagi berada di tubuhnya. Rein kemudian segera melompat untuk bergabung dengan Darwin.
"Apakah kamu puas melihatnya?" tanya Darwin.
"Sayang sekali, kamu langsung membunuhnya. Jadi sedikit membosankan. Seharusnya kamu perlahan menyiksanya!" ucap Darwin.
"Benar, tapi dia hanyalah musuh kecil bagiku. Ada target kedua yang pantas kita siksa!" Rein menatap mayat Dion yang belum seorangpun melihatnya.
"Mari kita kirim dia ke rumahnya?" Darwin menawarkan bantuan bagi Rein untuk mengantarkan mayat itu secara cepat tanpa ada yang melihatnya.
"Lakukanlah! Rumahnya ada di sana!" Rein menunjuk sebuah atap bangunan tak jauh dari mereka sekarang.
"Baiklah, saatnya bekerja. Aku sudah sangat lapar!" ucap Darwin. Rein sudah paham apa yang tengah pria itu inginkan.
Segelas darah segar darinya, dia harus setiap hari memberikannya pada Darwin. Agar pria itu tetap tenang.
Dalam sekejap, Darwin mengantar mayat Dion ke depan rumahnya. Lalu segera kembali ke samping Rein yang masih berdiri di atas atap tadi.
"Selesai! Mana darahnya?" Darwin kini seperti kucing yang tengah menggelayut manja untuk meminta makanan.
Rein mengambil belati miliknya, kali ini belati besi. Dia menggoreskan belati itu pada lengannya. Darah segar keluar dari luka itu. Darwin segera menghisapnya. Rein harus menahan sakit.
Setelah puas, Darwin menutup kembali luka di lengan Rein. Dan gadis itu kembali seperti semula. Tak lagi merasa sakit.
__ADS_1
"Apa kamu mau menonton pertunjukan yang menarik itu?" tanya Darwin pada Rein.
"Tidak perlu, kita hanya perlu mendengarkan saja para orang-orang disini membicarakan mayatnya," jawab Rein, seperti tidak tertarik dengan kematian Dion.
"Baiklah, kemana kita pergi kalau begitu?" tanya Darwin sambil memainkan rambut pirang milik Rein.
"Ke tempat target kedua!" jawab Rein.
"Mari kita ke sana!" Darwin berbisik di telinga Rein. Gadis itu menjadi terbiasa dengan tingkah aneh Darwin. Dan menganggap pria itu hanya sedang menggodanya saja.
Tapi Rein tidak memperdulikannya. Dia segera melompat ke atap bangunan yang lain. Menuju ke rumah target keduanya.
Di depan rumah milik keluarga Dion. Salah seorang pelayang berteriak histeris ketika melihat ada mayat yang tergeletak di depan pintu gerbang.
"Tuan, nyonya! Teriaknya sambil berlari ke dalam rumah. Pelayan wanita itu sangat ketakutan.
"Ada apa sih? Teriak-teriak dari tadi!" tanya ayah dari Dion.
"Di luar tuan,di luar!" ucap pelayan itu sambil terengah-engah.
"Di luar kenapa?"
Ayah Dion ikutan panik melihat pelayannya yang ingin mengabarkan sebuah hal buruk.
"Di luar ada tuan muda Dion, tapi dia!" pelayan itu ragu-ragu ingin memberitahu tuan besar tentang apa yang dia lihat.
"Dion kenapa?" tanyanya.
"Tuan lihat sendiri saja, saya takut tuan!"
"Ada apa sih sayang?" tanya sang istri.
"Entahlah pelayan ini bilang di luar ada Dion, sebaiknya kita lihat dulu saja!"
Ketiganya segera ke luar rumah. Melihat apa yang terjadi.
"Dion!" teriak sang ibu. Wanita itu mendekati Dion yang terbaring di tanah dengan posisi menelungkup. Dia membalikkan tubuh Dion.
Namun mereka sangat terkejut karena tubuh Dion sudah memucat. Dengan matanya yang terbuka seperti menahan sakit.
"Apa, apa yang terjadi padamu Dion?" tanya ibunya sambil menggoyang tubuh Dion.
"Coba ayah cek dulu!" sang ayah mengecek denyut nadi milik anaknya.
"Dion sudah meninggal!" ucapnya. Sang istri terkejut dan hampir pingsan.
"Nyonya!" si pelayan memapah tubuh nyonya nya.
"Siapa? Siapa yang membunuhnya?" tanya wanita itu dengan suara terisak.
"Tidak ada luka di tubuhnya, ini sangat aneh!" sang ayah merasa ada kejanggalan pada mayat sang anak.Tapi dia tidak tahu apa yang terjadi padanya.
__ADS_1