
Esok hari telah tiba, persiapan mereka untuk jelajah hutan telah siap. Para siswa di harapkan untuk tidak terlalu jauh dari tempat mereka mendirikan tenda.
Mereka harus mengikuti tanda yang telah di siapkan oleh para panitia.
Rein dan Darwin, meski tidak mau bersama. Tapi keduanya tidak bisa menolaknya sekarang. Keduanya sudah bersiap dan membawa beberapa peralatan yang mungkin akan di butuhkan di jalan nanti.
"Anak-anak apakah kalian siap?"tanya pak Ilham akan membuka acara hari ini.
"Siap!" jawab mereka serentak.
"Baiklah mari kita mulai, bapak harap kalian bisa saling bekerja sama. Mencari benda-benda yang telah kami sembunyikan. Dan secepatnya kembali ke tenda. Jangan sampai tersesat!" pinta pak Ilham.
"Baik pak!" Semuanya tampak menanti acara di mulai. Kecuali Rein dan Darwin. Keduanya tidak begitu bersemangat untuk acara ini.
"Baiklah, silahkan kalian berjalan bergiliran. Jangan langsung semua," pak Ilham mengarahkan para siswa untuk bergantian masuk ke dalam hutan.
Darwin dan Rein berada di urutan terakhir. Langkah Darwin terlalu lebar untuk Rein kejar. Gadis itu tertinggal cukup jauh.
"Hei, Darwin! Jangan terlalu cepat melangkah nya!" ucap Rein kesal. Dia sudah kelelahan karena mengejar pria itu.
"Kamu aja yang jalannya kayak Keong!"balas Darwin pada Rein.
Rein hanya bisa menggerutu kesal sambil terus mengikuti Darwin agar tidak tertinggal.
Ketika mereka sampai di pertigaan jalan. Darwin berhenti di sana.
"Kenapa berhenti?" tanya Rein.
"Lihat tandanya? Sepertinya tertiup angin."
"Jadi kita akan memilih jalan yang mana?" tanya Rein.
Darwin mengamatinya lalu menunjuk ke arah sebelah kiri.
"Kamu yakin?" tanya Rein ragu.
"Tentu saja yakin. Kalau kamu takut jangan ikut aku!" ucap Darwin dingin.
"Iya-iya. Kamu satu kelompok dengan ku. Jika kita kembali tidak bersama. Pak Ilham pasti akan khawatir." Rein mengikuti langkah Darwin. Kali ini pria itu berjalan sedikit pelan, agar Rein tidak tertinggal.
Rein memperhatikan pohon-pohon di sekitarnya. Benar-benar mirip dengan hutan tempat Rein dahulu bertemu dengan Darwin.
"Apa ini benar-benar kebetulan?" gumam Rein dengan suara kecil.
"Kamu bilang apa?" tanya Darwin. Rein menggelengkan kepalanya.
Matahari hampir tenggelam, Rein sedikit takut karena hari mulai gelap.Dia menarik baju Darwin agar tidak terlalu jauh dari pria itu.
__ADS_1
"Darwin,beneran kita tidak salah jalan? Kenapa sepi sekali. Teman-teman juga tidak terlihat?" tanya Rein.
"Entahlah, kayaknya kita tersesat deh!" balas Darwin.
"Hah, tersesat. Gimana sih? Udah hampir malam lagi!" Rein mulai panik. Dia takut tempat yang gelap.
"Nyalakan senter mu saja. Jangan terlalu dekat denganku!" pinta Darwin.
Rein mengambil senter miliknya di dalam ransel. Memberikannya pada Darwin.
"Ini pakai punya ku dulu, nanti kalau habis ganti punya mu!" ucap Rein. Darwin menerimanya dan segera menyalakan senter itu.
Mereka memutuskan untuk kembali ke jalan tadi. Namun semakin malam semakin gelap. Rein dan Darwin tidak menemukan jalan yang tadi mereka lewati.
"Darwin, berhenti dulu! Aku lelah sekali!" pinta Rein, dia sangat lelah dan juga perutnya lapar.
"Kita istirahat sebentar di sini," Darwin berhenti melangkah dan duduk di bawah sebuah pohon besar.Rein juga ikut duduk di samping Darwin.
"Gimana nih? Kita benar-benar tersesat sekarang?"tanya Rein. Dia mengambil roti dari dalam ranselnya.
"Gimana lagi, kita tunggu sampai pagi dan baru berjalan lagi,"balas Darwin.
Rein membuka roti miliknya. Darwin menelan ludah karena lapar. Dia tidak membawa makanan apapun. Melihat Darwin yang menatap roti miliknya. Rein tahu bahwa pria itu pasti juga lapar.
"Ini untukmu," Rein membagi rotinya menjadi dua. Lalu memberikannya pada Darwin. Pria itu menerimanya dan segera memakan roti itu.
"Sama-sama," balas Rein.
