
" Kita pulang saja!" tegas Pamungkas, laki laki itu duduk sembari menatap lantai, ia tak mau memandang Ratih.
Ratih berdiri disamping pintu kamar, menghela nafas berat lalu bersandar,
terus di pandangi suaminya,
Ia tidak berkomentar, takut salah bicara dan memperburuk keadaan.
" Kau tidak mendengar ku?" tanya Pamungkas karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari istrinya.
" Aku mendengarkan mu mas.." jawab Ratih mendekat dan duduk disamping Pamungkas.
" Aku sudah kesini, tugasku sudah selesai bukan?" Pamungkas menatap istrinya.
" Tugas melepaskan beban masa lalu, apakah sudah..?" tanya Ratih pelan,
Pamungkas terdiam,
" Mas.. kau orang yang baik.. jangan biarkan dendam merusak hati dan pikiranmu.." Ratih mengelus punggung suaminya.
" Lalu dirimu? kau tidak sakit hati sudah dikhianati seperti itu?!" Pamungkas malah membahas masa lalu Ratih.
" Sakit, kecewa, trauma, andai laki laki itu bukan mas, aku tidak mau menikah lagi..
mas tau aku masih sering menangis ketika orang orang membicarakan Tias dan putrinya,
dalam hati aku iri, kenapa aku belum bisa juga menjadi seorang ibu..
tapi bukan berarti luka dan kekecewaan itu bisa mencegahku untuk tumbuh mas,
aku bersamamu sekarang..
aku bahagia,
aku sungguh sungguh bahagia,
Saking bahagianya.. aku sampai lupa kalau pernah sakit hati dan kecewa.." Ratih bersandar di lengan suaminya.
" Ayahmu sudah tua, kurasa dia sudah menerima balasan atas segala tindakannya.." lanjut Ratih,
" balasan apa?! hidupnya nyaman dengan gaji tiap bulan!" Pamungkas masih belum bisa mengusir kebenciannya.
__ADS_1
" Karena itu bicaralah pada om dan tantemu mas.. agar mas tau, apa yang dialami oleh ayahmu selama beberapa tahun ini.."
" tidak perlu!"
" kenapa tidak perlu?" Ratih mengangkat kepalanya dan memandang suaminya dengan sabar.
" Karena luka yang ibu tanggung lebih besar dari pada sakit yang ia derita sekarang?!" tegas Pamungkas dengan mata memerah,
" Kau mana tau Rat, kau mana tau.." ucap laki laki itu lirih,
" katakan mas, agar aku tau..?",
bukannya menjawab Ratih, Pamungkas malah menutup kedua matanya dengan telapak tangan kanannya.
" Ibuku.. Ibuku sangat mencintainya.." ujar Pamungkas bergetar, ia menahan air matanya.
" Cinta yang terlalu besar untuk seorang bajingan.." di kalimat terakhir Pamungkas tidak bisa lagi menahan air matanya, bahunya berguncang meski ia menutup kedua matanya.
" Ayah.. tidak pernah memelukku, sekalipun, mencium keningku ataupun memberiku pujian kecil seperti ayah ayah orang lain..
aku, aku hanya bisa ingat rasa dari pukulan ayah,
aku.. juga hanya bisa ingat, hampir setiap hari, tanpa ia bertanya ada uang atau tidak untuk makan,
ayah selalu marah dan mengatai ibu tidak becus,
kadang piring yang ada di hadapannya terlempar ke arah ibu, terkadang juga ke arahku, karena aku selalu berlari kearah ibu saat mendengar bentakan ayah yang keras.." ujar laki laki itu dengan luka yang seakan basah kembali,
luka dan kenangan kenangan buruk yang berusaha mati matian ia kubur kembali muncul, merangsek masuk, seakan tidak mau di usir jauh jauh dari ingatan Pamungkas.
" Pernah suatu hari ayah pulang, sepertinya ia kalah banyak berjudi,
entah apa yang ibu katakan pada ayah,
tau tau ibu di jambak dan di hempaskan ke lantai,
ibu di injak di hadapanku Rat.. saat aku lari dan memeluk ibu, bukannya berhenti, dia malah menginjakku juga.." air mata Pamungkas mengalir deras,
" Aku sering berharap, kalau aku ini bukan anak kandungnya,
karena dengan begitu, aku bisa memahami kenapa dia amat kejam terhadapku..
__ADS_1
tapi kenyataannya wajah kami begitu mirip..
aku benci, aku benci dengan kenyataan itu.." Pamungkas membuka matanya yang sedari tadi ia tutup dengan telapak tangannya, dan terlihatlah wajah yang biasanya tegar itu, kini basah oleh air mata.
" Yang paling tidak ku mengerti sampai sekarang adalah..
setiap dia marah,
setiap dia memukuli aku atau ibu,
dia selalu meludahi kami..
Seperti jijik pada kami, seperti kami ini kotoran..
seperti kami ini sudah membuat kesalahan yang besar padanya..
aku sungguh sungguh tidak mengerti..
apa salahku dan ibu sebenarnya..
kalau dia tidak mencintai ibu,
kalau memang ada perempuan yang menurutnya lebih baik dari ibu,
seharusnya dia melepaskan ibu dengan cara yang baik,
bukan merusak ibu,
dan setelah ibu rusak lahir batinnya..
bukan memperbaiki keadaan,
Ia malah meninggalkan ibu..
dengan beban yang berat..".
Baru pertama kali ini, seumur hidup Ratih, melihat suaminya menangis tersedu sedu.
Batin Pamungkas begitu nelangsa, sesungguhnya ia tidak menyimpan dendam, hanya saja..
Ia masih begitu tidak rela..
__ADS_1
Meski ibunya sudah di bahagiakan oleh ayah tirinya,
namun Pamungkas tau benar, di dalam hati terdalam ibunya, masih tersimpan cinta yang besar untuk ayahnya yang tidak pernah sadar seberapa besar dan tulus cinta ibunya itu.