
Darwin berlari kecil mengikuti langkah Rein. Gadis itu tampak tidak memperdulikan keberadaan Darwin yang ada di dekatnya. Darwin seperti seorang pria yang tengah membujuk kekasihnya agar tidak lagi salah paham.
"Rein,dengerin dulu penjelasan ku! ucapnya sambil terus mengikuti Rein. Gadis itu masih merasa kesal pada Darwin setelah apa yang dia lihat kemarin.
Rein berhenti dan berbalik badan. Dia menatap serius wajah Darwin. Wajah yang sebenarnya sangat dia rindukan. Dia ingin sekali memeluknya saat ini.Namun urung melakukannya.
"Penjelasan tentang apa Darwin?" tanya Rein tenang. Raut wajahnya tidak menunjukkan rasa berminat sama sekali.
Dia tidak ingin menangis lagi,apalagi sampai terlihat menyedihkan di hadapan Darwin.Pria itu memegang kedua tangan Rein. Menatapnya penuh harap.
"Tentang yang kamu lihat kemarin, aku dan Rumi tidak memiliki hubungan apapun lagi sekarang Rein." Darwin tidak tahu bahwa penjelasannya itu malah membuat luka Rein semakin menganga. Hatinya mulai terusik kembali.
"Jadi gadis itu bernama Rumi,dan mereka pernah berhubungan sebelumnya?" batin Rein kecewa.Rein perlahan mencoba menepis kedua tangan Darwin dari tangannya.
"Tidak Darwin,kita tidak ada hubungan apapun. Kamu tidak perlu menjelaskannya, aku baik-baik saja," Rein mencoba tersenyum ketika selesai mengucapkan kalimat itu.
Darwin merasa ada yang aneh ketika mendengarnya. Dia tidak tahu bahwa Rein tengah terluka meski terlihat baik-baik saja.
"Kembali lah ke istanamu, hari ini aku ingin sendiri. Ada hal penting yang harus aku lakukan!" pinta Rein.
"Kamu mengusirku?" tanya Darwin keberatan.
"Tidak, bukan begitu. Tolong mengertilah. Sekarang aku adalah ratu di sini. Pekerjaanku banyak Darwin," ucap Rein tegas.
"Baiklah, aku mengerti!"
Rein segera berbalik badan dan pergi meninggalkan Darwin sendirian di sana. Ada tempat yang ingin Rein tuju. Hanya dirinya dan sang ayah yang tahu tempat itu.
Darwin juga berjalan ke arah berlawanan dari Rein. Keduanya tengah berada dalam pikiran masing-masing.
Ruangan gelap dan tak pernah terjamah oleh siapapun. Di sisi kanan dan kiri terdapat ribuan senjata yang telah di simpan oleh sang ayah.
Rein berada di dalam kamar rahasia keluarga. Tapi hanya dia dan ayahnya saja yang mengetahuinya. Sang ibu bahkan sampai meninggal tidak mengetahui ruangan itu.
Rein mengambil sebuah belati kecil di samping kanannya. Dia melempar ke sembarang arah di dinding depan ruangan itu.
__ADS_1
Satu belati tidak cukup, Rein mengambil kembali belati yang lain. Melemparkan dengan kencang ke arah yang lain.
"Aaah!" teriaknya melampiaskan amarah. Terakhir Rein melempar belati yang lebih besar ke arah sebuah lukisan di dinding ruangan.
Dia menangis, hingga terduduk di lantai ruang yang dingin itu. Ketika tatapannya tertunduk ke bawah. Suara decitan terdengar dari arah depan. Tepat di belakang lukisan itu.
Ada ruang kecil yang terbuka. Rein segera menengadah untuk melihatnya. Dia terkejut karena baru kali ini melihat ada ruangan lain di dalam ruang rahasia milik ayahnya itu.
"Apa ini?" Rein sedikit merasa takut. Dengan api kecil yang dia ciptakan di telapak tangannya. Dia memberanikan diri memeriksa tempat itu.
Ruang itu berbentuk lorong panjang. Seperti jalan kecil yang tak berujung. Rein waspada, jika ada hal buruk di depannya.