Duar! Suara guntur mengagetkan Rein. Dia tanpa sadar memeluk tubuh Darwin.
"Maaf-maaf," Rein melepaskan tangannya dari tubuh pria itu.
"Sepertinya akan hujan? Kita harus mencari tempat berteduh!" ucap Darwin.
"Dimana? Ini kan hutan?" Rein mencoba mengingat-ingat. Jika hutan itu sama persis dengan yang ada dalam ingatannya. Berarti di tengah hutan pasti ada rumah kosong itu.
Rein berdiri lalu menarik lengan Darwin.Pria itu tampak bingung melihat Rein yang tiba-tiba menariknya.
"Mau kemana?" tanya Darwin. Rein tidak menjawabnya. Dia tengah fokus mencari letak tengah hutan itu.
Ketika hujan mulai turun, Rein bisa melihat ada rumah yang dia maksud.
"Benar-benar ada," ucapnya heran.
"Rumah kosong di tengah hutan? Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Darwin pada Rein.
"Nanti aku akan memberitahumu tapi sekarang kita harus ke sana terlebih dahulu. Karena hujan ini semakin lebat," pinta Rein.
__ADS_1
"Baiklah!" Keduanya segara menuju ke rumah kosong. Meski sedikit basah kuyup. Rein dan Darwin berhasil sampai di rumah itu.
Rein hendak membuka pintu rumah. Namun tangan Darwin mencegahnya.
"Kamu mau apa? Kita di luar saja!" ucap Darwin.
"Tenang saja, rumah ini tidak ada orangnya," ucap Rein. Darwin heran bagaimana Rein bisa tahu padahal mereka baru saja di sana siang tadi.
Keduanya benar-benar masuk ke dalam rumah. Rein sangat yakin rumah itu sama persis dalam dunia vampir yang dia alami.
Kejadian ini seperti terulang kembali. Sayangnya bukan dengan orang yang sama. Meski wajah Darwin yang bersamanya sama persis dengan kekasih Rein. Tapi sifat mereka sangat berbeda.
Darwin meletakkan senter di tangannya pada sebuah meja tidak terpakai. Agar keduanya bisa saling melihat sekitar mereka.
Darwin menarik lengan Rein. Menatap wajah gadis itu yang sudah basah kuyup.
"Bagaimana kamu bisa tahu di sini ada rumah? Siapa kamu sebenarnya?" tanya Darwin curiga pada Rein.
"Lepaskan!" Rein menghempaskan tangan Darwin.Dia lalu duduk di lantai tak jauh dari pria itu.
"Jika aku menceritakannya,mungkin kamu tidak akan percaya." Rein tahu bahwa ceritanya mungkin di anggap hanya karangan saja.
Apa lagi jika Rein mengatakan bahwa Darwin mirip dengan kekasihnya. Bagaimana Reaksi pria itu.
"Maksud kamu?" tanya Darwin.
"Aku pernah hidup di dunia vampir. Dan kembali ke dunia ini. Aku bisa melihat semua ini karena hutan ini sama dnegan hutan yang aku temui di dunia vampir itu." Jelas Rein. Darwin terdiam lalu tertawa keras.
"Kamu pandai mengarang juga ya Rein," ucapnya.
"Ini nyata Darwin. Bukan karangan ku saja. Dan kamu tahu, wajahmu ini!" Rein memegang kedua pipi Darwin dengan tangannya.
Darwin terdiam, keduanya saling memandang satu sama lain.
"Wajahmu ini benar-benar mirip dia.Darwin yang aku kenal sebagai penguasa kaum vampir." Rein tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya pada Darwin.
"Kamu makin ngaco deh!" Darwin melepaskan tangan Rein dari wajahnya. Jantung pria itu tiba-tiba saja berdetak tak karuan saat Rein tadi menatapnya. Kini Darwin mengalihkan pandangan dari gadis itu.
"Kamu gak akan percaya, tapi aku berharap bisa kembali dan bertemu dengan dia," Rein menjadi sedih. Dia teringat oleh Darwin. Ingin sekali memeluk pria itu. Tapi Darwin yang berada di sampingnya ini sangatlah asing baginya.
Darwin bisa melihat cinta Rein yang dalam.Meski dia belum bisa percaya dengan cerita gadis itu. Setidaknya perasaan Rein begitu nyata.
"Kalau kamu rindu, kamu boleh menganggap ku dia," ucap Darwin tidak tega melihat Rein menangis.
"Benarkah?" Darwin mengangguk. Rein tiba-tiba memeluk pria itu. Membuat jantung Darwin semakin tidak karuan.
"Tapi dia tidak menyebalkan seperti mu," ucap Rein. Darwin yang mendengarnya segera melepas pelukan gadis itu. Tapi ketika melihat Rein, ternyata gadis itu tengah pingsan.
__ADS_1
"Rein!" Darwin panik melihat Rein yang memucat. Gadis itu sepertinya kedinginan. Darwin bingung harus berbuat apa.