
Ratih mengunci pintu cafenya, setelah memastikan sudah terkunci rapat dengan cara mendorong dorong pintu itu, Ratih berjalan ke parkiran, tentu saja mencari motornya.
" Ratih..?" suara yang familiar,
Ratih menoleh mencari asal suara.
" Kau?!" suara Ratih meninggi,
" ya aku, kenapa?!" suara Arga tak kalah tinggi.
" Pergi! aku tidak ingin bicara denganmu!" tegas Ratih mengeluarkan kunci motornya.
" Tidak ingin bicara padaku tapi menyuruh om mu mengawasi ku?! kau berniat balas dendam ya?!" Arga menarik lengan Ratih hingga kunci motor terjatuh.
" Sakit?!" pekik Ratih karena pergelangannya di tarik dan di genggam dengan keras.
" Jangan berteriak seperti aku menganiayamu saja?! aku bertanya, kau sengaja mengirim om mu agar satu kesatuan denganku?!" tidak hanya satu tangan, tapi dua tangan Ratih di pegang erat.
" Om ku?! om Pamungkas?!" tanya Ratih bingung,
" benar! om mu yang sudah bertahun tahun di luar jawa itu! kenapa dia tiba tiba dia pindah disini? banyak tempat lain selain malang?!!" Arga terlihat murka.
" Kau tidak waras?! mana aku tau urusan pekerjaan om ku! itu bukan suatu hal yang bisa ku atur?!" jawab Ratih tegas sembari menahan tangannya yang sakit.
" Itu bisa di atur jika om mu menginginkannya!"
" itu urusan om ku! kenapa kau menuntutku?!" sembur Ratih.
" Dia menekanku secara tidak langsung, dia mengawasiku seperti aku ini hewan buruannya di kantor,
dia om mu, bagaimana aku bisa berpikiran positive padamu?!"
keduanya bertatapan,
" kau lupa ya, kita sudah setahun lebih bercerai, hampir dua tahun, perut istrimu pun sudah terlihat,
pikir baik baik.. apa untungnya untukku membalasmu?
__ADS_1
jangankan membalas, melihat kalian saja aku muak!" sentak Ratih.
" Benarkah? kau muak karena masih mencintaiku bukan? kau marah karena cemburu pada Tias? kau marah karena Tias akan memberiku seorang anak? iya kan?!".
Kata kata Arga seperti pisau yang menghujam Ratih beberapa kali.
Benar, ia marah, benar benar tak terima saat tau bahwa Tias dengan mudahnya hamil.
Sementara dirinya yang sudah berusaha susah payah, sampai program hamil tetap juga tidak hamil.
Hatinya tak terima, benar benar tak terima, itulah yang menganggu pikirannya sehingga dirinya semakin kurus.
Ratih tak tahan lagi, meski sudah berusaha, air matanya tetap saja mengalir.
" Lepaskan aku?!!" Ratih berusaha melepaskan dirinya tapi tak mampu, skit di hatinya di tambah sakit di pergelangannya karena di cengkeram erat membuatnya terisak.
Melihat air mata Ratih, Arga yang masih mencintai Ratih tentu saja luruh hatinya, amarahnya musnah entah kemana.
Di peluknya Ratih erat,
" Maafkan aku.. aku sungguh sungguh masih mencintaimu.." ujar Arga dengan suaranya yang paling halus.
" Aku akan menceraikan Tias setelah dia melahirkan Rat.." ujar Arga lagi dengan suara penuh belas kasih.
" Aku tidak mau kembali lagi padamu.." ucap Ratih di tengah isakannya,
"aku tidak, tidak mau...." ucapnya lagi berulang ulang, suara Ratih di penuhi pedih.
" Aku tau apa yang kau pikirkan.. aku tidak masalah meski kau tidak memberiku keturunan Rat.. aku sungguh tidak masalah..".
Tangis Ratih menjadi jadi mendengar itu.
" Tenanglah Rat.. tenanglah.. aku sungguh sungguh,
aku akan memohon lagi ada orang tuamu.." Arga melepaskan pelukannya,
menyeka air mata di wajah Ratih dengan hati hati.
__ADS_1
lalu tanpa aba aba mencium bibir Ratih,
Ratih yang terkejut mendorong dada Arga, tapi Arga tidak mau melepaskan Ratih begitu saja.
Merasakan perlawanan Ratih yang begitu keras akhirnya Arga melepaskan Ratih.
" Plaakkk!" sebuah tamparan keras,
" kau sudah melewati batas!" sentak Ratih dengan air mata yang meleleh kembali.
" Meskipun aku di diagnosa mandul, aku tidak akan kembali pada pengkhianat sepertimu! kecuali kalau aku sudah gila!" ujar Ratih dengan keras.
" Kau begitu aku akan membuatmu jadi gila, agar kau kembali padaku?" Arga masih tidak menyerah meski pipinya sudah merah karena tangan Ratih.
" Aku hanya menikah secara agama dengan Tias, orang tuaku tidak pernah menyetujui Tias menjadi istriku,
sampai kapanpun kau menantu terbaik mereka,
bayangkan betapa senangnya papa mamaku jika kita rujuk kembali Rat?" Arga masih membujuk.
" Kau... mau pergi, atau ku teriaki maling?" Ratih sudah lelah mendengar kan kata kata Arga.
Arga menoleh ke kiri dan ke kanan,
" siapa yang akan menolongmu? menjelang senja begini.. mereka hanya akan mengira kita sepasang kekasih yang sedang bertengkar.." Arga kembali mendekat.
Ratih mundur dan mengambil helmnya,
" mendekat, kulempar helm!" ancam Ratih dengan posisi akan melempar helm itu pada Arga.
" Aku juga akan berteriak kalau kau mau memperkosaku kalau perlu!" Ratih sengit.
Arga menggeleng gelengkan kepalanya melihat Ratih yang berubah galak setengah mati itu.
Laki laki itu mundur,
" Baiklah.. tapi aku akan tetap berjuang.. aku tau kau masih mengharapkanku di dalam hatimu..
__ADS_1
pulanglah.. hati hati sayang.." Arga melempar senyum dan beranjak pergi menuju mobilnya yang ternyata di parkir jauh dari cafe.