
Ratih terbangun, matanya langsung mencari sosok Pamungkas di sofa,
namun tak di temukan omnya itu.
Kembali di rebahkan kepalanya, di lirik jam di dinding, masih subuh begitu senyap.
Perasaan kosong dan menyiksa menghinggapinya lagi.
Ingatan ingatan buruk terus saja datang menyerbu.
Yang paling menyakitkan adalah saat ia menemukan suaminya dan sahabat baiknya itu sedang berduaan di kamar,
yah.. kamarnya dan Arga.
Dengan teganya keduanya melakukan hal yang menurut Ratih tidak pantas mereka lakukan disana.
Ia tau benar.. kalau suaminya itu memang suka minum dan berkumpul dengan teman temannya hampir setiap malam,
Ratih mentolelir hal itu karena Ratih berpikir suaminya itu pasti akan berubah dan mengerti bahwa hal tidak baik itu harus di hentikan suatu ketika nanti..
seiring waktu Arga menua.
Tapi harapannya tinggalah harapan,
ia tak mau lagi mengerti,
ia tak mau lagi menunggu perubahan yang entah akan terjadi atau tidak itu.
Pamungkas berdiri di simbol wayang yang sering di gunakan para wisatawan berfoto ria,
dirinya berdiri disana bukan untuk berfoto,
dirinya berdiri disana untuk mencari pemandangan terbaik saat matahari benar benar naik.
Baru tiga puluh menit Pamungkas berdiri disana, ia sengaja meninggalkan Ratih sejenak demi kewarasannya.
Entahlah.. melihat air mata Ratih secara langsung membuatnya tak karu karuan,
apalagi semenjak ada di sarangan keduanya sering terlibat sentuhan fisik yang tak di sengaja.
__ADS_1
Pamungkas adalah laki laki yang sangat menjaga jarak dengan perempuan,
dulu, ia memang sempat berpacaran, tapi dulu.. saat dirinya masih remaja.
Sekarang ia sudah cukup matang, bahkan beranjak tua,
ia enggan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, apalagi untuk urusan cinta.
Ia merasa cinta bisa mengacaukan semua rencana rencananya, merusak susana hatinya.
Cinta hanya melahirkan kebodohan dan ketidakberdayaan, itu yang ia tanamkan dalam pikirannya.
Meskipun ibunya dulu sering membenarkan pikiran yang menurut ibunya salah besar itu.
" Jangan sampai kenangan buruk dan kegagalan membuatmu menjadi orang yang apatis le..
ketika kau bertemu dengan orang yang tepat.. segalanya akan terasa lebih tentram.." itu kata kata ibunya saat Pamungkas selalu menolak calon calon yang di pilihkan oleh ibunya dulu.
Pamungkas membuka pintu kamar Ratih,
ia masuk dengan membawa berbagai macam cemilan yang tidak bisa di temukan di hotel.
" Selamat pagi om.." sapa Ratih duduk bersandar di tempat tidur.
" Maaf, om meninggalkanmu subuh tadi.. om pikir kau masih akan terlelap karena efek obat.." Pamungkas menyeduh teh hangat lalu menyodorkan nya pada Ratih,
" minumlah dulu sedikit.. setelah itu sarapan.. di hotel tidak ada bubur, jadi aku keluar untuk mencari bubur.." ujarnya dengan wajah lelah karena kurang tidur.
Ratih mengambil teh itu dan meminumnya.
" Bagaimana? merasa baikan??" tanya Pamungkas melihat wajah Ratih sudah tidak sepucat kemarin.
Ratih mengangguk,
" berkat om... maafkan Ratih ya om?"
" maaf kenapa?"
" karena sudah merepotkan om..?"
__ADS_1
mendengar itu Pamungkas melempar senyum,
" sudah tugasku sebagai pengganti orang tuamu..
inilah gunanya aku ikut, untuk menjagamu.." jawab Pamungkas.
" Sesampainya di malang periksalah lagi..
sesekali datanglah ke psikolog.."
" memangnya aku kenapa om?"
" kau sedang menanggung luka batin, jadi ada baiknya kau bercerita banyak pada seseorang yang mampu memberimu solusi yang terbaik.."
" apa om tidak bisa memberikan solusi? apa papa mama tidak bisa?"
" kami tidak tau seberapa dalam luka di hatimu..
karena kemampuan manusia untuk menanggung beban itu berbeda beda.."
Ratih terdiam,
Melihat Ratih terdiam Pamungkas mengambil bubur yang di belinya tadi.
" Makan dulu.. setelah itu minum obat.. setelah baikan kita kembali ke malang.." Pamungkas memindahkan bubur yang di belinya ke mangkok.
" Lho? aku mau ke tawangmangu dan solo om?"
Mendengar keponakannya itu bicara, Pamungkas langsung menoleh dan menatap Ratih, menghentikan kesibukannya memindahkan bubur.
" Lain kali, sekarang patuhlah.. kau itu tidak sesehat yang kau kira..
persiapkan saja kesehatan tubuh dan mentalmu agar stabil..
kalau semua masalahmu sudah selesai, kau boleh ke tawangmangu, solo atau kemanapun itu.."
" tapi om??"
" tidak ada tapi, jangan sampai aku menelfon mamamu dan mengatakan kalau kau sedang sakit,
__ADS_1
pastinya mereka akan berteriak kepadaku untuk membawamu pulang,
jadi patuhlah, akan ku biarkan kau sehari lagi disini untuk menikmati sarangan.." tegas Pamungkas tenang.