Jarak yang sudah dia lewati sekitar sepuluh meter dari ruang utama. Langkah Rein terhenti ketika jalan itu tak ada lagi. Dia berhenti di sana. Mengamati tangga kecil menuju ke atas.
"Apa ada ruang rahasia lain lagi?" gumamnya bingung. Dia memberanikan diri menaiki anak tangga itu. Membuka dengan tangannya, penutup lantai yang ada di atas kepala.
"Wah indah sekali ruangan ini," ucap Rein tidak percaya dengan apa yang dia temukan.
Ada kamar kecil di sana. Seperti kamar anak-anak.
Ada deretan buku di atas rak kecil. Tersusun rapi dan tak ada debu sama sekali.
"Apa ini semacam sihir? Kenapa tidak kotor sama sekali." Rein tidur di atas ranjang kecil di sudut ruang itu.
Rasanya sangat nyaman, entah apa tujuan sang ayah membuat ruang kecil itu. Tapi saat ini memang cocok dengan suasana hati Rein. Dia ingin menyendiri di sana.
Fokus Rein tertuju pada sebuah kotak kecil di atas rak buku. Seperti tidak asing baginya.
"Apa itu?" Rein bangun dari ranjang dan meraih kotak kecil itu.
Dia kembali duduk dan membuka kotak kecil di tangannya.
"Ada gemboknya? Bagaimana membukanya jika tidak ada kunci?" gumam Rein mengamati sekitarnya. Barangkali ada kuncinya di sana.
"Tidak ada!"
__ADS_1
Rein lalu memperhatikan kembali kotak itu. Membolak-balikkannya.
"Kenapa lubang kuncinya seperti tidak asing bagiku?" Rein mencoba mengingatnya.
Dia lalu menarik liontin kalung yang dia pakai sejak kecil.
"Kenapa sepertinya ini sangat cocok dengan gemboknya?" Rein lalu mencoba menyatukan liontin di kalungnya dengan lubang gembok.
"Terbuka," ucap Rein,ternyata memang cocok.Dia segera memeriksa isi di dalam kotak itu.
Cahaya terang muncul dari dalam, sebuah permata berwarna putih muncul dari sana.
"Wah apa ini?" Rein semakin bingung.
"Aaah!" permata itu masuk secara paksa pada tubuh Rein. Dia sampai berteriak keras. Lalu pingsan di atas tempat tidur.
Darwin juga merasakan sakit yang sama seperti yang di rasakan Rein.
"Aaah! apa ini kenapa tiba-tiba sakit. Apa Rein sedang terluka?" gumam Darwin.
Dia bergegas mencari Rein ke kamar gadis itu. Namun ketika sampai di sana tidak menemukannya.
"Kemana dia?" gumam Darwin semakin khawatir padanya.
Rein kembali tersadar ketika hampir setengah jam jatuh pingsan. Kepalanya sangat pusing. Dia merasa ada energi yang lebih kuat masuk ke dalam tubuhnya.
"Apa itu tadi? Kenapa bisa masuk ke dalam tubuhku?" tanyanya khawatir jika suatu saat akan melukainya.
Rein memeriksa isi kotak itu lagi. Di dalamnya ada sebuah surat kecil. Dia mengambilnya dan membaca isi surat itu.
"Rein, jika suatu saat kamu sudah menerima batu permata putih ini. Maka Rein yang sesungguhnya sudah kembali. Batu itu adalah kekuatanmu, maafkan ayah yang menarik paksa dahulu. Karena saat itu kamu terlalu lemah untuk memikul beban berat. Kini kekuatan itu kembali kepadamu." Surat yang di tulis oleh ayahnya.
"Jadi selama ini ayah menyegel kekuatanku dalam batu permata tadi. Dan ketika aku membukanya kembali. Kekuatanku telah kembali," Rein bisa mengerti kekhawatiran seorang ayah saat itu.
Ingatan Rein perlahan kembali. Saat kecil Rein tanpa sengaja pernah melukai ibunya. Karena kekuatan yang dia miliki. Karena hal itu sangat membahayakan. Sang ayah menyegelnya.
__ADS_1
Setelah tersegel di dalam kotak itu. Rein seperti anak kecil biasa.Dia sering di ejek oleh saudara sepupu atau temannya karena tidak bisa melakukan sihir atau pun memiliki kekuatan yang lain.